Pernah mendengar nama Pulau Run? Ya, pulau kecil di Kepulauan Banda, Provinsi Maluku ini mungkin  belum begitu akrab ditelinga masyarakat luas. Namun siapa sangka, pulau ini menyimpan begitu banyak catatan sejarah yang cukup mencengangkan. Pada masa kolonial, pulau ini menjadi rebutan dua negara besar, yaitu Inggris dan Belanda. Sebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena pulau ini memiliki kekayaan yang tidak terhingga.

 Run atau Rhun adalah pulau yang memiliki panjang 3 kilometer dan lebarnya hanya 1 kilometer. Letaknya pun lebih dekat dengan Darwin, Australia ketimbang ibukota negara, Jakarta. Pada masa – masa awal pendudukan kolinial di Indonesia, pulau di Kabupaten Maluku Tengah ini memiliki kepentingan ekonomi yang snagat besar, dikarenakan kandungan rempah – rempah yang sangat banyak. Pala, biji tanaman Myristica fragrans   yang saat itu memiliki nilai sangat tinggi (setara dan bahkan lebih mahal dari emas) banyak ditemukan di Pulau Run. Sebab, Pulau Run adalah satu – satunya pulau yang ditumbuhi tanaman Pala.

Peta Pulau Run pada masa kolonial (sumber : wikipedia.org)
Peta Pulau Run pada masa kolonial (wikipedia.org)

Pala saat itu memiliki nilai jual yang sangat tinggi, dan tidak hanya digunakan sebagai bumbu masak, melainkan sebagai bahan pengawet makanan, obat penyakin dan berbagai hal lainnya. Kala itu, rempah – rempah dari Kepulauan Banda yang terdiri atas 10 pulau vulkanis tersebut hampir semuanya dikuasai Belanda, kecuali Pulau Run.  Belanda telah masuk ke pulau ini untuk membeli rempah pala sejak tahun 1603, namun pada tahun tahun 1616, Inggris menjadikan Run sebagai wilayah jajahan melalui sebuah kontrak yang menyatakan bahwa para penduduk Pulau Run menerima Raja Inggris sebagai pemimpin berdaulat di pulau Run.  Kabarnya, James I, Raja Inggris saat itu mengubah gelarnya menjadi ‘King of England, Scotland, France, Ireland and Run’ karena ia sangat gembira mendengar berita tersebut.

Jadi Rebutan, Ditukar dengan Manhattan

Pala, Rempah khas Pulau Run yang bernilai tinggi (sumber: foodal.com)
Pala, rempah khas Pulau Run yang kala itu jadi rebutan dua negara. (sumber: foodal.com)

Melihat hal tersebut, Belanda tidak tinggal diam. Pulau yang sangat kaya ini akhirnya dijadikan rebutan. Belanda mengepung pulau itu dan melakukan serangan. Penyerangan demi penyerangan dilakukan hingga akhirnya Inggris menyerah pada tahun 1920 dan meninggalkan Pulau Run. Namun, perebutan tidak selesai begitu saja.

Perebutan masih terus berlangsung hingga akhirnya memicu Perang Inggris – Belanda pada tahun 1652 – 1654. Perang tersebut diselesaikan dengan Perjanjian Westminster yang menyatakan bahwa Pulau Run harus dikembalikan ke Inggris. Usaha pertama untuk mengembalikan Pulau Run ke tangan Inggris pada tahun 1660 gagal karena ketegangan dengan Belanda. Pula pada tahun 1665, para pedagang Inggris diusir dari Pulau Run dan Belanda mulai menghancurkan pohon – pohon Pala.     Perang Inggris – Belanda yang kedua terjadi pada tahun 1665 – 1667 yang kemudian diselesaikan dengan Perjanjian Breda. Perjanjian terebut berisi ketetapan bahwa Pulau Run diserahkan pada Belanda, sementara Inggris mendapat Pulau Mahnattan di Amerika. Manhattan yang saat itu bernama  Niew Amsterdam diganti namanya menjadi New York City ketika dikuasai oleh Inggris. 

Pulau Run, Nasibmu Kini

Peta Kepulauan Banda saat ini (wikipedia.org)
Peta Kepulauan Banda saat ini (wikipedia.org)

Setelah ketetapan tersebut, Belanda mulai melakukan monopoli kebijakan perdagangan rempah – rempah di Pulau Run. Monopoli Belanda runtuh pada tahun 1817 setelah pendudukan pulau utamanya, Banda Besar oleh Kapten Cole pada 1810. Juga, monopoli itu runtuh karena pemindahan Pohon Pala ke Ceylon (Sri Lanka), Grenada dan Singapura dan koloni Inggris lainnya.  Pulau Run dan pamornya  sebagai berlian dua negara perlahan hilang.Setelah 350 tahun lebih, Manhattan berkembang sebagai kota metropolitan, sementara Run semakin terlupakan. Pulau ini menjadi salah satu ulau yang tertinggal dengan fasilitas yang sangat minim dan kurang memadai. Karena sempitnya pulau ini, jalan utamanya hanya bisa dilalui oleh gerobak. Pula akses untuk mencapai pulau ini sangat susah, dikarenakan lautan hanya tenang selama 3 bulan dalam satu tahun. Cuaca yang tak ramah tersebut sangat membatasi siapa pun yang ingin mengunjungi pulau ini.

Manhattan kian berkembang, sementara Pulau Run semakin dilupakan (liputan6.com)
Manhattan kian berkembang, sementara Pulau Run semakin dilupakan (liputan6.com)

Hingga saat ini, pala masih menjadi sumber penghasilan utama para penduduk. Tanaman ini masih ditanam secara organik dengan hasil panen yang juga diekspor ke luar negeri, hingga ke meja – meja restaurant di New York, daerah yang dulu pernah ditukar dengan pulau ini.


Sumber : liputan6.com wikipedia.org 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu