Sebagian dari kita sering, atau setidaknya mendengar atau membaca Indonesia Incorporated. Sebagian besar dari kita mungkin belum pernah mendengarnya, apalagi memahami maknanya. Indonesian Incorporated, atau Indonesia Inc memang bermakna luas, dan melibatkan berbagai elemen dan berbagai sektor, namun secara sederhana...Indonesia Inc seperti ...perusahaan besar bernama Indonesia.

Ritual di Larantuka yang Mendunia | floresexplore.com
Ritual di Larantuka yang Mendunia | floresexplore.com

Dalam ranah yang lebih kecil, Indonesia Inc disampaikan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya di Labuan Bajo, Flores (NTT) beberapa waktu lalu.  Waktu itu sang menteri mengingatkan delapan bupati di Flores yang dipimpin Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya, di Kantor Bupati Manggarai Barat, Labuan Bajo, untuk percepatan Badan Otoritas Pariwisata-nya (BOP), yang tugas utamanya, memastikan dan mengawal konsep 3A sebagai prasyarat pengembangan destinasi wisata utama. 

Caption (Sumber Gambar)

Menteri Arief mengatakan yang dimaksud 3A itu adalah Atraksi, Akses dan Amenitas. Soal Atraksi, tidak ada yang meragukan kualitas, keunikan, kehebatan NTT dengan ikon komodo. Termasuk di dalamnya Labuan Bajo, Komodo, Rinca, Wae Rebo sampai ke Ende yang punya danau Kelimutu, Alor, Larantuka, dan semua potensi wisata yang ada di pulau eksotis itu.

"Semua bagus-bagus, semua layak disebut kelas dunia," kata Arief.

Soal akses, Arief mengaku sudah mendapatkan komitmen dari Menteri Perhubungan Ignatius Jonan untuk menaikkan status Bandara Komodo, di mana landasan diperpanjang dan diperlebar sebagai syarat bisa didarati pesawat-pesawat langsung dari negara lain.

Diminta atau tidak diminta, kalau kebutuhan sektor pariwisata mensyaratkan infrastruktur perhubungan, sudah pasti akan dibangun negara.

"Ini yang sering kami sebut Indonesia Incorporated," jelas Arief Yahya.

Saat ini Bandara Komodo rata-rata mengangkut 600 orang setiap harinya. Kapasitas dan daya angkutnya harus dinaikkan untuk memenuhi target 500.000 wisatawan manca negara (wisman) setahun di kawasan itu mulai 2019 nanti.

Arief menjelaskan faktor akses itu mirip bandwidth dalam transfer data telekomunikasi yang dihitung dengan bit per second (bps). Kalau bandwidth-nya rendah, jangan berharap bisa uploaddan download data dan gambar dengan cepat, papar Arief.

Soal Amenitas, itu "pekerjaan rumah" yang harus segera dikebut. Jika target tahun 2019 kunjungan wisman ke Flores dengan ikon komodo, Labuan Bajo adalah 500.000, maka kapasitas kamar dan segala fasilitasnya pun harus sebanding, ujarnya.

Saat ini, daya tampung kamar hotel dan resort jauh dari cukup dan untuk membangunnya butuh waktu. Belum lagi kelengkapan untuk rapat, konferensi dan pameran, yang harus ada untuk menjadi destinasi berkelas dunia.

Amenitas ini mirip dengan server dalam teknologi komunikasi. Jika akses atau bandwidth sudah besar, tapi server  tidak cukup, maka data pun tidak bisa terkirim dan tersimpan dengan baik, jelasnya.

Mana yang harus didahulukan dua dari tiga A itu?

"Dua-duanya harus dimulai secara paralel! Tiga A itu adalah syarat sebuah destinasi bisa dipromosikan besar-besaran sesuai dengan target originasi. Itulah mengapa Kemenpar di awal tahun mengutamakan tiga (lokas) Bali, Jakarta dan Kepri (Batam-Bintan)? Karena di tiga tempat inilah yang paling siap dengan 3A-nya. Paling siap infrastruktur pariwisatanya," papar Arief.

Bali Baru
Arief Yahya mencontohkan Tanjung Kelayang Belitung, satu dari 10 "Bali Baru" yang sudah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata di era Presiden Joko Widodo, yang cepat diproses hanya dalam tiga bulan.

Pada Agustus 2016 nanti sudah ada groundbreaking beberapa jaringan hotel yang bertaraf internasional di sana.

"Bupati dan gubernurnya semangat dan agresif. Saya sering bilang, CEO commitment itu paling penting. Keseriusan pimpinan daerah itu paling strategis untuk percepatan sebuah kawasan itu jadi," kata Arief.

Lahan yang dikelola untuk KEK tahap I sudah diselesaikan 324,4 hektare dan sudah diserahkan lagi 757 hektare di Desa Juru Sebrang, untuk dibangun KEK lagi di Belitung.

"Dan sekarang gubernur menyiapkan lahan lagi 1.000 hektare di Bangka untuk KEK. Ini bisa menjadi pusat amenitas yang berkelas dunia, dan siap menampung wisatawan lebih banyak lagi," kata Arief.

Ketika 3A itu mulai berkembang, maka segala rupa promosi dan penjualan bisa dilakukan lebih gencar dan terarah. Kegiatan-kegiatan sport tourism seperti Tour de Flores juga bisa digarap lebih profesional, bisa menambah atraksi di Flores, sekaligus meningkatkan promosi destinasinya, ujarnya.

Akhirnya, Arief Yahya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pendukung acara TDF 2016 itu. Gubernur NTT, 8 Bupati, ISSI, para sponsor, media dan masyarakat luas yang mendukung sport tourism ini. Secara khusus dia juga berterima kasih pada PT Telkom yang membantu menyediakan akses informasi di enam media center di enam kota dari start hingga finis.

Menpar juga mendapat laporan, di Larantuka, Telkom memfasilitasi para pelajar dengan jaringan Wi-Fi berkecepatan 100 Mbps sehingga memudahkan mereka mengakses internet dan mempublikasikan keindahan kotanya. Telkom memberikan akses internet mobile dari Telkomsel berupa layanan 4G LTE di Larantuka dan Labuhan Bajo.

"Makin banyak yang upload ke media sosial, makin membuat TDF 2016 nge-hits, makin memperkenalkan Flores dan promosi Komodo Labuan Bajo yang mendunia," ungkap Arief mengapresiasi PT Telkom.

(dari berbagai sumber)

Gambar utama : Kaskus

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu