Tersebutlah suatu Sekolah Dasar yang terletak di tepi Sungai Telake bagian hilir, tepatnya di Dusun Lanai, Desa Petiku. Sekolah Dasar Negeri yang muridnya tak lebih dari 60 siswa.

Sekolah yang biasa-biasa saja.

SDN 020 Long Kali atau lebih dikenal dengan SD Lanai.

Sekolah yang biasa, dengan guru-guru yang biasa, siswa-siswa yang biasa, kepala sekolah yang biasa, dan orang tua/wali murid yang biasa saja.

***

Siswa-siswi SD Lanai memang biasa saja.
Siswa-siswi SD Lanai biasa mengendarai ketinting/cis.
Biasa berdayung untuk menyeberangi sungai dengan lebar ± 100 meter.
Biasa tidak beralas kaki, terutama ketika musim nyorong (air pasang). Karena sekolah seringkali terkena banjir limpasan.
Biasa mengikuti Olimpiade Sains Kuark dan perlombaan lainnya.
Biasa mengadakan upacara bendera tiap Hari Senin.
Biasa bermain angklung, rebana atau menari Rampoe di tiap Hari Sabtu, diselingi dengan kegiatan pramuka.
Biasa membaca buku di perpustakaan ketika istirahat atau di sela waktu luangnya.
Biasa tiba di sekolah lebih awal dibandingkan guru-gurunya.
Biasa menuliskan cita-citanya dengan semangat tinggi.
Biasa membuang sampah pada tempatnya.
Biasa membersihkan kelas dan sekolah secara gotong royong.
Biasa menulis surat sahabat ke luar pulau, paling tidak dua bulan sekali.
Biasa berenang di sungai dengan kedalaman tengah ± 12 meter.
Biasa belajar di bawah temaram lampu bertenaga surya ketika malam hari.

***

Guru-guru SD Lanai sama seperti halnya dengan guru-guru di sekolah lain. Tidak ada yang begitu istimewa.
Guru-guru SD Lanai biasa berkendara lebih dari 15 kilometer setiap harinya untuk berangkat menuju sekolah.
Biasa berdayung menyeberangi sungai untuk menuju sekolah dan pulang sekolah.
Biasa menerapkan kontrak belajar sebelum memulai pelajaran.
Biasa menggunakan metode kreatif.
Biasa mengajak siswanya belajar di luar kelas, termasuk di perpustakaan.
Biasa berbagi dan bertanya dengan guru lain yang lebih kompeten tentang pelajaran terkait.
Biasa membaca buku di perpustakaan ketika istirahat atau di sela waktu luangnya.
Biasa bercengkrama dengan siswanya di luar jam belajar kelas.
Biasa mencatat perkembangan siswa-siswanya.
Biasa berkomunikasi dengan orang tua siswa, baik dalam pertemuan warga dan lainnya.
Biasa membimbing siswanya untuk aktif dalam kegiatan pengembangan diri, seperti angklung, rebana dan tari.
Biasa melaksanakan dan mengawasi ujian dengan jujur.
Biasa saling tolong menolong antar guru, jika ada kesulitan, baik terkait dengan sekolah maupun di luar sekolah.

***

Kepala Sekolah SD Lanai jauh dari kata ‘mewah’, semenjak menjadi guru hampir 26 tahun hingga saat ini.
Kepala Sekolah SD Lanai biasa berpakaian sederhana, namun tetap berwibawa.
Biasa turun ke sekolah setiap hari.
Biasa mendukung siswanya berprestasi dalam segala bidang, termasuk pengembangan diri secara positif.
Biasa mengikuti K3S se-kecamatan dan menginformasikan hasilnya kepada guru-guru di sekolah.
Biasa berkunjung ke UPTD-Pendidikan, untuk mengetahui update informasi terkait pendidikan.
Biasa menerapkan lingkungan ujian yang jujur dan tertib.
Biasa melakukan pendataan dan memperhatikan kehadiran guru-guru.
Biasa mengadakan pertemuan dengan komite sekolah secara rutin, melalui gotong royong minimal dua bulan sekali.

***

Orang tua/wali murid SD Lanai bersikap terbuka dengan segala hal, terutama terkait dengan pendidikan anaknya di sekolah. Karenanya tidak ada yang istimewa dengan orang tua/wali murid SD Lanai.
Orang tua/wali murid SD Lanai biasa menghargai segala perkembangan positif anaknya, terutama jika mereka berprestasi.
Biasa mengikuti gotong royong yang dilakukan di sekolah secara rutin, minimal dua bulan sekali.
Biasa mengikuti upacara 17 Agustus di desa setiap tahunnya.

***

Sungguh semua pihak yang terkait dengan SD Lanai melakukan semua itu sewajarnya, karena mereka telah biasa melakukannya. Seperti yang diungkapkan oleh kata mutiara berikut.

“Kata-kata akan membentuk tindakan.

Tindakan akan menciptakan kebiasaan.

Kebiasaan akan menjadi karakter.

Karakter akan menunjukkan tujuan hidupmu.” (--Zen)

Terima kasih atas upaya dan kerja keras Pak Deden, Bu Rara dan Bu Ieke sebagai Pengajar Muda, yang turut mendorong kebiasaan baik, terutama dalam hal pendidikan di Desa Petiku, bersama-sama dengan semua pihak terkait.


Sumber : Rif'at Darajat (Pengajar Muda angkatan X Kab. Paser, Kalimantan Timur)

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu