L.T Nanangkong, Pejuang Pendidikan dari Sulawesi Utara

L.T Nanangkong, Pejuang Pendidikan dari Sulawesi Utara
info gambar utama

”Tak ada istilah tua untuk belajar”, ibu yang satu ini namanya Lysta Trihastuti Nanangkong atau akrab dikenal dengan nama L.T Nanangkong. Tahun ini ia genap berusia 60 tahun, yang juga berarti telah memasuki usia pensiun dari jabatannya sebagai kepala sekolah di SDN Matutuang, Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara. Ia tinggal jauh dari hingar-bingar sorotan pemberitaan, namun semangat dan dedikasinya untuk pendidikan anak di daerah terpencil patut didengar banyak orang.

Sekitar tahun 1998 lalu, Ibu L.T Nanangkong dipindah penugasan dari Pulau Marore ke Pulau Matutuang statusnya saat itu adalah guru agama kristen. Tak hanya dia, beberapa guru sempat ditawarkan untuk pindah tugas ke Matutuang tapi semuanya keberatan. Alasannya karena Pulau Matutuang saat itu adalah pulau tak berpenghuni dan hanya disinggahi nelayan-nelayan yang menetap hingga berbulan-bulan lamanya dengan membawa istri dan anaknya.

Ibu L.T Nanangkong saat itu juga dirundung kebingungan dengan penawaran tersebut, hingga akhirnya ia mendapat penguatan dari sang suami. Ia dengan yakin berpindah ke Pulau Matutuang yang pada saat itu hanya bisa ditempuh dengan menggunakan perahu nelayan selama 3-4 jam dari Pulau Marore. Matutuang adalah surga bagi para nelayan karena kondisi alamnya yang masih terjaga, sehingga dengan mudah hasil alam didapat.

Perjuangan demi perjuangan ibu L.T Nanangkong tidaklah mudah, ia harus membangun sekolah mulai dari awal. Tak ada bangunan sekolah dan anak-anak tak bisa berbahasa Indonesia, mereka menggunakan Bahasa sangir dan bisaya (Bahasa daerah dari Filipina). Ibu L.T Nanangkong mendirikan SD Mercusuar, karena letaknya yang tak jauh dari mercusuar navigasi milik pemerintah. Bangunan sekolah berasal dari kayu kelapa dengan atap dari daun kelapa serta beralaskan tanah, hanya tersedia tiga kelas sederhana untuk kegiatan belajar mengajar. Gurunya hanya dia seorang, hingga suami dan petugas navigasi harus sampai ikut membantu mengajar.

Tak hanya sampai disitu, Ibu L.T Nanangkong juga berjuang agar SD Mercusuar diakui oleh pemerintah. Hingga semua peluhnya terbayarkan ketika SD Mercusuar berubah menjadi SDN Matutuang serta menerima dana pembangunan dari pemerintah. Saat ini pendidikan di Pulau Matutuang jauh lebih baik dari 17 tahun yang lalu. Ibu satu ini juga mendirikan Paud serta SMPN disana, semua ia lakukan atas dasar keinginan kuat untuk mencetak anak-anak Indonesia yang lebih baik.

Di akhir masa pensiunnya, Ia masih berusaha mengejar gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Negeri Manado dengan mengikuti kelas jauh. Bagi Ibu L.T Nanangkong mendidik adalah jalan hidupnya, ia berkeinginan untuk terus mengajar di SDN Matutuang selepas pensiun. Semua ia lakukan agar dapat terus melihat perkembangan pendidikan yang ia perjuangkan bersama almarhum suaminya di pulau kecil di ujung utara Indonesia yang berbatasan dengan Negara Filipina.


Sumber : Pribadi

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini