Lupa Sandi?

Belum Tayang di Tanah Air, Film Indonesia ini Sudah Dapat Standing Ovation di Toronto

Athaya P. Belia
Athaya P. Belia
0 Komentar
Belum Tayang di Tanah Air, Film Indonesia ini Sudah Dapat Standing Ovation di Toronto
Belum Tayang di Tanah Air, Film Indonesia ini Sudah Dapat Standing Ovation di Toronto

Headshot, sebuah film action thriller yang ditayangkan pada festival film prestisius Toronto International Film Festival pada hari Jumat (9/9) ini menuai respon positif dari para penonton. Dari antrian yang sangat panjang hingga dua blok di sepanjang jalan 350 Victoria Street, para penonton yang terus meneriakkan nama para pemain pendukung Headshot serta standing ovation ketika film selesai diputar. Film karya Mo Brothers; Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel dan dibintangi oleh Chelsea Islan, Julie Estelle, dan Iko Uwais ini menjadi pusat perhatian di malam itu berkat nama Iko Uwais.

Nama Iko Uwais telah berkibar di mancanegara karena dua seri film The Raid. Seperti kata reviewer untuk Slash Film, Ethan Anderton, ia mengungkapkan bahwa melihat nama Iko Uwais muncul dalam film ini benar-benar menambah ketertarikannya pada film. Tak hanya itu, ia memaparkan, “Secara umum, ini mirip gabungan The Bourne Identity dan Taken,” ujarnya. Selain nama Iko Uwais, para penggemar film Headshot mengaku sudah tidak asing lagi dengan Timo Tjahjanto. Timo merupakan sang sutradara jenius dibalik film antologi horror The ABC’s of Death (2002) serta V/H/S 2 (2003). Tak hanya itu, Headshot juga sudah ditayangkan oleh festival film yang prestisius di Paris, yakni L’Etrange Festival Paris 2016 dalam waktu bersamaan.

Iko Uwais membagikan tanda tangan untuk para penggemarnya | sumber foto: hot.detik.com
Iko Uwais membagikan tanda tangan untuk para penggemarnya | sumber foto: hot.detik.com

Headshotmengisahkan tentang seorang lelaki yang baru saja siuman setelah mengalami koma yang cukup panjang. Karena sang lelaki ini tak tahu asal-muasal tentang dirinya, sang mahasiswa kedokteran, Ailin (Chelsea Islan) memberinya nama Ishmael (Iko Uwais).

Film Headshot ini diputar pada Toronto International Film Festival (TIFF), sebuah festival film prestisius tahunan kembali digelar. Festival film ke-41 ini berlangsung dari hari Kamis (8/9) hingga Minggu depan (18/9). Acara ini dihelat di Ryersorn Theather dan diramaikan oleh berbagai film-film produksi dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Film Headshot ini diputar dalam sesi Midnight Madness. Midnight Madness ini merupakan sesi khusus untuk film thriller, suspense, hingga horror.

Baca Juga
para bintang "Headshot" sebelum film diputar | sumber foto: hot.detik.com
para bintang "Headshot" sebelum film diputar | sumber foto: hot.detik.com

Tak hanya Headshot, film kolaborasi antara Indonesia dan Malaysia, Interchange, juga ditayangkan di TIFF. Film yang dibintangi Nicholas Saputra, Prisia Nasution, serta actor Malaysia Iedil Putra ini tayang di hari yang sama dalam sesi Vanguard. Film karya Cinesurya Pictures ini dianggap sebuah representasi film Asia dimana gabungan supernatural dan kehidupan nyata menjadi unsur utama dalam film tersebut. Menurut managing editor ScreenAnarchy, Peter Martin, film ini sangat menegangkan walaupun ia hanya menonton trailer saja. Tak hanya TIFF, film ini juga telah diputar di Locarno Film Festival, Swiss pada bulan Agustus lalu.

Untuk tanggal tayang di bioskop Indonesia, Headshot akan tayang pada tanggal 16 Desember. Sedangkan untuk film Interchange akan tayang pada tanggal 1 Desember. Film mana yang paling teman-teman tunggu?

Sumber : Jawa Pos (Minggu, 11 September 2016) dan DetikHot
Sumber Gambar Sampul :Mahardian Prawira Bhisma, DetikHot

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ATHAYA P. BELIA

Menulis untuk mengingat dan diingat. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara