Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Pariwisata, Bunga dan Makna Hidup serta Keseharian Orang Bali

Ketut Adnyana
Ketut Adnyana
0 Komentar
Pariwisata, Bunga dan Makna Hidup serta Keseharian Orang Bali
Pariwisata, Bunga dan Makna Hidup serta Keseharian Orang Bali

KEBERHASILAN Bali dalam menata pariwisata ditandai dengan melekatnya Bali sebagai destinasi wisata utama di dunia. Bahkan, tidak jarang traveler international lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Seringkali mereka berpikir bahwa Indonesia merupakan bagian dari Bali, padahal situasi yang benar adalah Bali merupakan bagian dari Indonesia. Bali memang identik dengan keindahan alam pegunungannya , pantainya dan pariwisatanya. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pariwisata di bali adalah lebih banyak di dukung oleh adat istiadatnya dimana masyarakat bali dengan bakat DNA seninya bisa menyatu dengan pariwisata dan wisatawan. Sementara Adat istiadat terlahir dari agama yang di anutnya atau lebih banyak mengacu kepada agama yang di anut masyarakat di bali yaitu agama hindu.

Falsafah hidup masyarakat bali seperti „Tri Kaya Parisuda“ (Kelurusan berpikir, berbicara dan bertindak), „Tri Hita Karana“ (menjaga hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, manusia dengan Lingkungan alam, dan manusia dengan manusia), „Desa Kala Patra“ tuntunan untuk selalu fleksibel terhadap tempat, waktu, dan keadaan, „Rwa bhineda“ (perbedaan itu selalu ada), „Tat Twam Asi“ (Aku adalah kamu, kamu adalah Aku) seperti sudah tertatoo di sanubari setiap individu orang bali dan sudah mengalir bak air di sungai kehidupan bermasyarakat bali, yang mengajarkan bagaimana “bhineka Tunggal Ika” keanekaragaman, kejujuran, keluesan dalam beradaptasi, serta saling hormat menghormati perbedaan, bisa menciptakan kenyamanan tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga buat orang lain.

Dalam rangka mendukung pariwisata yang tidak hanya bertujuan memberikan kenyamanan bagi para wisatawan, tentunya juga memberikan efek positive bagi masyarakat bali sebagai salah satu mata pencahariannya. Keyakinan sebagai pedoman dalam hidup dan adat istiadat sebagai pedoman dalam hidup bermasyarakat serta pekerjaan sebagai landasan untuk membiayai kehidupan bisa berjalan beriringan mengikuti irama sang waktu. Dalam hal berkesenian seperti seni lukis yang awalnya merupakan salah satu cara penyampaian pesan pesan raja atau kerajaan dalam bentuk seni lukis pewayangan, demi pariwisata dan memang karena cantik di pandang mata, lukisan itupun akhirnya bisa dijual belikan secara bebas. Pun demikian dengan seni patung yang dulunya merupakan visualisasi dari ajaran agama. Demi pariwisata dan wisatawan patung patung tersebut bisa di jual belikan.

Bahkan Seni Tari yang dulunya merupakan tari suci pendukung upacara keagamaan, sekarang beradaptasi demi keharmonisan pariwisata, wisatawan dengan masyarakatnya. Tari bali yang semula bermakna religius secara perlahan di klasifikasikan sesuai dengan kebutuhannya di jaman sekarang, sehingga antara keyakinan yang diyakini masyarakatnya di bali tidak saling melangkahi dengan kebutuhan akan dunia pariwisata. Adapun kategori tari bali di bagi kedalam kelompok berikut:

Baca Juga
  • Tari wali : merupakan tarian sakral, dipentaskan di halaman bagian dalam pura .
  • Tari Bebali : adalah jenis tarian upacara, biasanya dipentaskan di halaman tengah pura.tari ini sifatnya diantara sakral dan hiburan.
  • Tari Balih-balihan : adalah jenis tarian yang bersifat non religius dan cenderung menghibur.

Berkat keluesan (fleksibility), masyarakat di bali masih tetap bisa menjunjung tinggi keyakinannya dan bisa juga menggunakan bagian dari keyakinan itu untuk digunakan sebagai mata pencahariannya untuk menghidupi keluarganya.

Tidak terhenti sampai pada tahapan berkesenian, dalam menjalani kehidupan sehari hari , seperti tertuang dalam falsafah „Tri Hita Karana“ jalinan hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan alamnya seperti tidak dapat di pisahkan antara masyarakat bali dengan alamnya. Lingkungan alam baik yang terlihat atupun tidak terlihat, ntah itu fauna (hewani) ataupun flora (tumbuh tumbuhan) seperti terawat dengan baik di bali dan saling melengkapi, terbukti dengan di rayakannya hari hewani dan hari tumbuh tumbuhan melalui upacara keagamaan.

Berbagai jenis tumbuh tumbuhan dan berbagai jenis bunga tumbuh subur di bali, yang selain dapat memberikan kesejukan dan keindahan, tumbuhan serta bunga warna warni tersebut juga di percaya memiliki energi yang dapat memberikan kenyamanan dan keberuntungan bagi pemiliknya. Bunga bahkan sudah merupakan bagian dari persembahan (sesaji) bagi masyarakat bali dalam berupacara. Dan jenis bunga tidak hanya di tanam di pekarangan perumahan melainkan di halaman Pura, seperti salah satunya Bunga Kamboja.

Caption (Sumber Gambar)

Bunga kamboja memang banyak ditemui di pura , selain karena dianggap bisa membawa pencerahan, untuk sarana dalam persembahyangan umat Hindu, juga memiliki kegunaan sebagai penghias rangkaian bunga untuk upacara. Berdasarkan filosofi Hindu, pohon kamboja di Bali berbunga pada sasih kapat (bulan purnama ke empat) yang menurut umat Hindu dianggap sebagai sasih atau bulan baik dan juga bunga tersebut bisa dikatakan sebagai “sari alam”. Jadi, apabila digabungkan, bunga kamboja dapat diartikan sebagai “sari alam yang membawa pencerahan dan sari-sari kebaikan” — pencerahan bagi umat manusia maupun bagi roh-roh yang ada di alam ini. Bunga kamboja dan masyarakat Bali seolah tak terpisahkan. Image gadis dan pemuda Bali dapat terlihat ketika bunga kamboja tersematkan pada mahkota rambut dan terselip pada daun telinga.

Lain makna bunga kamboja di pulau Bali lain makna bunga kamboja di pulau jawa yang merupakan pohon“perimbun pemakaman / kuburan” dan lain pula makna bunga kamboja di dunia kedokteran. Dalam dunia kedokteran, Kembang Kuburan alias bunga kamboja (Plumeria alba) ternyata menyimpan banyak manfaat ‘mengampuni’ orang-orang berpenyakit kotor. “Di balik kemistikan kamboja atau orang Jawa biasa menyebut semboja, ia menyembunyikan berbagai kebaikan buat manusia. Lewat akar, sirap kulit, getah, kuntum bunga dan daun yang eggan bergerombol, semboja diam-diam amat bermanfaat. Akarnya bisa ‘mengampuni’ orang-orang berpenyakit kotor,” , dengan meminum rebusan akar semboja, laki-laki penderita kencing nanah (gonorrhe) akibat suka ‘jajan’ pun disembuhkan. “Bisa jadi akar-akar semboja melalui remah-remah jenazah yang telah berubah menjadi unsur hara, memohon ampunan bagi sang pendosa tersebut. Memperingati para laki-laki agar insyaf kembali ke jalan benar. Hmmm…. Dunia ini sungguh lah luas dengan filosofi yang berbeda beda yang tentunya menarik untuk kita ketahui.

Renungan

Mengakhiri cerita saya ini, Manusia memang merupakan insan yang unique ciptaan Tuhan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Masyarakat bali bersama pulau balinya dan pariwisatanya mungkin memang di tasbihkan sebagai jendela informasi Indonesia yang penuh keanekaragaman dan kedamaian yang ditujukan kepada dunia agar bisa mengenali Indonesia dengan lebih baik dengan datang ke Indonesia sebagai wisatawan.

Keunikan dan keharmonisan masyarakat di Bali banyak mengilhami dunia perfilman dunia untuk membuat film tentang bali atau membuat film di bali. Kemasyuran pariwisata di bali, memang sempat di copy paste oleh mantan perdana mentri Malaysia mahatir Muhammad dengan menjadikan pulau langkawi sebagai pariwisata resort yang menawarkan keindahan pantai pasir putihnya beserta ketenangan alamnya. Namun ketika saya berkunjung ke pulau Langkawi ada yang tentu tidak bisa dibuat sama persis seperti bali, yaitu dukungan masyarakat langkawi yang saya amati tidak menyatu dengan dunia pariwisata yang di gagas oleh pemerintahnya. Pariwisata di Bali seperti seolah olah memang sudah menyatu dengan masyarakat balinya sementara masyarakat Langkawi tidaklah demikian.

Bahkan saya pribadi yang terlahir sebagai orang bali, yang mungkin juga terlahir dengan DNA seni, dalam kehidupan sehari hari yang saya jalani saya memang tidak bisa di pisahkan dengan Bunga. Bunga tidak hanya saya gunakan dalam “bekomunikasi” dengan Tuhan sebagai sarana persembahan persembahyangan. Bunga juga saya gunakan sebagai sarana “berkomunikasi” dengan almarhum bapak saya yang sudah meninggal , dimana bunga itu selalu saya tempatkan di ruangan saya dan selalu saya ganti dengan yang baru setiap minggunya sehingga ruangan saya selalu tampak berseri. Bahkan ketika saya ada di kampung halaman di Bali, Bunga dan Canang Sari hampir setiap hari menghiasi halaman rumah kami.




Sumber :
Sumber Gambar Sampul : baliwww

Menulis Kabar Baik #2
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG KETUT ADNYANA

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara