Lupa Sandi?

Mereka Bilang Tidak pada Rokok

Adriani Zulivan
Adriani Zulivan
0 Komentar
Mereka Bilang Tidak pada Rokok

Bahasan tentang rokok belum menjadi tema utama dalam keseharian masyarakat Indonesia. Padahal pengetahuan akan bahaya rokok menjadi hal mendesak, yang diperlukan untuk timbulkan kesadaran bersama. Kementerian Kesehatan tahun 2016 mencatat, 2 dari 3 orang Indonesia adalah perokok, dengan peningkatan jumlah perokok anak usia 10-14 tahun meningkat lebih dari 100% selama 20 tahun terkahir. Tingginya angka ini tentu berhubungan erat dengan tingkat kesehatan generasi Indonesia di masa mendatang.

Pemerintah tak dapat bekerja sendiri, masyarakat harus mendukung wujudkan upaya tersebut. Kesadaran akan pentingnya dukungan masyarakat ini membuat sejumlah komunitas mengambil peran dalam edukasi publik. Sebagian besar tergabung dalam gerakan Smoke Free Agent (SFA) yang menjaringkan berbagai komunitas yang memiliki perhatian sama di Indonesia.

Siapa saja mereka? Ini diantaranya.

Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT)
Melindungi bangsa Indonesia dari bahaya buruk produk tembakau untuk wujudkan masyarakat sehat, merupakan cita-cita komunitas ini. Didirikan pada 1998, Komnas PT menjadi koordinator bagi 23 organisasi dan individu yang tergabung di dalamnya. Lihat hal baik yang telah dilakukan di sini: http://komnaspt.or.id/

Baca Juga

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)
Meningkatkan kepedulian konsumen atas hak dan kewajibannya adalah tujuan dari pendirian YLKI pada 1973. Usaha menjadikan masyarakat kritis terhadap produk yang dikonsumsi demi melindungi diri, keluarga dan lingkungan ini, salah satunya ditujukan pada produk industri tembakau, yaitu rokok. Bentuk edukasi yang dilakukan YLKI terhadap bahaya rokok dapat disimak di sini http://www.ylki.or.id/

Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)
Didirikan pada 2000 sebagai bentuk keprihatinan terhadap masalah kemiskinan yang terjadi pada warga miskin di Jakarta. Salah satu pengeluaran terbesar rumah tangga masyarakat Indonesia adalah pembelian rokok, termasuk oleh keluarga miskin di Jakarta. FAKTA mengedukasi warga miskin Jakarta agar dapat mengalokasikan dana pembelian rokok tersebut untuk kebutuhan utama keluarga, seperti pemebuhan gizi anak. Bagaimana caranya? Simak lebih jauh di sini http://www.fakta.or.id/

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
Meski pemerintah RI belum tandatangai Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC), industri tembakau di Indonesia mulai masuki senjakala sebagaimana yang telah terjadi pada industri rokok di negara lain. Hal ini terjadi akibat makin tingginya kesadaran masyarakat dunia akan bahaya konsumsi rokok. Untuk itu, industri rokok kini sibuk menarget perokok muda, termasuk anak dan remaja sebagai perokok pengganti. Perokok pengganti adalah generasi yang disiapkan unruk menjadi pelanggan tetap produk tembakau di masa depan, agar industri rokok tetap dapat berjalan. Memastikan hal itu tidak terjadi, KPAI melakukan gerakan yang bisa disimak di sini http://www.kpai.go.id/

Pusaka Indonesia
Juga disebut Yayasan Pusaka Indonesia (YPI), yayasan yang berdiri pada 2000 ini berfokus pada perlindungan anak dan perempuan termasuk pemenuhan hak anak atas udara bersih. Mendorong lahirnya kebijakan publik dan kampanye untuk penegakan hak dan perlindungan anak merupakan sebagian bentuk kegiatan, lainnya dapat ditemukan di sini http://pusakaindonesia.or.id/

Smoke-Free Jakarta
Sebagai “wajah utama” Indonesia di mata dunia, Jakarta diharap mampu wujudkan kota bebas rokok. 35 persen penduduk Jakarta merokok, dengan tambahan perokok baru sebanyak 1 persen setiap harinya. Jumlah tersebut mengancam kesehatan warga non-perokok yang berbagi ruang hidup di Jakarta. Meski ada Peraturan Gubernur 50/2012 tentang kawasan dilarang merokok (KDM), pelanggaran masih saja terjadi. Untuk itu komunitas yang didukung Pemda DKI Jakarta ini membuka kanal pengaduan masyarakat terkait pelanggaran KDM. Ingin laporkan pelangaran? Bagikan di sini http://www.smokefreejakarta.or.id/

Tobacco Control Support Center (TCSC) Indonesia
Memahami resiko kesehatan dan beban ekonomi yang dihadapi oleh 250 juta penduduk Indonesia, TCSC berupaya mengembangkan respon terhadap perkembangan epidemi tembakau lewat penyusunan kebijakan bagi pengambil keputusan. Sebaga bagian dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), TCSC memahami benar posisi pengendalian dampak tembakau yang sangat rendah dalam agenda kesehatan masyarakat di Indonesia. Bagaimana bentuk upaya yang dilakukan, dapat dicermati di sini http://www.tcsc-indonesia.org

9lobal Cigaret Movement (9CM)
Nama 9CM juga mengacu pada puisi Taufik Ismail berjudul “Tuhan Sembilan Senti” yang menceritakan bagaimana masyarakat Indonesia mendewakan rokok, si sembilan centimeter, hingga tak lagi takut akan mati akibat dampaknya. Mewujudkan anak muda tanpa rokok dan Indonesia bebas rokok adalah misi dari komunitas anak muda ini. Selain Jakarta, 9CM juga ada di Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Bogor, Denpasar dan berbagai daerah lainnya. http://9cm.web.id/

Selain itu ada Klub Jantung Remaja dari Yayasan Jantung kita, Jogja Sehat Tanpa Tembakau, Goodlife Society Indonesia, Change, Aliansi Masyarakat Korban Rokok, Jaringan Perempuan Peduli Pengendalian Tembakau (JP3T), dan masih banyak lagi.

Kampus juga membuat gerakan serupa dengan membahas dampak tembakau di pusat-pusat studi seperti Muhammadiyah Tobacco Control Center (MMTC) di berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah, Center for Health Research (CHR) Universitas Indonesia, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi, dan masih banyak lagi.

Berbagai gerakan tersebut dibungkus dalam jargon Indonesia Bebas Rokok, Keren Tanpa Rokok, Bebas Asap Rokok, Suara tanpa Rokok, Manfaat Tanpa Rokok dan sejenisnya. Tertarik bergabung dan selamatkan Indonesia dari bahaya konsumsi rokok? Mari bilang tidak pada rokok, bersama mereka!

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih17%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi42%
Pilih TerpukauTerpukau8%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ADRIANI ZULIVAN

A big fan of Indonesian heritage--from culture to nature, tangible to intangible. Reading and writing as hobby, as well as dedicated work. Interested in urban discussion, disability rights, disaster m ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie