Lupa Sandi?

Perlukah Indonesia Beralih ke Kakus Duduk?

jonatjack
jonatjack
0 Komentar
Perlukah Indonesia Beralih ke Kakus Duduk?

Data dari Sustainable Sanitation Aliance (SUSANA) menunjukan persentase kakus jongkok di Indonesia mencapai 80%. Jumlahnya sama, baik pada kakus umum maupun kakus di rumah. Sebagian besar dari kakus jongkok itu ditemukan di daerah pedesaan.

Angka ini terbilang tinggi, bahkan paling tinggi untuk negara-negara di Asia Tenggara. Malaysia misalnya, persentase kakus jongkok di rumah hanya menempati angka 60%. Sementara Thailand dan Kamboja hanya 30%.

Negara-negara tersebut mulai beralih ke kakus duduk dengan berbagai alasan. Salah satu alasan terbesar adalah wisata. Banyak turis Eropa yang tak nyaman menggunakan kakus jongkok saat berkunjung ke Asia.

Pertanyaannya, perlukah Indonesia turut beralih dari kakus jongkok?

Baca Juga

Bicara kakus sangat berkaitan dengan budaya masyarakat dalam buang air besar. Masyarakat Asia identik dengan gaya jongkok. Riset Melda Genç berjudul “The evolution of toilet and its current state” bisa memberikan penjelasan.

Kakus jongkok tertua ditemukan pada peradaban India kuno 2500 SM. India mungkin jadi negara yang memperkenalkan kakus jongkok ke Indonesia, mengingat sejarah kerajaan mula-mula di Indonesia didominasi kerajaan Hindu-Budha yang datang dari India.

Kerajaan tertua di Indonesia berdasarkan buku sejarah adalah kerajaan Kutai yang berdiri di Kalimantan Timur tahun 1300. Kutai adalah kerajaan bercorak Hindu.

Meski demikian, budaya buang air besar jongkok sudah lama dipraktekan masyarakat Nusantara. Sebelum dikenal kamar mandi, warga sudah buang hajat di sungai atau menggali tanah dengan cara berjongkok.

Masuknya Islam ke Indonesia semakin memperkuat budaya ini. Sejarah mencatat Nabi Muhammad terbiasa buang air besar secara jongkok. Nabi juga pernah menyarankan penggunaan kakus jongkok di Turki saat kepemimpinan Ottoman. Ajaran Islam sangat menjunjung tinggi kebersihan dan cebok dengan air, sehingga sistem drainase dan pembilasan mulai populer.

Sejarah Indonesia sarat dengan budaya buang air besar jongkok yang kemudian menjadi identitas masyarakat. Jika ditinjau dari sisi kesehatan, Pakar sistem pencernaan Anis Sheth juga mendukung gaya jongkok.

Dari sisi fisiologis, jongkok akan mempermudah buang air besar, karena pose ini meluruskan usus besar. Dikutip dari alodokter.com ketika seseorang berdiri, usus besar (tempat tinja disimpan) ditekan ke atas oleh otot puborectalis, alhasil saat berdiri feses pun tidak keluar.

Ketika duduk otot puborectalis juga masih bekerja sebagian. Posisi duduk juga membentuk sudut agak melengkung antara usus besar dan anus. Sementara ketika jongkok posisi anus dan usus besar lurus sehingga feses dapat mulus keluar.

Mengutip dari tirto.id manfaat kakus jongkok mampu mengurangi dampak sembelit, wasir, diertikulitis, dan meningkatkan kesehatan usus besar, otot panggul, dan kandung kemih. Kakus jongkok juga lebih hemat air, kecuali jika mengikuti teknologi modern, dimana kakus jongkok sudah memiliki sistem flush seperti kakus duduk.

Jadi jenis kakus tidak ada hubungannya dengan tolak ukur peradaban. Alih-alih, kita bisa berbangga karena budaya jongkok pada dasarnya lebih baik daripada budaya duduk.


Sumber : berbagai sumber
Sumber Gambar Sampul : katiemichellegregory.files.wordpress.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG JONATJACK

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara