Lupa Sandi?

Menengok Konservasi Budaya Masyarakat Bali di Desa Penglipuran

Renatha Agung Yoga Prasetya
Renatha Agung Yoga Prasetya
0 Komentar
Menengok Konservasi Budaya Masyarakat Bali di Desa Penglipuran

Ketika prestasi bukan merupakan sebuah tujuan utama namun merupakan sebuah konsekuensi, profit bukan sesuatu yang dikejar sebagai tujuan akhir melainkan buah dari ketekunan, kesungguhan, dan komitmen, maka jangan heran jika dengan kerja keras tersebut kita seringkali menemukan seseorang mendapatkan lebih dari sekedar prestasi dan profit. Kita mengenalnya sebagai legacy, peninggalan yang kelak dapat diwariskan kepada generasi masa depan dan bahkan dapat dinikmati oleh dunia yang mungkin haus oleh nilai-nilai hikmah dan kebijaksanaan.

Itulah hal yang saya temukan saat saya mengunjungi desa Penglipuran. Desa Penglipuran terletak di Kabupaten Bangli, Propinsi Bali. Jaraknya kurang lebih 57 Km di sebelah utara Bandara Internasional Ngurah Rai. Setelah penerbangan selama satu jam ke Bali dari Surabaya dengan Citilink, perjalanan ke desa tersebut dapat ditempuh dalam waktu dua jam dengan Citilink Cars. Layaknya banyak desa lain, Desa Penglipuran terletak agak jauh dari pusat kota yang ramai, dan lokasinya pun ada di tengah perbukitan. Lalu apa yang membuat desa ini menjadi spesial?

Desa Penglipuran adalah sebuah desa yang diresmikan sebagai desa wisata sejak tahun 1993, dengan tim pengelolaan wisata yang secara resmi dibentuk pada tahun 2011. Namun pembangunan Penglipuran sebagai desa wisata pada awalnya bukanlah diniatkan untuk menarik wisatawan.

Suasana Desa Penglipuran
Suasana Desa Penglipuran

Sebelum menjadi desa wisata, Desa Penglipuran dulunya merupakan sebuah hasil dari konservasi budaya yang dilakukan oleh masyarakatnya sejak sebelum tahun 1990. Gayung bersambut, usaha ini mendapatkan dukungan dari Dinas Kebudayaan dengan pembatalan rencana proyek pengaspalan jalan di Desa Penglipuran. Pengaspalan jalan pada saat itu dinilai akan merusak usaha konservasi budaya dengan prospek semakin banyaknya transportasi yang melewati jalan desa. Perbaikan jalan desa pun akhirnya dilakukan dengan melakukan pavling.

Satu lagi budaya fisik yang masih tetap dipertahankan oleh masyarakat adalah keberadaan angkul-angkul, yaitu gapura yang dipasang sebagai pintu masuk di halaman depan rumah dengan ornamen khas Bali. Saat memasuki desa, keberadaan puluhan angkul-angkul di setiap rumah penduduk inilah yang benar-benar memberikan kesan bahwa saya sedang berada di Bali, di tengah-tengah masyarakat yang memegang teguh budaya dan ajaran agama Hindu.

Sejak dimulainya usaha konservasi budaya, Desa Penglipuran beberapa kali memperoleh penghargaan di tingkat Provinsi hingga Nasional sebagai desa adat yang unik dan bersih, termasuk diantaranya penghargaan Kalpataru. Wakil pengelola wisata Desa Penglipuran, Nengah Lancar bahkan menyebutkan bahwa desa Penglipuran pernah masuk dalam nominasi untuk memperoleh penghargaan internasional, “Waktu itu nominasi di Manila....” jelasnya.

Baca juga: Mengengok Tiga Desa Terbersih di Dunia

Banyaknya penghargaan yang diterima oleh Desa Penglipuran ini semakin mengundang banyak orang untuk datang berkunjung, hingga akhirnya desa ini ditetapkan sebagai desa wisata dan dibentuk tim khusus untuk memanajemen pengelolaannya. Situasi ini membuat aktivitas di desa semakin hidup. Usaha konservasi budaya pun berpadu dengan kreativitas enterpreneur masyarakat. Semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung membuat peluang usaha semakin terbuka, hingga akhirnya terbukalah usaha-usaha kuliner, souvenir, hingga home stay yang dikelola sendiri oleh masyarakat.

Untuk semakin menyemarakkan kegiatan konservasi budaya, pihak pengelola pun juga bekerja sama dengan beberapa sanggar seni dan sekolah untuk melakukan pertunjukan seni secara rutin, hingga mengadakan event perlombaan seni tingkat kabupaten, “Penglipuran Village Festival”. Jika Anda berkunjung ke Penglipuran di akhir tahun, maka Anda dapat menyaksikan salah satu pagelaran seni yang paling meriah di Kabupaten Bangli tersebut.

Penduduk Desa Penglipuran
Penduduk Desa Penglipuran

Selain dimanjakan oleh pemandangan desa dengan adat yang kental, jika Anda bersedia berjalan sedikit jauh Anda dapat berkunjung ke wilayah hutan bambu yang cukup luas serta tugu pahlawan lokal yang banyak bercerita tentang perjuangan para pendahulu desa di masa peperangan.

Dengan Rp 15.000 per orang, Anda sudah dapat masuk ke desa. Masyarakat desa pun secara ramah akan mempersilakan Anda mampir ke rumah mereka untuk bertamu dengan disambut taman bunga yang indah di depan rumah, melihat-lihat kerajinan tangan yang dibuat oleh tangan-tangan mereka sendiri, hingga mencicipi masakan-masakan mereka. Jika Anda ingin tinggal beberapa hari di sana dan merasakan langsung kehidupan desa Penglipuran, beberapa rumah warga yang menyediakan fasilitas home stay pun terbuka untuk Anda.

Bapak Nengah lancar dengan produk minuman lokal Penglipuran, Cem Cem
Bapak Nengah lancar dengan produk minuman lokal Penglipuran, Cem Cem

Desa penglipuran adalah desa yang dibangun dengan semangat mempertahankan adat yang baik namun tetap mengikuti perkembangan zaman. Desa yang awalnya dibangun tanpa mengharap penghargaan apapun namun akhirnya justru meraih penghargaan dari berbagai pihak. Keuntungan materiil pun juga dapat diraih, dengan tetap mengajarkan nilai-nilai dan semangatnya kepada dunia.




Sumber : Tim GNFI
Sumber Gambar Sampul : Dokumentasi GNFI

Pilih BanggaBangga60%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang40%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG RENATHA AGUNG YOGA PRASETYA

Faith, Courage, Honesty, and Passion

... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas