Lupa Sandi?

Enggano, Pulau Kecewa yang Luar Biasa

Tedi CHO
Tedi CHO
0 Komentar
Enggano, Pulau Kecewa yang Luar Biasa

Kata Enggano berasal dari bahasa Portugis yang berarti ‘kecewa’. Tapi nampaknya kekecewaan itu pupus pasca Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan ekplorasi ke pulau terluar Indonesia itu. Sebab, lembaga non kementrian itu menemukan beragam kekayaan yang sangat potensial dan menunjukkan bila Enggano adalah pulau yang luar biasa. Baik itu kekayaan alam maupun sosial manusia Enggano.

Adalah Cornelis de Houtman, seorang pelaut berkebangsaan Portugis yang pertama kali melaporkan keberadaan Pulau Engano (baca: Enggano). Diduga, kata tersebut terucap karena apa yang mereka cari pada waktu itu tidak ketemu. Maklum pada abad ke-16, pesisir barat Sumatera dikenal kaya akan lada dan kopi. Tapi, Enggano tidak punya itu semua.


Namun, kata kecewa itu sudah saatnya dihapuskan. Pasalnya, pulau yang dihuni 2.600-an jiwa ini menyimpan potensi yang luar biasa. Baik itu dari keanekaragaman hayati, fauna, kebudayaan, pariwisata, dan lainnya. Hal ini terungkap setelah LIPI melakukan Ekspedisi Widya Nusantara, pada April-Mei 2015 lalu.

Disampaikan oleh Koordinator Penelitian LIPI Ary P Kiem, secara geologis, Enggano ternyata tidak pernah bergabung dengan pulau Sumatera. “Hal inilah yang membuat pulau ini menjadi luar biasa kaya yang tidak ditemukan di daratan Indonesia lainnya,” ujarnya.

Dengan keunikan sejarah geologinya itu, LIPI yakin Enggano memiliki tingkat endemisitas flora dan fauna tinggi. LIPI akhirnya menerjunkan 46 peneliti ke pulau Enggano. Benar saja, prediksi LIPI tepat. Fakta terungkap, Enggano amat kaya akan hayati yang yang endemik. Tak hanya itu, lebih dari 16 kandidat jenis baru flora dan fauna baru juga ternyata tumbuh di pulau yang punya 6 desa itu.

Misalnya, tanaman obat tumbuh subur di pulau yang masuk dalam Kabupaten Bengkulu Utara ini. Aneka sumber pangan alternatif serta sumber energi alternatif juga tersedia. Seperti pisang yang hanya tumbuh di pulau yang mengapung di Samudera tersebut. Pisang ini bisa dibuat tepung dan dijadikan sumber pangan.

Kata Ary, Enggano punya pisang yang hanya tumbuh disana. Kini, pisang ini terancam punah, karena tidak manis dan hanya digunakan untuk upacara adat saja. Tapi kedepan, pisang ini akan diteliti untuk dikawinsilangkan dengan pisang kepok yang berasal dari Sumatera Barat. Ini untuk mendapatkan ketahanan dari pisang Enggano dan rasa manis bisa didapat dari pisang kepok.

“Selain pisang, Enggano juga kaya akan salak dan tumbuhan pakis, yang secara biologis berbeda dengan tumbuhan di daerah lain,” tambah Ary.

Dari sisi fauna, ditemukan pula beberapa spesies baru di pulau yang berada di tengah-tengah Samudera Hindia tersebut. Kandidat spesies baru ini terdiri dari dua mamalia kecil jenis kelalawar, dua burung jenis burung hantu dan burung pelatuk, katak, ikan, dua jenis udang, dua capung, dan empat kupu-kupu malam.

Selain kandidat spesies baru, tim peneliti juga berhasil menemukan jenis fauna yang hanya bisa ditemukan di Enggano. Hewan tersebut terdiri dari 5 spesies burung, dua ular yang salah satunya adalah ular tikus yang selama 80 tahun terakhir belum ditemukan lagi.

Lebih lanjut ia menyampaikan, dalam ekpedisi yang dilakukan selama 16 hari itu, tim mikrobiologi LIPI juga meneliti beragam mikro-organisme Enggano. Mulai dari kapang, khamir, bakteri, aktinomisetes, arkea, hingga mikroalga. Zat aktif mikroorganisme itu diteliti dan beberapa di antaranya diyakini punya manfaat obat, antibiotika dan energi.

Untuk pepohonan, Enggano punya potensi kayu industri, khususnya merbau yang berkekuatan tinggi. Namun, ia sarankan agar eksploitasi terhadap kayu itu tidak dilakukan secara berlebihan. Karena bisa membahayakan keseimbangan ekosistem Enggano. Ia pun berharap agar warga Enggano memperbanyak tanaman kayu bisa diperbanyak.

“Bisa dilakukan dengan tumpang sari. Ditanam di sela-sela kopi atau lainnya,” jelasnya.

Jika tadi hanya kekayaan alam. lebih dari itu, ekspedisi multidisiplin ini juga berhasil mengumpulkan data terkait sejarah, bahasa, dan adat istiadat masyarakat setempat. Dulunya, Enggano sempat dihuni 6.000-8.000 orang jiwa. Benar, angka ini lebih besar daripada jumlah warga sekarang. Tapi wabah penyakit dan fertilitas orang Enggano yang rendah membuat jumlah warga turun drastis.

Untuk bahasa, hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Enggano relatif masih kuat dipegang dan digunakan oleh orang-orang Enggano. Tapi, karena jumlah orang Enggano yang terus menipis, dikhawatirkan bahasa ini juga akan punah lama-kelamaan karena kehilangan penuturnya.

Sementara dari sisi adat-istiadat, Ary menampaikan, tokoh-tokoh adat dan masyarakat kebanyakan masih menggunakan adat sebagai rujukan perilaku keseharian mereka. “Karena itu masih sering terjadi konflik-konflik antara adat dan pemerintahan ‘modern’. Pihak adat masih merasa memiliki hak atas penguasaan dan pengelolaan tanah-tanah adat, termasuk hutan, areal pertanian dan pemukiman,” pungkasnya.

Samudera Hindia Jadi Pusat Peradaban
Sebelumnya, Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain mengatakan kekayaan Enggano ini harus didukung oleh pemerintah setempat. Simposium ini sendiri berguna untuk menginformasikan keluarbiasaan potensi Enggano tersebut. Karena kalau potensi ini tidak diketahui maka bukan tidak mungkin kekayaan tersebut akan hilang.

“Makanya kita adakan simposium ini agar potensi tersebut dijaga. Jangan sampai, setelah hilang kita baru sadar kalau kita pernah punya (kekayaan),” kata Iskandar.

Terlebih lagi , dimasa sekarang ini, Samudera Hindia lah yang akan memimpin pusat perdagangan dan perkembangan. Sejauh ini saja, sudah ada setengah dari kapal tanker dan tiga perempat kapal kontainer yang melewati Indian Ocean. Karena itu lah LIPI melakukan penjelajahan ke wilayah yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia pada 2015 ini.

“Setelah di abad-abad sebelumnya Samudra Atlantik dan Pasifik yang menjadi pusat perkembangan peradaban, di abad 21 ini, giliran Samudra Hindia yang menjadi pusat perkembangan. Peneliti kita melakukan penelitian ini melakukan ekspedisi hingga ke daerah Sabang dengan menggunakan kapal laut,” jelasnya.

Dia pun berharap, dengan adanya simposium ini, Bengkulu sebagai ‘pemilik’ Enggano bisa memfokuskan pengembangan pulau ini. Pasalnya, masih banyak hal yang harus dibenahi di Enggano. “Hasil penelitian tidak akan bermakna kalau tidak mendorong kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Karena itu, simposium ini dilakukan langsung di Bengkulu,” katanya.

Tak hanya pemerintah, masyarakat secara luas juga bisa ikut menjaga pulau ini. Sangat disayangkan, lanjutnya, Enggano sempat dilanda bencana kebakaran yang cukup luas baru-baru ini. Padahal, LIPI sendiri tidak menemukan adanya gambut di pulau tersebut.

“Artinya kebakaran ini murni akibat kelalaian atau karena aktivitas manusia,” ujarnya.

Enggano Kurang Perhatian
Disisi lain, Kepala Suku Enggano Mulyadi Kauno mengakui selama ini Enggano kurang begitu diperhatikan. Misalnnya, masyarakat Enggano masih kekurangan air bersih. Memang pemerintah melalui TNI AL sudah memberikan bantuan penyulingan air minum. Tapi, kondisinya saat ini sudah rusak dan tidak berfungsi lagi.

“Sekarang ini, galon-galon untuk mengisi air minum itu bergelimpangan karena mesinnya rusak. Fasilitas penyulingan itu belum kami rasakan manfaatnya,” ungkapnya.

Harga BBM di wilayah tersebut juga jauh dari harga yang dijual di SPBU. Padahal, BBM terkhusus jenis Premium dan Minyak Tanah merupakan salah satu kebutuhan sehari-hari yang tak bisa ditinggalkan. Terakhir, ia minta pemerintah untuk segera menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) tentang pengakuan dan perlindungan adat Enggano.

“Saya sudah sampaikan sejak lama ini, kami mohon segera diterbitkan Perda ini,” imbuhnya.
Terkait dengan kekayaan Enggano, ia mengaku baru tahu. “Selama ini kami tidak tahu kekayaan yang kami punya. Tak jarang kalau ada burung-burung yang dibilang langka itu di samping rumah sering kami bunuh-bunuhi saja,” ujarnya.

Ia pun mendukung upaya pembangunan di Enggano, “selama tidak merusak Enggano.”

* Artikel ini saya tulis saat saya masih aktif menjadi wartawan di SKH Bengkulu Ekspress. Selain diterbitkan di surat kabar, artikel ini juga diterbitkan di www.lipi.go.id

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih17%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau17%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG TEDI CHO

Pecinta kopi dan pecandu internet. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara