Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Mimpi 100 Tahun

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Mimpi 100 Tahun
© carleton.ca

Membayangkan untuk mampu hidup selama 100 tahun bagi seorang manusia mungkin adalah sesuatu yang banyak dilakukan. Tapi untuk menjalaninya, tidak banyak yang mencapai angka tersebut. Mimpi memang kerap menjadi sebuah harapan, namun realitas adalah kehidupan.

Bagi kita manusia, 100 tahun adalah waktu yang lama. Setidaknya angka tersebut bisa dilalui selama tiga atau empat generasi. Bagi yang memiliki keturunan, angka 100 tahun setidaknya akan membuat angan melihat betapa riuhnya rumah penuh dengan keluarga berlintas generasi. Anak, cucu dan cicit berkumpul menjadi satu. Itu bila tiga generasi. Entah apa sebutannya bila kita memiliki keturunan generasi keempat.

Baca Juga

Berbeda halnya bila sebuah bangsa atau negara melihat umurnya. 100 tahun bisa jadi waktu yang muda, atau mungkin juga bisa jadi tua. Tergantung cara mengukurnya. Namun bagi saya, membayangkan bahwa sebuah bangsa telah mencapai angka 1 abad merupakan hal yang menakjubkan.

Sebagai seorang warga negara Indonesia, yang hidup sejak tahun ke-36 kemerdekaan Republik Indonesia. Membayangkan Indonesia di tahun kemerdekaannya yang ke-100 adalah sesuatu yang menantang imajinasi. Barangkali kita bersama tahu bahwa imajinasi merupakan salah satu aspek penting dari kesadaran berfikir yang dimiliki seorang manusia. Einstein bahkan mengungkapkan bahwa imajinasi lebih penting dari pengetahuan.

1 abad Indonesia saya sebut menantang imajinasi sebab pada masa itu masa di tahun 2045, saya akan berusia setidaknya setengah abad dan telah menua. Tahun-tahun itu adalah tahun dimana generasi penerus akan membangun negeri ini. Dan saya mungkin sudah terpinggirkan atau mungkin hidup jauh dari hiruk pikuk keramaian. Namun bisa jadi itu adalah masa paling gemilang bagi Indonesia.

Indonesia pada tahun-tahun itu mampu menggerakkan generasi mudanya menjadi kekuatan kreatifitas yang kuat. Karakter bangsanya yang menjunjung moralitas menjadi panutan bagi negara-negara barat dan timur. Kekayaan budayanya menjadi sebuah nilai berharga dari peradaban. Seluruh dunia memandang negeri ini tidak sekadar negara dengan populasi terbesar di dunia, melainkan sebagai sebuah negara dengan kekayaan intelektual yang tinggi. Sehingga suaranya di forum global selalu ditunggu-tunggu.

Produk industri kreatifnya bernilai tinggi dan menjadi rebutan bagi para kolektor di seluruh dunia. Kebudayaan musik, tari dan sastranya menjadi rujukan.

Dari segi perdagangan, negeri ini telah menjadi lokasi mondar-mandir kapal berukuran raksasa yang melintasi pasifik menuju negeri di barat. Perkembangan teknologi pun membuat segalanya menjadi lebih ringkas, teratur dan bersih. Sehingga manusia Indonesia lebih banyak berinteraksi di wilayah-wilayah publik tanpa khawatir lagi dengan perangkat-perangkat yang dibawanya masing-masing. Sesuatu yang mungkin hanya terjadi pada masa muda saya.

Gedung-gedung menjulang tinggi, bukan untuk dihuni tetapi untuk cocok tanam di perkotaan. Kendaraan melayang-layang disetiap sudut. Transportasi masal tampak tanpa pengemudi, hilir mudik menjemput.

Ah betapa imajinasi itu masih sangat dangkal. Bisa saja Indonesia jauh lebih menakjubkan dari apa yang terbayangkan. Atau bahkan bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk. Meski itu hanya imajinasi, ada satu hal yang kita dengan pasti ketahui, yaitu bahwa seperti apapun Nusantara di tahun-tahun mendatang, ternyata kitalah yang menentukan. Kitalah yang menentukan nasib Merah Putih sebab kitalah generasi yang akan membangun negeri ini berdasarkan imajinasi-imajinasi yang kita miliki.

Wujudkan, atau tinggalkan. Itu terserah Anda kawan.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli25%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau75%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Pencerita yang tiada habisnya. Mencari makna untuk cipta karya. Pembelajar yang kerap lapar. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie