Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Gembok Cinta sudah Mainstream, Bagaimana Kalau Sandal Jodoh?

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Gembok Cinta sudah Mainstream, Bagaimana Kalau Sandal Jodoh?
Keterangan Gambar Utama ©

Tahun 2015 lalu Pemerintah Kota Paris mulai melarang pemasangan gembok simbol cinta di pagar jembatan di atas sungai Seine. Hal ini dilakukan karena jembatan yang sudah ada sejak tahun 1802 ini harus memanggul beban seberat hingga 45 ton. Tidak cuma melarang, pihak berwenang Kota Paris pun membongkar gembok-gembok yang berpotensi meruntuhkan jembatan Pont des Arts, Passerelle Leopold-Sedar-Senghor dan Pont de I’Archeveche.

Di Eropa, tren memasang gembok cinta itu mulai pada awal-awal tahun 2000-an. Konon, gembok yang dipasang itu menjadi tanda sebuah perjalinan cinta sepasang kekasih. Tren ini pun merambah ke berbagai negara di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Kalau di Indonesia sendiri setidaknya ada 8 spot tempat menggantungkan gembok cinta itu. Para pasangan dari kaum muda hingga yang sudah awet bertahun-tahun pun berbondong-bondong mengabadikan cinta mereka pada sepasang gembok. Namun, ada pemandangan yang menarik ketika kita berkunjung ke Pantai Tapak Paderi di Bengkulu karena di sana untuk mengabadikan cinta kita tidak menggantungkan gembok melainkan sandal.

Ya, di pantai yang berada di garis timur Pulau Sumatera ini terdapat sebuah tembok bambu yang digantung ratusan sandal. Tembok tersebut pun menjadi spot foto baru bagi para pengunjung di arena yang disebut dengan Sandal Pondok Jodoh itu.

Baca Juga
Sudut Sandal Pondok Jodoh di Pantai Tapak Paderi Bengkulu (source image: detik.com)
Sudut Sandal Pondok Jodoh di Pantai Tapak Paderi Bengkulu (source image: detik.com)

Sebenarnya, sandal-sandal tersebut dipasang di atas dinding bukan untuk "mengabadikan cinta" seperti halnya gebok cinta. Aris, salah seorang nelayan di sana yang menginisiasi Sandal Pondok Jodoh itu berkisah, awalnya ide pembuatan tembok ini berasal dari keprihatinan dirinya dan teman-teman nelayan lain akan banyaknya sampah di kawasan Pantai Tapak Paderi.

"Kebanyakan sampah adalah botol minuman plastik dan sandal-sandal bekas yang hanyut di pantai, kemudian kita kumpulkan dan gantung di tiang-tiang dari bambu yang kita buat," kata Aris.

Dan tidak disangka, kreasinya tersebut justru mengundang perhatian besar dari para pengunjung. Banyak dari mereka yang berfoto dan menggantungkan sandal di arena Sandal Pondok Jodoh tersebut. 

Sebut saja Andriani, salah satu pengunjung pantai, mengapresiasi ide nelayan membuat Sandal Pondok Jodoh. Menurut dia, hal itu menarik dan sangat bagus.


"Tidak hanya menarik perhatian pengunjung untuk ke lokasi ini, tapi juga menjaga kebersihan pantai," ujar Andriani.

Ia pun ikut menaruh sandal miliknya dan pacarnya di dinding itu sebagai tanda pengikat cinta mereka. "Cuma untuk lucu-lucuan aja, untuk kenang-kenangan. Dan semoga hubungan kami bisa langgeng."

Sementara itu, antusiasme para pengunjung di spot Sandal Pondok Jodoh ini justru membuat Aris dan para nelayan lainnya semakin bersemangat untuk mengumpulkan sampah di lokasi pantai dan menjadikannya benda yang bermanfaat. 

"Kita ingin mengajak masyarakat sekitar untuk ikut serta dalam menjaga kebersihan pantai dan wisatawan merasa nyaman jika berkunjung ke sini," kata Aris.


Sumber : kompas.com

Pilih BanggaBangga11%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi44%
Pilih TerpukauTerpukau11%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara