Lupa Sandi?

Ini Asal Mula Ketok Magic yang Melegenda di Indonesia

Candriko Pratisto
Candriko Pratisto
0 Komentar
Ini Asal Mula Ketok Magic yang Melegenda di Indonesia

Ketok magic merupakan jasa mereparasi plat body kendaraan yang terbilang murah meriah di kalangan masyarakat Indonesia. Selain harganya yang cukup bersaing, keunikan cara kerjanya dan hasil yang “magic” menjadi alasan mereka memilih jasa ini. Tersematnya kata “magic” pada jasa ini, juga tak luput dari dugaan masyarakat awam yang menyangkutkan adanya bantuan kekuatan magis atau gaib, tarif yang selalu dikaitkan dengan bilangan ganjil, terlebih proses pengerjaannya dilakukan di dalam ruangan secara tertutup, tidak mengizinkan konsumen untuk melihat prosesnya.

Meski disebut ketok magic, namun hasil yang diberikan oleh tiap-tiap bengkel belum tentu magic juga. Rahasia dibalik kesuksesan ketok magic tentu saja berkat keterampilan dari para mekaniknya, jadi bukan dibantu oleh tenaga gaib. Selain keterampilan, perkakas seperti palu, lamak, dan teter, menjadi senjata andalan dalam ketok magic.

Teter dan lamak merupakan lempeng besi yang terbuat dari baja. Lamak berfungsi sebagai penahan ketukan di bagian dalam atau belakang plat mobil, sedangkan teter berfungsi sebagai penahan ketukan dari depan plat mobil. Pengerjaan ketok magic, terdiri dari 22 lamak dalam bergam bentuk yang disesuaikan dengan bentuk body mobil, dua buah teter, dan satu palu. Perkakas-perkakas inilah yang menjadi awal mula istilah Ketok Magic sebelum populer.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Teter dan lamak merupakan perkakas utama dalam ketok magic (© Mochamad Khadafi dari Liputan6.com)

Sampai saat ini, para mekanik bengkel ketok magic percaya bahwa kualitas teter dan lamak yang paling baik berasal dari Blitar. Adalah Mbah Tumirin seorang pandai besi sejak tahun 1979. Ia membuat teter dan lamak di dapurnya yang terletak di Nglegok, Blitar. Kunci utama untuk memproduksi lamak dan teter yang berkualitas terletak pada bahan baku dan kerapihan bentuk. Bahan baku teter dan lamak produksi Mbah Tumirin terbuat dari besi baja bekas shock breaker truk, sehingga menghasilkan “benda pamungkas” yang kuat.

Sebelum disebut "Ketok Magic"

Kenteng teter merupakan nama asli dari Ketok Magic sebelum dikenal oleh masyarakat luas. Keahlian kenteng teter pertama kali diperkenalkan oleh Ahmad Kalsan atau biasa dipanggil Mbah Turut oleh warga desa Bangsri, Blitar, Jawa Timur.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Ahmad Kaslan atau Mbah Turut merupakan penemu metode kenteng teter (© Mochamad Khadafi dari Liputan6.com)

Sebelum menjadi ahli teter, Mbah Turut merupakan tukang patri keliling hingga suatu ketika ia dipercaya oleh seorang pelanggan untuk mereparasi mobilnya yang penyok. Mbah Turut pun menerima permintaan pelanggannya dengan syarat untuk ditinggal sendiri di garasi yang tertutup, serta dengan kondisi mobil tertutup dengan terpal.

Tidak butuh waktu lama, mobil itu pun selesai diperbaiki dengan kondisi mulus kembali. Dari keberhasilan mbah Turut, tersebarlah dari desa ke desa keahlian meneter di Blitar. Mbah Turut pun memiliki murid yang membantunya dalam mereparasi kendaraan pelanggannya yang kian hari kian banyak.

Sepeninggal Mbah Turut di tahun 1982, sudah banyak ilmu dan keterampilan meneter yang ia tularkan ke murid-muridnya sehingga sampai saat ini namanya diabadikan pada sebuah jalan di desa Bangsri, Blitar yang merupakn akses menuju ke kediamannya dan bengkel kenteng teter pertama.

Historia melansir dari majalah mobil dan motor M&M No. 15/XVII/Februari 1988, Kusmandi, pria kelahiran Blitar pada tahun 1959 merupakan murid Mbah Turut yang pertama. Ketekunan dan keuletannya saat belajar meneter pada Mbah Turut membuahkan keterampilan yang membawanya melalang buana ke luar daerah.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Kusmandi (bersedekap) dan karyawannya di bengkel ketok magic. (© Majalah M&M 1988 dari Historia)

Di Jogja, tempat Kusmandi merantau, ia membuka Kenteng Teter bersama kawan-kawannya. Keunikan dan keberhasilan meneter menjadi daya tarik bagi warga Jogja untuk mereparasi mobilnya yang penyok. Mereka datang ke bengkel penuh dengan rasa penasaran dengan reparasi yang dilakukan di dalam sebuah garasi secara tertutup dan hanya terdengar suara ketokan, lalu keluar garasi semuanya beres. Unik, rapi, dan cepat inilah kata yang ada dibenak konsumen sehingga lahirlah istilah Ketok Magic.

“Di kota Jogja inilah istilah Kenteng Teter berubah nama menjadi Ketok Magic. Istilah Ketok Magic timbul dari ketidakpercayaan masyarakat akan hasil pekerjaan kami. Ketika itu mereka beranggapan hasil kerja kami dilakukan atas bantuan magic. Mana mungkin kami bisa mengerjakan begitu cepat dan baik? begitu pikir mereka. Maka timbullah istilah baru, Ketok Magic.” Demikian Historia menulis.

Setelah sukses dengan bengkel pertamanya di Jogja, hasil dari usaha ini ia pergunakan untuk memodali cabang ketok magic miliknya di Jogja. Sampai akhirnya, merebak ke wilayah-wilayah lainnya. Umumnya setiap bengkel ketok magic menambahkan: Blitar, untuk memperkuat usahanya.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Ketok Magic Blitar (© Kaskus.co.id)

Setekah sukses di Jogja, pak Kusmandi melalang buana ke Jakarta membuka bengkel ketok magic di sekitar wilayah Condet Jakarta Timur. Usahanya di Jakarta kembali mendulang keberhasilan, banyaknya pelanggan yang terus berdatangan, membuatnya kewalahan sampai tega menolak pelanggan. Seiring berjalannya waktu, banyak bermunculan bengkel-bengkel ketok magic di sekitar sana hingga membuatnya pindah ke wilayah Buncit Jakarta Selatan.

Kenteng Teter atau Ketok Magic merupakan keahlian mereparasi yang masih ada sampai sekarang. Dibutuhkan ketekunan, terampil, dan jam terbang untuk menghasilkan sesutau yang “Magis”.


Sumber : Historia dan Liputan6

Pilih BanggaBangga34%
Pilih SedihSedih1%
Pilih SenangSenang14%
Pilih Tak PeduliTak Peduli1%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi8%
Pilih TerpukauTerpukau42%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG CANDRIKO PRATISTO

Senang mengkhayal di tengah bercerita ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas