The Economist: Kualitas Ketahanan Pangan Indonesia Meningkat

The Economist: Kualitas Ketahanan Pangan Indonesia Meningkat
info gambar utama

Pangan di Indonesia yang kurang beragam dan terlalu populernya nasi dianggap dapat mengancam ketahanan pangan di Indonesia. Oleh karena itu berbagai kampanye dilakukan untuk menawarkan kembali makanan-makanan pokok alternatif agar Indonesia memiliki ketahanan pangan yang baik.

Berdasarkan data Global Food Security Index (GFSI) yang dirilis The Economist Intelligence Unit menunjukkan adanya peningkatan kualitas ketahanan pangan Indonesia tahun 2016 dibanding tahun sebelumnya. Data GSFI yang dilansir pada 9 Juni 2016 lalu tersebut menunjukkan ketahanan pangan Indonesia berada di peringkat ke-71 dari 113 negara. Hal ini menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2014 dan 2015 Indonesia yang masih berada di posisi 76.

Berdasarkan laporan tersebut, ketahanan pangan Indonesia total diberi nilai 50,6, meningkat dari angka 47,9 di tahun sebelumnya. Peningkatan nilai ini berdasarkan tiga aspek utama yakni keterjangkauan (affordability), ketersediaan (availability), serta kualitas dan keamanan (quality and safety).

Pada hal keterjangkauan, Indonesia pada tahun ini mendapat nilai 50,3, naik dari sebelumnya 46,8 nilai ini menempatkan Indonesia pada peringkat 70 dunia. Menurut laporan, Indonesia juga menjadi salah satu negara yang mengalami peningkatan tertinggi untuk kategori ini bersama Ekuador, Paraguay dan Myanmar. Peningkatan ini terjadi selama lima tahun berturut-turut dan dikatakan berkat tercapainya Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RANPG) yang dijalankan pada tahun 2011 sampai dengan 2015.

Peningkatan ini juga bisa jadi terjadi berkat beberapa program yang digagas oleh Kementerian Pertanian, seperti adalah Toko Tani Indonesia (TTI) yang mulai diluncurkan pada Agustus 2015 lalu.

TTI adalah program pembentukan semacam 1.000 koperasi yang menampung langsung panen petani, sehingga diharapkan dapat memperpendek rantai perdagangan pangan.

Tujuan program ini adalah agar petani sebagai produsen pangan dapat memperoleh marjin keuntungan yang lebih besar dan konsumen dapat membeli kebutuhan pangan dengan harga terjangkau.

Kementerian Pertanian, hingga saat ini telah mengoperasikan sebanyak 733 TTI Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) dan tersebar di 33 provinsi. Selain itu, ada juga kurang lebih 80 TTI khusus yang dibangun oleh pemerintah, antara lain seperti TTI Sentra Pasar Minggu yang diresmikan pada 15 Juni lalu.

Selain aspek keterjangkauan, dari sisi ketersediaan juga terjadi peningkatan menjadi 54,1 dari sebelumnya 51,2 menempatkan Indonesia pada peringkat 66 dunia. Sementara kualitas dan keamanan naik tipis ke 42 dari sebelumnya 41,9 sehingga menempatkan Indonesia pada peringkat 87 dunia.

Indonesia menurut laporan GFSI tersebut memiliki keunggulan dalam hal standar nutrisi, semangat untuk produksi produk agrikultur, tarif impor produk agrikultur yang relatif rendah, makanan terbuang yang juga rendah, termasuk penyerapan pangan di perkotaan yang cukup tinggi. Ketahanan pangan dan adanya program-program ketahanan pangan juga menjadi keunggulan yang dimiliki Indonesia.

Sedangkan tantangan yang perlu dihadapi oleh Indonesia adalah tidak adanya pengeluaran khusus untuk Research and Development (R&D) dalam skala publik, GDP yang masih rendah, diversifikasi diet atau menu makanan, dan juga kualitas protein yang perlu ditingkatkan.

Dalam laporan yang menggandeng Dupont sebagai sponsor tersebut menempatkan Amerika Serikat sebagai peringkat pertama. Tetangga Indonesia di ASEAN seperti Singapura peringkat 3, Malaysia peringkat 35, Thailand peringkat 51, Vietnam peringkat 57, Filipina peringkat 74, Myanmar peringkat 80, Kamboja peringkat 89, dan Laos berada di peringkat 103. Sedangkan Brunei Darussalam tidak dimasukkan dalam daftar observasi.

Peningkatan peringkat ini membuktikan bahwa Indonesia dapat meningkatkan kualitas ketahanan pangan. Kembali menuju Indonesia yang swadaya pangan dan memiliki ketahanan pangan yang tinggi, bukanlah impian kosong. Ayo bangun pangan Indonesia bersama-sama.

Sumber : The Economist
Sumber Gambar Sampul : GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini