Lupa Sandi?

Pelajar Asal Aceh Berhasil Buat Sumber Listrik dari Pohon Kedondong

adli hazmi
adli hazmi
0 Komentar
Pelajar Asal Aceh Berhasil Buat Sumber Listrik dari Pohon Kedondong

Di dunia yang serba maju ini kita seringkali dikejutkan oleh beberapa anak muda yang melakukan terobosan luar biasa dan berguna untuk sekitarnya. Salah satu yang pernah dibahas oleh media adalah alat perontok jagung yang diciptakan oleh anak SD dari Gunung Kidul brnama Ahnaf Fauzy Zulkarnain.

Alat ciptaannya berguna untuk membantu para petani jagung disekitarnya untuk merontokkan jagung tanpa harus menggunakan metode manual yakni dengan tangan yang membuat tangan perontok jagung sakit. Tak lama ini, publik dihebohkan lagi oleh seorang anak dari Aceh yang temuannya bak temuan ilmuwan professional.

Adalah Naufal Rizki, pemuda berumur 15 tahun asal Aceh yang menggunakan pohon kedondong sebagai sumber listrik. Penemuan ini cukup mengejutkan mengingat sumber listrik yang biasa kita gunakan adalah dari batu bara dan derasnya aliran air seperti yang dilakukan oleh ibu Tri Mumpuni, sedangkan sumber listrik dari pohon belum begitu terdengar informasinya. Pohon kedondong pijar yang dipilih oleh Naufal ini sebenarnya memiliki keasaman yang mampu menghantarkan listrik.

Naufal Rizky (sumber : Dunia Energi)
Naufal Rizky (sumber : Dunia Energi)

Baca Juga

Namun untuk membuat pohon kedondong ini benar-benar dapat dimanfaatkan ternyata membutuhkan perjuangan yang cukup sulit. Naufal memulai perjalanannya menemukan sumber listrik ini dengan berpikiran bahwa setiap yang memiliki asam dapat menghantarkan listrik, pemikiran ini didapatnya dari ilmu pengetahuan alam yang ia pelajari di sekolah. Untuk itu ia memulai eksperimen dari satu pohon ke pohon yang lain.

"Awalnya saat saya mempelajari ilmu pengetahuan alam, saya membaca bahwa buah yang mengandung asam katanya bisa menghantarkan listrik, akhirnya saya lakukan uji coba pada buah kentang. Setelah itu saya berpikir lagi, kalau buahnya mengandung asam berarti pohonnya juga mengandung asam, akhirnya saya mulai melakukan eksperimen," ujarnya kepada media.

Beberapa pohon pun ia coba namun gagal, termasuk pohon mangga. Namun, pada akhirnya ia menemukan bahwa pohon kedondong pagar dapat menghantarkan 0,5 hingga 1 volt per batangnya. Dari situlah eksperimen lanjutan dikerjakan dengan alat yang merupakan hasil brainstorming denga sang ayah yang bekerja di bidang elektronik. Sebanyak lebih dari 60 percobaan telah dilakukan dan mengalami kegagalan beruntun sebelum ia berhasil seperti sekarang ini.

Proses ini menelan biaya sekitar 14 Juta Rupiah supaya penemuan ini dapat berfungsi. Jika kita melihat alatnya pun, terlihat sederhana sekali yakni terdiri dari rangkaian pipa tembaga, batangan besi, kapasitor dan dioda yang penggunaannya ditusukkan dan direkatkan di pohon.

Ilmuwan cilik ini telah memamerkan penemuannya di Pertamina Science Fun Fair 2016 sebagai bentuk diseminasi penemuannya. Tak hanya itu, penemuan Naufal juga telah membantu menerangi 60 rumah warga didaerahnya di Aceh, dimana setiap rumah dapat dialiri listrik dari sepuluh pohon kedondong pagar. Dari penemuan brilian ini, Pertamina EP Rantau Field tertarik dan memutuskan untuk mendanai serta mengembangkan penelitian pohon sebagai sumber energi yang digagas oleh Naufal. Kedepannya, Naufal ingin berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan menjadi ilmuwan, mengembangkan eksperimen untuk menghidupkan alat elektronik.

Semangat Nauva! Semoga kedepaannya kamu dapat menjadi sosok perubahan Indonesia!

*disadur dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga71%
Pilih SedihSedih4%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi4%
Pilih TerpukauTerpukau21%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ADLI HAZMI

Coffee addict, travel and sport enthusiast. a person who really likes international politics. Follow my Instagram @adli_hazmi ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara