Lupa Sandi?

Indonesia di Hatiku

Yuka Ristia
Yuka Ristia
0 Komentar
Indonesia di Hatiku

Indonesia memang sudah tidak diragukan lagi sebagai negara yang kaya, negara yang kaya budayanya, negara yang kaya sumber daya alamnya, negara yang kaya suku, bangsa, dan bahasanya. Rasa-rasanya memang seharusnya bangga menjadi orang Indonesia karena berbagai hal bisa kita banggakan di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Pada kesempatan kali ini agaknya memang sangat diperlukan sebuah refleksi tentang Indonesia ini. Untuk itu di artikel ini akan dibahas mengenai salah satu desa yang ada di daerah pesisir Malang yang menjadi salah satu implikasi kekayaan negara tercinta Indonesia kita ini. Sebuah desa yang sangat menarik untuk dibahas, sebuah desa yang penuh dengan potensi yang melimpah.

Desa yang terletak di Malang pesisir ini namanya adalah desa Sitiarjo, satu dari 15 desa di Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Mengapa desa ini sangat menarik hati ? Dan apa saja potensi yang ada di desa ini ?

Sitiarjo yang menawan hati

Beberapa waktu yang lalu tepatnya pada hari Sabtu, 28 Januari 2017 saya bersama tim memutuskan untuk melakukan survei di desa Sitiarjo ini. Survei ini bertujuan untuk mencari informasi mengenai keadaan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sumbermanjing Wetan tersebut. Survei tersebut kami lakukan melalui wawancara live bersama Kepala Desa Sitiarjo tepat di rumah beliau pada pukul 10.00 hingga selesai.

Bapak Kepala Desa yang santun, yang baik hati, serta semangatnya yang tinggi meskipun usianya lanjut membuat kami antusias untuk terus bertanya dan mencecar pertanyaan kepada beliau perihal desa Sitiarjo, dan kami selalu terpukau dengan cerita-cerita yang terbukti secara empiris mengenai keadaan dan segala yang ada di desa Sitiarjo ini. Beliau menjawab setiap pertanyaan kami dengan memuaskan tentang desa Sitiarjo. Sitiarjo merupakan desa di mana mayoritas penduduknya beragama Kristen, tetapi perlu dicermati bahwa ada sebagian kecil yang beragama Islam, dan takjubnya kami mendengar cerita beliau bahwa di sana tidak pernah ada konflik sosial yang berhubungan dengan agama hingga saat ini.

Setiap orang meskipun hidup dengan keyakinan berbeda tetapi mereka memiliki pola relasi sosial yang sangat bagus. Contohnya saat hari raya keagamaan umat Kristen yaitu Natal, para umat Muslim di sana turut membantu dalam mengelola konsumsi misalnya untuk di makan para jemaat gereja, demikian pula sebaliknya jika umat Muslim ada kegiatan keagamaan. Sungguh paradoks sebenarnya melihat keadaan ini dengan yang terjadi di Indonesia beberapa waktu yang lalu mengenai konflik keagamaan tetapi artikel ini tidak akan membahas masalah itu.

Selanjutnya di desa Sitiarjo yang kira-kira dua jam perjalanan dari Malang kota untuk menuju ke desa ini memiliki kekayaan alam seperti kelapa, pisang yang di sepanjang daerah menghiasi. Setelah kami tanyakan warga di sana memang kebanyakan adalah petani yaitu padi dan ada yang tebu, pekerja kebun, dan ada beberapa yang beternak, serta tentunya ada yang hidup sebagai nelayan karena memang desa Sitiarjo merupakan daerah pesisir.

Bapak Kepala Desa yang bernama Lispianto Daud mengatakan bahwa ekonomi di sana dapat dikatakan cukup bagus, mengingat hasil alam yang melimpah dari daratan bahkan lautan. Padi dan tebu misalnya, saat panen biasanya akan di angkut oleh truk-truk untuk dijual, lalu kelapa yang degannya bisa dimanfaatkan untuk dikonsumsi, daunnya yang disebut blarak yang bisa diolah menjadi sapu lidi dan bernilai jual, serta pisang yang bisa dikonsumsi buah dan jantung pisang atau orang Jawa biasa menyebut ontong, serta daunnya yang bisa dijual ke kota. Dan tidak hanya itu di sana juga terdapat nelayan yang terbagi menjadi dua yaitu nelayan juragan yang memiliki kapal untuk mengangkut hasil tangkapan, dan nelayan kecil yang dengan jala mencari hasil lautnya. Hasil laut diantaranya ikan tuna, tongkol, teri, ikan karang, udang tambak, nener.

Selain itu juga ada beberapa orang yang memelihara ayam, kambing dan sapi yang tentunya juga bernilai jual. Dan yang yang juga menarik adalah bahwa pada tahun 2013-2015 Dinas Kelautan dan Perikanan mencanangkan program PDPT ( Pengembangan Daerah Pesisir Tangguh ) di daerah pesisir yang diikuti oleh warga di sana berupa penanaman bakau, pelestarian bakau, pelestarian penyu, penangkaran penyu, dan pelestarian terumbu karang. Dan hingga saat ini tersisa Pokmaswas atau Kelompok Masyarakat Pengawas yang ada di sana berhubung program PDPT hingga tahun 2015 lalu. Unik untuk dicermati bahwa keadaan di sana bahwa literasi maritim juga dikembangkan agar pengetahuan masyarakat mengenai kemaritiman bisa bertambah dan masyarakat tidak seenaknya sendiri mengeksplorasi hasil laut di sana.

Selain itu di Sitiarjo juga terdapat beberapa kesenian yang cukup menarik. Mengingat kesenian adalah bagian dari kekayaan Indonesia, kesenian merupakan hal yang sudah seharusnya juga dilestarikan. Beberapa kesenian di sana diantaranya adalah kuda lumping, orkes keroncong, orkes Asita, campur sari rohani, dan nada sion (musik). Hal inilah yang membuat desa Sitiarjo semakin menawan hati dan tentunya sudah seharunya kita bangga menjadi orang Indonesia.

Selain itu di sana setiap bulan Juni juga diadakan acara adat yaitu encek yaitu syukuran bersama seluruh warga desa. Dan tentunya beberapa hal lain yang menawan hati diantaranya adalah bahwa Sitiarjo adalah daerah pesisir dan dengan hal itu maka dekat dengan pantai. Jangan kuatir bagi kita sekalian yang suka ke pantai di sekitar sana terdapat banyak pantai seperti Sendang Biru, Pantai Tamban, Pantai Goa Cina, Sempu, dan anda sekalian akan disuguhi berbagai keadaan alam yang natural dan dengan hal itu bisa melepas penat untuk menikmati berbagai kekayaan di Indonesia ini.

Bangga jadi orang Indonesia

Dengan pembahasan artikel di atas setidaknya akan menjadi refleksi bagi kita sekalian bahwasanya Indonesia kita ini kaya, Indonesia kita ini unik, Indonesia kita ini patut dibanggakan, Indonesia kita ini tiada duanya. Dan sebagai orang Indonesia berbanggalah dengan segala eksistensi kekayaan yang dimiliki Indonesia ini. Selain itu kita juga perlu melestarikan dan merawat segala kekayaan Indonesia ini, segala tindakan eksploratif yang negatif tidak terjadi dan kita bisa terus menikmati Indonesia kita yang tercinta ini. Akhir kata dengan bangga saya mengatakan Indonesia di Hatiku.

Sumber: berdasarkan survei dan wawancara oleh penulis

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi75%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG YUKA RISTIA

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata