Pagi tadi matahari bersinar cerah. Puluhan orang berbaris rapi di Taman Wijaya Brata, Umbulharjo, Yogyakarta. Mereka bersiap mengikuti upacara ziarah sipil, sebagai peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hardiknas diperingati tiap 2 Mei, hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara yang merupakan Bapak Pendidikan Nasional.

Taman Wijaya Brata merupakan komplek pemakaman keluarga besar Yayasan Perguruan Taman Siswa, atau dikenal dengan Taman Siswa saja. Taman Siswa merupakan nama sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar pada 3 Juli 1922, untuk mencerdaskan anak-anak pribumi non priyayi yang di masa itu tak dapat mengenyam pendidikan.

Ki Hadjar lahir dalam keluarga ningrat Pakualaman, sebuah Kerajaan Kadipaten di Yogyakarta. Soewardi Soerjaningrat adalah nama aslinya, dengan gelar Raden Mas. Di usia 40 tahun, ia menanggalkan gelar kebangsawanan. Hal ini untuk mendekatkan dirinya pada rakyat yang diperjuangkannya.

Wartawan, penulis, pendidik, dan menteri ini, meninggalkan berbagai jejak hidupnya di Kota Yogyakarta. Tiap tahunnya jejak tersebut dijelajahi oleh Indonesian Heritage Inventory (IHI), sebuah komunitas pemerhati isu pusaka dan sejarah. Tempat kelahiran, perjuangan, pusara hingga museum tentang diri Ki Hadjar mereka jelajahi. Termasuk bertemu dengan cucu Ki Hadjar. Berikut rute yang dijelajahi:

Galih, Edukator Museum Puro Pakualaman, jelaskan silsilah Ki Hadjar Dewantara. © Adriani Zulivan/GNFI
Galih, Edukator Museum Puro Pakualaman, jelaskan silsilah Ki Hadjar Dewantara. © Adriani/GNFI

1. Kraton Kadipaten Pakualaman

Terletak sekitar 2,5 kilometer arah timur Kraton Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman menjadi pembuka rute jelajah ini. Di Museum Puro Pakualaman yang terletak di dalam komplek kerajaan tersebut, dipajang gambar tulisan tangan yang membentuk gambar pohon sepanjang 13,5 meter. “Serat susunan huruf jawi yang menggambarkan silsilah kerajaan Pakualaman ini, dapat ditelusuri asa-usul Ki Hadjar,” kata Galih, Edukator Museum.

Museum Dewantara Kirti Griya. © Adriani Zulivan/GNFI
Museum Dewantara Kirti Griya. © Adriani/GNFI

2. Museum Dewantara Kirti Griya

Bangunan gaya Jawa yang berdiri pada 1925 itu, tercatat dalam Buku Register Kraton Yogyakarta atas nama Ki Hadjar Dewantara, Ki Sudaminto, Ki Supratolo dari Mas Adjeng Ramsinah. “Pada 1951 bangunan tersebut dihibahkan kepada Yayasan Persatuan Perguruan Tamansiswa, yang enam tahun kemudian mengubahnya menjadi museum,” jelas pengelola museum Sri Mulyani.

Sri Mulyani, sejak 1988 menjadi pengelola Museum Dewantara Kirti Griya. © Adriani/GNFI
Sri Mulyani, sejak 1988 menjadi pengelola Museum Dewantara Kirti Griya. © Adriani/GNFI

Museum yang terletak di Jalan Kusumanegara 131 ini menyimpan sekitar 3.000 barang kenangan Ki Hadjar bersama istri. Diantara barang tersebut, yang paling berharga adalah naskah, foto, koran, buku, majalah, serat dan syair milik atau tentang Ki Hadjar, yang disimpan di dalam perpustakaan di samping bangunan utama museum.

Pendopo Taman Siswa. © Adriani/GNFI
Pendopo Taman Siswa. © Adriani/GNFI

3. Pendopo Agung Taman Siswa

Berada satu komplek dengan Museum Dewantara Kirti Griya, bangunan yang dibangun pada 1938 ini peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Nyi Hadjar. Pendopo tersebut digunakan untuk kegiatan Taman Siswa, dimulai dengan Kongres Taman Siswa. Kini bangunan tersebut difungsikan sebagai arena kegiatan yayasan, termasuk penyelenggaraan latihan gamelan.

Majelis Ibu Pawiyatan. © Adriani/GNFI
Majelis Ibu Pawiyatan. © Adriani/GNFI

4. Balai Majelis Ibu Pawiyatan

Bangunan bergaya hindis ini dulunya merupakan bagian dari Penjara Wirogunan, yang terletak di seberang kawasan Kadipaten Pakualaman. Kini bangunan ini berfungsi sebagai kantor Balai Majelis Ibu Pawiyatan yang merupakan pusat pendidikan Taman Siswa.

Teguh Jasmadi, penjaga Majelis Ibu Pawiyatan. © Adriani/GNFI
Teguh Jasmadi, penjaga Majelis Ibu Pawiyatan. © Adriani/GNFI

Menurut penjaga Teguh Jasmadi (57), bangunan ini dibeli Ki Hadjar pada 1930 untuk dijadikan rumah dinas guru. Teguh telah lama mengabdi pada keluarga Taman Siswa, sejak ia menjadi penjaga kediaman Ki Hadjar hingga Nyi Hadjar mangkat.

SMK Ibu Pawiyatan Taman Siswa. © Adriani/GNFI
SMK Ibu Pawiyatan Taman Siswa. © Adriani/GNFI

5. SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa

Merupakan bagian dari komplek Perguruan Taman Siswa, yang terletak berjajar dengan Balai Majelis Ibu Pawiyatan. Bangunan ini merupakan salah satu dari bangunan tua yang masih tersisa dalam sejarah Taman Siswa. Jika dahulu menjadi bagian dari kantor Sekolah Taman Siswa, bangunan tersebut kini menjadi ruang belajar siswa SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa. 

Ida, cucu Ki Hadjar Dewantara di kediamannya. © Adriani/GNFI
Ida, cucu Ki Hadjar Dewantara di kediamannya. © Adriani/GNFI

6. Kediaman Ibu Ida

Sejak dipersunting Ki Hadjar pada 1907, Raden Adjeng Sutartinah dikenal dengan sebutan Nyi Hadjar. Ia adalah sosok penting di balik perjuangan Ki Hadjar dalam meletakkan sistem pendidikan di tanah air. Atas perjuangannya turut memajukan pendidikan dan peran pentingnya dalam Perguruan Taman Siswa setelah meninggalnya Ki Hadjar, pemerintah RI menyematkan gelar “Pahlawan Pergerakan Kebangsaan dan Kemerdekaan serta tanda kehormatan Satya Lencana Kebudayaan.

Ida (62), salah satu cucu Ki Hadjar menceritakan kedekatannya dengan Nyi Hadjar. “Eyang sering mengumpulkan cucu-cucunya, untuk bercerita, salah satunya cerita tentang pertemuan dengan Eyang Kakung (Ki Hadjar--Red).” Nyi Hadjar kerap mengajak cucunya ke kebun di belakang rumah kediaman mereka, “Kami diajari berhitung, dengan menghitung pohon kelapa,” kisah Ida.

Ki dan Nyi Hadjar memiliki enam anak. Ida tak sempat bertemu dengan kakeknya, yang telah berpulang ketika ia lahir. Kini Ida tinggal di seberang Balai Majelis Ibu Pawiyatan, menempati sebuah bangunan kecil yang dipinjamkan Yayasan Perguruan Taman Siswa. Bersama putranya, ia hidup dari hasil warung angkringan yang mereka kelola.

Rektorat UST, bekas kediaman Ki Hadjar. © Adriani/GNFI
Rektorat UST, bekas kediaman Ki Hadjar. © Adriani/GNFI

7. Rektorat  Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST)

Bangunan yang dulunya merupakan kediaman keluarga Ki Hadjar itu, kini menjadi bagian dari komplek UST. Terletak di Jalan Kusumanegara, pada bangunan ini terekam jejak Ki dan Nyi Hadjar. Rumah kediaman yang ditempati pasca Ki Hadjar menderita sakit tersebut, kini menjadi Rektorat Universitas Sarjanawiyata (UST). Di rumah ini pula Nyi Hadjar meninggal dunia pada 1971.

Gerbang Taman Wijaya Brata, pusara Ki Hadjar Dewantara. © Adriani/GNFI
Gerbang Taman Wijaya Brata, pusara Ki dan Nyi Hadjar Dewantara. © Adriani/GNFI

8. Taman Makam Wijaya Brata

Di sinilah peringatan Hari Pendidikan Nasional dipusatkan setiap tahunnya. Di tempat ini terdapat pusara Ki dan Nyi Hadjar dan sejumlah tokoh Taman Siswa Lainnya. Kawasan yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya pada 2007 ini, juga menjadi pusara bagi sejumlah tokoh nasional lainnya.

Eko Widiyantoro, juru kunci Taman Wijaya Brata. © Adriani/GNFI
Eko Widiyantoro, juru kunci Taman Wijaya Brata. © Adriani/GNFI

“Setidaknya ada 41 tokoh yang dimakamkan di sini,” terang Eko Widiyantoro (39). Pria yang berprofesi sebagai pengumpul sampah ini, sejak 1993 bertugas sebagai Juru Kunci di Taman Wijaya Brata. Jabatan ini didapat secara turun-temurun, yang diwariskan oleh bapak dan kakeknya.

Salah satu panel yang mengelilingi pusara Ki Hadjar Dewantara. © Adriani/GNFI
Salah satu panel yang mengelilingi pusara Ki Hadjar Dewantara. © Adriani/GNFI

Pusara Ki dan Nyi Hadjar menempati lahan terluas, dengan dasar berupa bangunan tinggi semacam panggung. Di latar tinggi ini ada pula makam putra dan putri Ki Hadjar, dengan sekeliling latar berupa 21 ukiran panel yang mengisahkan perjalanan Ki dan Nyi Hadjar dalam pergerakan nasional.

Pusara Ki Hadjar Dewantara dan Keluarga. © Adriani/GNFI
Pusara Ki Hadjar Dewantara dan Keluarga. © Adriani/GNFI

Tut wuri handayani, slogan populer yang digagas Ki Hadjar ditulis di depan pusara. Tiap tanggal 2 Mei, seluruh pusara bertabur bunga para peziarah.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu