Kalau ditanya tentang lokasi teks proklamasi dibacakan, pasti akan banyak yang menjawab seperti, “Jakarta!”, atau “di Jalan Pengangsaan” atau kalau yang jawab teman-teman  sekolah dasar, SMP, atau SMA mungkin jawabannya akan lebih lengkap lagi “di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56”. Tapi kalau ditanya di mana dirumuskannya.. pasti ingatan kita kembali ke peristiwa sehari sebelum terjadinya proklamasi tanggal 17 Agustus 1945. Ya, “Peristiwa Rengas Dengklok”. Untuk pembaca yang sedikit lupa bagaimana sih Peristiwa Rengas Dengklok, ini penjelasan singkatnya.

Peristiwa Rengas Dengklok adalah peristiwa diamankannya Soekarno dan Mohammad Hatta yang termasuk dalam golongan tua oleh golongan muda diantaranya Soekarni, Wikana, Chaeril Saleh ke Rengas Dengklok, Karawang, Jawa Barat. Peristiwa ini terjadi pada 16 Agustus 1945, pada dini hari. Tujuan golongan muda adalah untuk mendesak keduanya segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Di sana lah tempat berlangsung diskusi termasuk dirumuskannya teks proklamasi yang menjadi penanda kemerdekaan Indonesia. Namun dalam pelajaran di sekolah kita, tidak banyak disebutkan di mana, di rumah siapa, dua proklamator (dan Ibu Fatmawati, istri Soekarno dan Guntur, anak sulung Soekarno) tersebut tinggal selama di Rengas Dengklok. Adalah Djiaw Kie Siong,  pemilik rumah di Rengas Dengklok yang meminjamkan  rumahnya menjadi tempat singgah sementara dua pahlawan proklamator dan tempat berdiskusi persiapan kemerdekaan. Djiaw Kie Siong adalah seorang petani keturunan Tionghoa yang hidupnya sebenarnya jauh dari kegiatan politik, sehari-hari dia hanya mengurus sawah yang letaknya tak jauh dari Sungai Citarum. Menurut keterangan sang cucu sekaligus yang menjadi pemegang kepemilikan rumah Rengas Dengklok sekarang, Djiaw Kwin Moy, atau Iin, rumah tersebut dipilih karena dekat dengan markas PETA. Selain itu posisinya yang aman dan tertutup juga jauh dari jalan sehingga tidak akan timbul kecurigaan apabila terlihat ada aktifitas yang melibatkan banyak orang di rumah tersebut.

Kondisi rumah Rengas Dengklok sekarang

Rumah tinggal keluarga Djiau Kie Siong berada di Kampung Bojong Tugu, Kelurahan Rengasdengklok, Kecamatan Rengasdengklok. Hingga saat ini rumah ini masih terawat dalam keadaan cukup baik berkat pemeliharaan dari anak cucu Djiau Kie Siong. Jika anda mengunjungi rumah ini, dapat ditemukan foto-foto mendiang Soekarno, juga foto Djiau Kie Siong sendiri. Selain itu terdapat cetak gambar penampakan rumah Djiau Kie Siong yang asli diantara deretan foto-foto tersebut.

Deretan pajangan foto Soekarno di rumah Rengas Dengklok (sumber: bbc.com)
Deretan pajangan foto Soekarno di rumah Rengas Dengklok (sumber: bbc.com)

Ya, rumah yang sekarang banyak dikunjungi wisatawan ini memang bukan rumah asli yang ditinggali Bung Karno dan Bung Hatta saat diamankan dulu. Lebih tepatnya posisi rumah yang sudah berubah. Rumah Rengas Dengklok yang asli dipindahkan dari lokasi yang tidak jauh dari posisi sebelumnya, sekitar 500 m di sebelah barat daya lokasi sekarang, di tepi Citarum. Pemindahan tersebut dilakukan dengan alasan lokasi sebelumnya sering terkena banjir dan rumah terancam roboh. Pada saat itu proses pemindahan dibantu oleh TNI dan warga.

Selain posisi rumah yang berubah, seluruh perkakas di kamar tidur yang pernah menjadi tempat istirahat Soekarno dan M. Hatta itu sebenarnya hanyalah replika. Perkakas aslinya sudah diamankan ke Museum Sri Baduga Maharaja di Bandung. "Rumah ini yang asli tinggal bagian ruang tamu ini, teras, dan dua kamar yang di pakai Bung Karno dan Bung Hatta menginap" ungkap Iin sambil menunjukkan kedua kamar tidur.
Kebersihan kamar di rumah ini sangat dijaga. Meski dibersihkan setiap hari, namun tak satupun keluarga Djiaw Kie Siong berani tidur di dalamnya. Kamar dibiarkan kosong dengan pintu terkunci. Baru dibuka, kalau akan dibersihkan atau saat ada tamu berkunjung. Sang Kakek, memang berpesan untuk tidak menempati tempat tidur tersebut. Namun saat ini dari dua kamar yang digunakan pada peristiwa rengas Dengklok dulu, kamar yang tidak ditempati adalah kamar M. Hatta, sedangkan kamar yang sempat ditempati Soekarno sudah digunakan keluarga cucu Djiaw Kie Siong.

Lingkungan di mana rumah ini berada merupakan pemukiman yang tidak begitu padat. Di sebelah selatan rumah, seberang jalan kampung berupa kebun dan belakang rumah merupakan area persawahan. Sedangkan di sebelah barat dan timur merupakan rumah penduduk. Rumah tinggal ini berada pada kawasan pedataran rendah pantai utara.

Piagam penghargaan yang diberikan kepada Djiaw Kie Siong (sumber:kaskus.co.id)
Piagam penghargaan yang diberikan kepada Djiaw Kie Siong (sumber:kaskus.co.id)

Tidak banyak penghargaan dan bantuan untuk rumah bersejarah ini. Satu penghargaan yang didapat Djiaw Kie Siong adalah piagam dari Mayjen Ibrahim Adjie pada saat beliay masih menjabat sebagai Pangdam Siliwangi, yang diberikan dalam bentuk selembar piagam nomor 08/TP/DS/tahun 1961. Dana yang diharapkan dikucurkan langsung dari pemerintah daerah Karawang juga tidak ada, perawatan rumah pun dilakukan dengan dana swadaya dari keturunan Djiaw Kie Siong sendiri dan sedikit bantuan dari BP3 Banten. Selain karena kekaguman mereka terhadap sosok Soekarno, keluarga ingin mempertahankan tempat bersejarah ini dan ingin menjaga warisan juga amanat dari sang kakek.

 
Sumber :

merdeka.com

disparbud.jabarprov.go.id


Sumber Gambar :

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu