Jika kawan membuka halaman Google hari ini, pasti muncul sesosok orang tua berkaos hitam sedang menghisap cerutu dengan latar belakang sapuan warna hijau bertuliskan Google. Dialah seniman tanah air yang mendapatkan apresiasi dari perusahaan mesin pencari asal Amerika serikat, Google. Namanya adalah Affandi Koesoema, seorang maestro seni lukis kebanggaan Indonesia. Ia lahir di Cirebon, Jawa Barat tepat hari ini tahun 1907.

Jika kemarin wajah penulis Indonesia, Pramoedya Ananta Toer yang menghiasi halaman pembuka Google, maka hari ini giliran wajah seniman Indonesia, Affandi Koesoema. Hasil karya Affandi bukan hanya dikenal di tanah air, tetapi juga mendapatkan sambutan baik di berbagai negara. Yang unik dari Affandi adalah caranya melukis. Pelukis satu ini tidak membutuhkan palet maupun kuas, yang ia butuhkan hanyalah selembar kanvas dan cat. Berbeda dengan pelukis lainnya, ia secara langsung membubuhkan cat dari kemasannya ke atas kanvas, kemudian melukis menggunakan jari jemarinya secara langsung. Berkat keunikannya, namanya dikenal di berbagai penjuru dunia dan momen ulang tahunnya dirayakan oleh Google sebagai Google Doodle hari ini.

Affandi Koesoema
Affandi Koesoema

Dilansir dari tekno.kompas.com, “Doodle hari ini mengenang Affandi dengan menerapkan gaya yang mirip,” tulis Google dalam laman penjelasan mengenai ulang tahun Affandi.

Anggota dari Kelompok Lima Bandung – kelompok lima pelukis Bandung – ini memiliki pola pikir yang sederhana, hingga pernah suatu kali, Affandi kebingungan ketika harus menjawab pertanyaan kritisi Barat yang mempertanyakan konsep dan teori yang ia terapkan pada lukisannya. Kerapkali digolongkan sebagai pelukis beraliran ekspresionisme, justru Affandi sendiri tidak mengetahui apa itu aliran ekspresionisme.

Affandi adalah salah satu pelukis Indonesia yang paling terkenal di dunia internasional. Ia kerapkali menerapkan gaya ekspresionis dan romantisme yang khas di setiap lukisan yang ia buat. Sampai saat ini, tercatat lebih dari dua ribu lukisan yang telah ia hasilkan.

Salah satu karya lukis Affandi
Salah satu karya lukis Affandi

Meskipun tak mengenal teori-teori melukis, atas kejeniusannya dalam melukis, banyak sudah penghargaan yang ia peroleh di bidang seni lukis. Hal inilah yang membuat namanya semakin membumbung dikenal di berbagai negara, mulai dari Piagam Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1969, Doktor Honoris Causa dari University of Singapore pada 1974, Dag Hammarskjold International Peace Prize di Florence, Italia pada 1997, serta beberapa penghargaan internasional lainnya.

 

Dibalik Citranya sebagai Seorang Pelukis

Meskipun bakat melukis sangat kental melebur dalam dirinya, ternyata putra dari R. Koesoema ini juga pernah menjajaki beberapa profesi lain sebelum serius menjadi seorang pelukis. Ia pernah bekerja sebagai guru, penggambar billboard film di bioskop di bandung, pembuat gambar reklame, sampai pemeriksa karcis. Namun tetap saja ia kembali ke bakat alaminya, melukis. Ketika ia menjadi seorang penggambar billboard film di bioskop, cat sisa-sisa pekerjaan disimpannya dan digunakan untuk melukis. Sebagai seorang seniman, Affandi juga aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, melalui lukisan.

Ketika hari kemerdekaan Indonesia, banyak pelukis yang ambil bagian, melukis slogan-slogan pembakar semangat, baik di tembok maupun gerbang kereta. Salah satunya adalah Affandi, ia berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan dengan membuat poster-poster propaganda “Boeng, Ajo Boeng” yang bertujuan membakar semangat pemuda merebut hak-hak bangsanya. Karya tersebut merupakan ide Soekarno dan yang dijadikan sebagai model adalah Dullah, temannya sesama pelukis.

Karya Affandi 'Boeng, Ajo Boeng'
Karya Affandi 'Boeng, Ajo Boeng'

 

Setelah Indonesia merdeka, di akhir tahun 40-an hingga awal 50-an, Affandi melanjutkan karirnya sebagai seorang seniman. Pada awalnya, ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah melukis di Santiniketan, India. Namun ketika pihak Santiniketan mengetahui hasil lukisan Affandi, mereka menolaknya karena dinilai sudah ahli dan tidak membutuhkan pendidikan melukis lagi. Akhirnya, beasiswa yang ditermanya ia gunakan berkelana keliling dunia untuk melukis. Ia juga memamerkan karya-karyanya di ibu kota negara-negara Eropa, termasuk Paris, London, dan Roma.

Seniman yang sering mengatakan bahwa dirinya adalah pelukis kerbau – pelukis tidak ahli - ini tutup usia pada 23 Mei tujuh belas tahun silam. Hingga kini, karya-karyanya dapat dinikmati di Museum Affandi, Yogakarta.


Sumber:

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu