Makan Di Kantin Ini Cukup Bayar Pakai Sampah

Makan Di Kantin Ini Cukup Bayar Pakai Sampah
info gambar utama

Masih ingat dengan Klinik Asuransi Sampah, dimana warga bisa menukarkan sampah sebagai alat bayar untuk berobat yang digagas oleh Dr. Gamal Albinsaid? Hal yang hampir sama juga ada di Semarang, Jawa Tengah. Bedanya, sampah disini ditukarkan untuk makan disebuah kantin. Namanya Kantin Gas Methan.

Kantin atau warung sederhana yang berdiri sekitar tiga bulan lalu ini adalah milik pasangan suami istri Suratmin (54) dan Suyatmi (42). Kantin ini terletak di area pembuangan sampah terbesar di Semarang. Ia dan istri memberanikan diri membuka warung makan lantaran melihat peluang banyaknya pemulung yang mengais sampah di TPA Jatibarang dimana lokasinya jauh dari warung makan.

Pada awalnya, sebenarnya warung ini adalah warung biasa seperti pada umumnya. Namun para pelanggan kebanyakan tidak bayar cash alias utang. "Saya lihat kok banyak yang kas bon. Kalau ngutang terus saya jadi kurang modal buat beli bahan makanan," ujarnya.

Berawal dari itu, ia lantas mendapatkan ide dengan barter sampah plastik. Sistemnya, pembeli membawa sampah plastik dan menimbang minimal 20 kilogram. Setiap kilogram sampah dihargai Rp400. Sehingga sekali menimbang dihargai Rp8.000. Nominal itu yang ditukar dengan makanan dan minuman sekali makan.

"Sampah plastik yang terkumpul lalu saya jual ke pengepul seharga Rp 500 per kilogram. Saya ambil untung Rp 100. Membantu sekalian dapat untung," ujarnya sembari tertawa. Tiap hari paling tidak ada 20 orang yang datang menukarkan sampah plastik. "Satu hari saya bisa dapat sekitar 300 kilogram sampah plastik," imbuhnya.

Wali Kota Semarang, Hendrar “Hendi” Prihadi, bahkan telah mencoba sendiri ‘Kantin Sampah’ tersebut, Senin (14/3). Ia menyantap sayur daun ketela dan pindang. "Rasanya top enak," kata Hendi.

Hendi ingin konsep ini bisa diterapkan di lokasi lain di Kota Semarang. Bisa diterapkan di tiap SKPD atau mungkin juga di balaikota. "Di Balaikota juga bisa. Ini Dinas Kebersihan dan Pertamanan sudah siap mengadopsi inovasi kantin milik bu Suyatmi," ujarnya kepada wartawan.

Perluasan pendirian kantin sampah ini, menurut Hendi cukup sederhana. Sejumlah tempat seperti kelurahan hingga kecamatan bisa membuat sistem kantin sampah ini dengan memanfaatkan sejumlah warung yang ada. Ia meyakini dengan itu akan mampu mendongkrak perekonomian warga sekaligus bentuk riil pemerintah memerangi limbah plastik.

Setelah pengelolaan sampah plastik melalui warung ini terwujud di beberapa wilayah, lanjut Hendi, tugas pemerintah selanjutnya adalah membuat akses agar sampah-sampah tersebut bisa dibeli oleh pengepul besar atau orang-orang yang mengolah sampah ini menjadi bernilai. "Kita juga akan fasilitasi supaya tempat yang dipakai untuk berjualan itu bisa dipakai secara aman dan normal. Agar masalah dengan hal-hal yang terkait penegakan Perda tak terjadi," jelas dia.


Sumber : jateng.tribunnews.com
Sumber Gambar : merdeka.com/parwito

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini