Lupa Sandi?

Merayakan Hari Lahir Buddha dengan Khidmat di Rumah Terbesarnya, Candi Borobudur

Zia Dzulfia
Zia Dzulfia
0 Komentar
Merayakan Hari Lahir Buddha dengan Khidmat di Rumah Terbesarnya, Candi Borobudur

Ribuan tahun lalu saat memutuskan untuk meninggalkan segala kesenangan duniawi dan memulai pertapaan panjang, tak pernah terbayangkan oleh Siddharta Gautama hari kelahirannya akan dirayakan secara besar-besaran di tanah yang bahkan mungkin tak pernah ia tahu namanya: Indonesia.

Buddha dilahirkan sebagai Siddharta Gautama di kerajaan kecil kaum Sakya di dekat lereng Pegunungan Himalaya, sebuah daerah yang sekarang terletak di selatan Nepal. Tempat yang benar-benar jauh dari Indonesia. Sebagai pemuda istana, Siddharta biasa dinina-bobokan dalam kemewahan. Semua keperluan dan keinginannya terpenuhi, namun kemudian justru inilah yang menjadi titik tolak dalam hidupnya. Ia dirundung pertanyaan apakah kita hidup hanya untuk menikmati kesenangan indrawi, mendapatkan kekayaan, status, dan kekuasaan? Atau adakah sesuatu yang lebih berharga dan nyata?

salah satu arca Buddha di Borobudur (dok/keywordsking.com)
salah satu ilustrasi arca Buddha di Borobudur (dok/keywordsking.com)

Perenungan itu akhirnya terjawab saat usianya 29: Siddharta menyimpulkan bahwa pencarian terhadap penerangan memiliki prioritas yang lebih tinggi daripada pengharapan akan kekuasaan atau panggilan tugas duniawi. Perenungannya membawa ia pada pertapaan panjang yang berhasil membuatnya menjadi ‘Yang Tercerahkan Sepenuhnya’. Seorang yang dikenal bijaksana hingga ajarannya yang berfokus pada kebaikan dan pembebasan akan penderitaan sampai ke tanah Nusantara.

Masuknya agama Buddha di Indonesia terjadi sekitar awal abad pertama, saat perdagangan melalui jalur laut dimulai. Sarjana Tionghoa bernama I-Tsing lewat catatan perjalanannya saat itu memperlihatkan bahwa Kerajaan Sriwijaya yang ada di Sumatera menjadi asal mula peranan kehidupan agama Buddha di Indonesia. Agama Buddha juga pada akhirnya sampai di Jawa ditandai dengan dibangunnya satu candi bercorak Buddha terbesar di dunia, Candi Borobudur dibawah dinasti Syailendra pada abad ke-8 M.

Baca Juga
ilustrasi upacara keagamaan di Borobudur masa kerajaan tradisional
ilustrasi upacara keagamaan di Borobudur masa kerajaan tradisional

Hadirnya enam agama resmi di negeri ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan tempat berkembang yang baik bagi banyak agama, karena sifat keterbukaan penduduknya. Ditilik dari sejarahnya, masing-masing agama saling berakulturasi dan menghasilkan kebudayaan baru yang beragam. Hal tersebut bisa dilihat dari banyak peninggalan bangunan dan budaya, misal salah satunya arsitektur Masjid Menara Kudus yang merupakan hasil dari akulturasi Islam dan Hindhu.

Watak masyarakat asli Indonesia yang biasa saling menghormati satu sama lain ini pun masih bisa terlihat dalam perayaan Waisak yang digelar di Candi Buddha terbesar di dunia, Candi Borobudur. Meski saat ini jumlah penganut Buddha hanya 0,84% dari jumlah penduduk Indonesia, namun perayaan Waisak tetap meriah, megah, dan khidmat. Sehingga Waisak menjadi perayaan tahunan yang selalu ditunggu-tunggu oleh wisatawan dalam dan luar negeri, baik yang memeluk agama Buddha atau bukan.

Perayaan yang Khidmat di Rumah Buddha Terbesar di Dunia

Candi Borobudur sudah sejak lama menjadi tempat bagi rangkaian perayaan Waisak. Untuk tahun ini, meski puncak perayaan Hari Raya Waisak jatuh pada hari Kamis (11/5) di Candi Boroboudur Magelang, namun umat Buddha sudah menjalankan ritual sejak Sabtu (6/5) seperti yang dijadwalkan oleh Ikatan Umat Buddha Indonesia, Walubi.

ramainya perayaan Hari Raya Waisak 2017
ramainya perayaan Hari Raya Waisak 2017

Dengan mengusung tema “Tingkatkan Kesadaran Menjadi Kebijaksanaan”, umat Buddha selain melaksanakan ritual juga menggelar bakti sosial berupa pengobatan gratis di pelataran Taman Lumbini Komplek Candi Agung Borobudr zona 2 pada hari Sabtu dan Minggu lalu (6-7/5/2017)

Sesudah itu pada hari Senin 8 Mei lalu, ritual keibadatan baru benar-benar di mulai. Hari itu para Bhikku melakukan pengambilan Air Berkah dari Mata Air Jumprit yang kemudian disakralkan di Candi Mendut. Perlu diketahui, air bagi umat Buddha merupakan lambang kesejukan, kesuburan, energi yang positif, serta menjadi teladan akan sifat rendah hati, penuh damai, menghilangkan kebencian, dan keserakahan pada diri manusia.

Selain air, terdapat pula elemen lain yang menyertai ritual Waisak ini, yaitu api. Dalam ritual yang dilakukan pada hari selanjutnya yaitu Selasa 9 Mei lalu, terdapat api abadi yang disemayamkan di Candi Mendut. Api yang diambil dari Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah itu kemudian disandingkan dengan air suci dan nantinya akan diarak umat menuju Candi Borobudur pada detik-detik Tri Suci Waisak. Bagi umat Buddha, api merupakan simbol semangat dan energi dalam kehidupan manusia.

sebagian Bhikku berjalan kaki di area Candi Prambanan
sebagian Bhikku berjalan kaki di area Candi Prambanan (dok/CNNIndonesia)

Kemudian pada hari ini, Rabu (9/5) umat Buddha akan berjalan kaki bersama para Bhikku sambil membaca Paritta Suci (kumpulan ayat suci dan doa-doa) yang dilanjutkan dengan doa bersama masing-masing majelis yang kemudian akan dilanjutkan dengan acara yang menjadi primadona banyak kalangan, yaitu pelepasan lampion pada pukul 9 malam.

Menerbangkan harapan dalam lampion (dok/sekalijalan.com)
Menerbangkan harapan dalam lampion (dok/sekalijalan.com)

Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Edy Setijono mengungkapkan, proses pelepasan lampion ini memiliki makna penting, karena dalam setiap lampion yang dilepaskan berisi harapan dan doa bagi dirinya sendiri, orang yang dicintai, maupun bangsa dan negara. Ribuan lampion yang diterbangkan saat perayaan akan menciptakan pemandangan yang luar biasa indah, inilah yang menjadi daya tarik terbesar bagi wisatawan untuk melihat ritual perayaan Waisak.

Untuk bisa ikut menerbangkan lampion, wisatawan cukup membayar sumbangan sebesar Rp100 ribu di loket resmi Candi Borobudur. Hanya saja yang perlu diingatkan kembali, setelah pelepasan lampion wisatawan tak diperbolehkan naik ke atas candi. Hal tersebut dilakukan agar umat Buddha bisa tetap khusuk menjalankan ibadah dan merayakan hari lahir Buddha dengan khidmat hingga matahari terbit esok hari

*
Sumber utama:

Jurnal 'Buddha dan Pesannya' karya Bhikku Bodhi

Website resmi Ikatan Umat Buddha Indonesia

cnnindonesia.com

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau25%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ZIA DZULFIA

Sedang hidup dikelilingi karakter fiksi. Paling suka makan pop mie lewat jam 12 malam di kereta saat perjalanan keluar kota. Biasa menulis hal-hal remeh. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata