Berkat Alat ini, Dua Inovator Muda Asal Tarakan Raih Emas Di Tiongkok

Berkat Alat ini, Dua Inovator Muda Asal Tarakan Raih Emas Di Tiongkok

Berkat Alat ini, Dua Inovator Muda Asal Tarakan Raih Emas Di Tiongkok

Pelajar asal Indonesia kembali raih prestasi tingkat dunia. Dua pelajar asal Tarakan yang lolos dalam National Young Inventor Awards (NYIA) yang diselerenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil membawa pulang medali emas dari Tiongkok setelah menjuarai ajang International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2016.

Dua pelajar tersebut adalah Feriawan Tan dan Aan Aria Nanda. Keduanya berasal dari SMAN 1 Tarakan yang mampu menciptakan sebuah alat deteksi kelayakan udara bernama D'Box CC. Alat sederhana dan cukup praktis tersebut berhasil memukau para juri IEYI sehingga pantas mendapatkan medali emas.

IEYI 2016 Gold Medal D-Box CC, Aan Aria Nanda dan Feriawan Tan, SMAN 1 Tarakan

A photo posted by Kompetisi LIPI (@kompetisilipi) on

D'Box CC merupakan akronim dari Detector box for CO and CO2 yang berfungsi untuk mendeteksi, mengindikasi dan memberikan peringatan tentang kualitas udara disekitar alat tersebut. Berkat fungsi tersebut, manusia yang membaca hasil deteksi D'Box CC akan mengetahui apakah udara yang dihirupnya layak atau tidak.

Keunggulan alat ini terletak pada kepraktisannya yang memang didukung oleh ukurang yang cukup kecil. Dimensinya hanya sekitar 15x9cm dengan berat tidak mencapai 1kg.

Sejatinya, alat ini sebagaimana dijelaskan Feriawan dan Aan kepada Radar Tarakan, dibuat berdasarkan permasalahan kabut asap yang beberapa waktu lalu melanda Indonesia.

“Kami baca-baca di internet dan literatur, bahwa bencana asap atau pencemaran udara hampir dialami oleh semua negara. Kesadaran masyarakat pun akan kualitas udara yang dihirup masih sangat rendah, karena tidak tahu kondisi udara sekitar. Oleh sebab itu kami membuat D’box CC,” ujar Feriawan.

Keberadaan alat yang diciptakan oleh Feriawan dan Aan merupakan hal yang penting sebab di Tarakan ternyata belum terdapat instansi yang memiliki alat pengukur kualitas udara. Bahkan Aan mengungkapkan bahwa saat keduanya mencari data tentang kualitas udara dari BMKG Tarakan, mereka harus meminta dari BMKG dari luar daerah Tarakan. “Makanya kami ingin membuat alat yang murah dan efisien,” lanjut Aan.

Dua pelajar berusia 17 tahun tersebut memulai membangun D'Box CC setelah berkonsultasi dengan guru pembina Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di sekolahnya yang bernama Ade Kuswara. Berangkat dari hasil konsultasi tersebut keduanya mulai merancang dan membangun alat deteksi tersebut.

Dalam proses membuat alat untuk diikutkan dalam lomba tingkat nasional, mereka harus berulang kali melakukan eksperimen. Bahkan bila perlu keduanya harus mengerjakan D'Box CC hingga larut malam.

“Pernah sampai jam 2 pagi, karena kami mau kejar tayang, alatnya mau diuji coba guna penyempurnaan di salah satu perusahaan di Samarinda sebelum mengikuti lomba,” tutur Aan.

Tidak hanya dirancang dan dibangun dengan penuh perjuangan, setelah upaya tanpa henti selama 4 hari, alat yang terdiri dari 16 komponen elektronik tersebut kemudian diikutkan dalam berbagai lomba. Mulai dari lomba tingkat sekolah sampai dengan tingkat nasional dan puncaknya berpatisipasi dalam lomba tingkat internasional IEYI pada 15-20 Juli 2016 di Harbin, Tiongkok. Partisipasi pada IEYI merupakan hasil lolosnya D'Box CC dalam tahap kompetisi Nasional NYIA yang diselerenggarakan oleh LIPI.

Kemampuan deteksi D'Box CC dapat dibilang mampu menyamai alat-alat yang sudah ada. Namun sisi kepraktisan menjadi nilai unggul untuk alat senilai 574 ribu Rupiah tersebut. “Jadi saat pameran, dari daerah lain alatnya besar-besar, ada yang sampai 2 meter,” ujar Feriawan.

Namun saat di mata 6 juri NYIA, alat D’Box CC merupakan kreasi yang istimewa dan patut diperlihatkan di tingkat internasional. Itulah sebabnya D'Box CC terpilih untuk mewakili Indonesia di Harbin, Tiongkok. Hingga akhirnya berhasil meraih medali emas.

Permasalahan di lingkungan akan dapat diatasi bila mampu melihat peluang dan optimis untuk bisa menyelesaikannya. Bahkan bisa jadi karena inisiatif tersebut akan menghasilkan sebuah prestasi gemilang. Mungkin itu yang dapat diambil pelajaran dari kisah sukses Feriawan Tan dan Aan Aria Nanda. Maju terus anak-anak bangsa!

Sumber : Pro Kaltara
Sumber Gambar Sampul : merahbirunews.com

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Vaksin Indonesia Sudah Diakui Secara Internasional dan Dinilai Aman Sebelummnya

Vaksin Indonesia Sudah Diakui Secara Internasional dan Dinilai Aman

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.