Lupa Sandi?

Professor Radar dari Bandung ini Mendapat Penghargaan Leprid 2015

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Professor Radar dari Bandung ini Mendapat Penghargaan Leprid 2015

Indonesia memiliki segudang ilmuwan yang sudah diketahui dunia. Namun, tidak semua prestasinya diketahui masyarakat di dalam negeri sendiri. Di antara ilmuwan itu, tersebutlah nama Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Ph.D. Siapa sangka, Prof Josh, begitu dia akrab disapa, memiliki prestasi yang luar biasa.

Dia merupakan penemu radar satelit, pengamatan satelit, pengamatan bumi berbasis microwave remote sensing dan mobile satelite communications, dan pemilik paten di 118 negara. Tak hanya itu, Prof Josh juga merupakan penemu Circularly Polarized Synthetic Aperture Radar untuk pesawat tanpa awak, pesawat berawak, dan microsatelite.

Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Ph.D (kiri) memperlihatkan penghargaan Lembaga Prestasi Indonesia Dunia bersama Direktur Utama Leprid Paulus Pangka. Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Ph.D (kiri) memperlihatkan penghargaan Lembaga Prestasi Indonesia Dunia bersama Direktur Utama Leprid Paulus Pangka.

Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) pun mengapresiasi prestasi tersebut dengan memberikan piagam dan medali penghargaan kepada Prof Josh.

"Kita mengapresiasi prestasi yang telah dilakukan Prof Josh. Prestasi ini masuk di bidang teknologi," ucap Direktur Utama Leprid Paulus Pangka seperti dikutip dari Sindonews.com

Baca Juga

Paulus Pangka mengungkapkan, karya terbaru Prof Josh adalah Circulary Polarized Synthetic Aperture Radar (CP-SAR), sensor yang bisa dipasang pada pesawat tanpa awak (drone terbesar) bernama Josaphat Experimental Aircraft JX-1 dan microsatellite untuk monitoring permukaan bumi di masa depan.

"Sensor buatannya mampu menembus awan, kabut, asap, bahkan kelebatan hutan, serta tidak terganggu oleh pengaruh Faraday rotation di lapisan ionosfer dan perubahan posisi platform satellite," jelasnya.

Penemuan Prof Josh ini telah diakui oleh Jepang sebagai negara yang terkenal dengan perkembangan teknologinya. Ketika berumur 34 tahun, masih dengan status WNI-nya, Prof. Josh menjadi Pegawai Negeri Pemerintah Jepang dengan posisi Associate Professor (permanent) di Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University, Jepang.

Tidak hanya di Jepang, dia juga menjadi profesor/dosen tamu, reviewer, examiner, dan evaluator sejumlah instansi dan universitas di beberapa negara seperti Perancis, Korea, Cina, Iran, Mongol, Kenya, Bangladesh, Yordania, Mesir, dan Indonesia.

Selain itu, Prof Josh merupakan Pendiri Yayasan Pandhito Panji Foundation (PPF). Yayasan ini terdiri dari Pusat Penelitian Remote Sensing (RSRC), Pusat Penelitian Pendidikan (ERC), dan Pusat Penelitian Seni Rupa (ARC).

Penghargaan Leprid dirasa sangat pantas diberikan kepada Prof Josh karena kemampuannya yang telah mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.

"Prof Josh merupakan insan Indonesia yang layak diberikan penghargaan. Temuan-temuannya membuktikan bahwa Indonesia bukan negara kelas bawah, Indonesia itu luar biasa," ujar Paulus Pangka.

Sementara, Prof Josh mengaku sangat bangga mendapat apresiasi dari lembaga yang independen, dan baru seperti Leprid ini yang mengapresiasi prestasinya. "Semoga prestasi ini bisa mendorong orang Indonesia di Jepang dan negara lain untuk mencatat prestasi mereka di Leprid," imbuh pria kelahiran Bandung ini. Dia berharap, raihan prestasi ini senantiasa menjadi inspirasi yang dapat dikenang selama-lamanya.

Sumber: sindonews.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli50%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bermimpi mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas