Lupa Sandi?

Ada ‘Surga’ di Sel Pengasingan Para Pejuang Bangsa

Zia Dzulfia
Zia Dzulfia
0 Komentar
Ada ‘Surga’ di Sel Pengasingan Para Pejuang Bangsa

Di segala zaman, tidak pernah ada orang yang bermimpi menjadi tahanan politik. Menjadi tahanan politik—atau Tapol, sebutan populernya—berarti kehilangan banyak kemerdekaan; mereka dibuang ke tempat yang jauh dari tanah asal sebagai senjata untuk meredam perlawanan. Dan inilah yang tak pelak menimpa para pejuang bangsa.

Strategi pengasingan politik ini sebenarnya bukan hal yang sama sekali baru. Ia sudah populer jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Para raja dan pangeran masa kerajaan tradisional tercatat sering menculik lawan politik atau anggota keluarga mereka sendiri yang dirasa akan mengancam kekuasaannya. Namun kedatangan Belanda pada masa kemudian membuat praktek semacam itu semakin marak dan sistematis.

Jika tak ada yang pernah ingin menjadi tapol, maka banyak pihak yang bermimpi menjadi Gubernur Jenderal. Posisi tersebut menjanjikan banyak hal, terutama exorbitante rechten—hak-hak istimewa Gubernur Jenderal, yang diantaranya boleh mengambil tindakan terhadap orang yang dinilainya berbahaya untuk ‘keamanan dan keselamatan’ tanah jajahan; termasuk membuang seseorang di dalam maupun di luar wilayah kolonial.

Gubernur Jenderal Cornelis de Jonge (1931-1936) dok/kitlv
Gubernur Jenderal Cornelis de Jonge (1931-1936) dok/kitlv

Yang lebih parahnya lagi, pengasingan ini tidak menjadi masalah hukum (yang berarti pembelaan tidak dapat dilakukan oleh pihak tertuduh bersalah), melainkan semata-mata masalah administratif yang tidak bisa dicampuri lembaga peradilan. Nasib tapol sepenuhnya ada di tangan Gubernur Jenderal. Mulai dari lokasi pengasingan, aktifitas apa saja yang boleh dilakukan, hingga lamanya masa pengasingan.

Baca Juga

Gubernur Jenderal akhirnya semakin kecanduan ‘membuang’ orang-orang yang dianggap mengancam kekuasannya pada awal abad 20, saat pemikiran kritis mengenai penjajahan mulai merebak di kalangan terdidik. Mereka sesungguhnya terpelatuk dua hal sekaligus: ketakutan, kemudian kecanduan—mengasingkan orang.

Pengasingan, Mereka yang Dibuang, dan Medali Kehormatan

Tirto Adhisoerjo yang kemudian dikenal sebagai ‘Bapak Pers Indonesia’ adalah orang buangan pertama dari kalangan terpelajar. Ia dituduh melakukan pelanggaran pajak terkait usaha medianya; yang mana alasan sebenarnya adalah karena tulisan-tulisannya yang tajam mengkritik pemerintah.

Tirto Adhisoerjo, perintis pers anti-kolonial (dok/okezone)
Tirto Adhisoerjo, perintis pers anti-kolonial (dok/okezone)

Kemudian tidak lama menyusul ‘Tiga Serangkai’ Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Surjaningrat ‘Ki Hadjar Dewantara’ dan Douwes Dekker. Mereka lagi-lagi didakwa karena tulisan kritik mereka atas perayaan kemerdekaan negeri Belana di tengah masyarakat jajahan. Di sini, tulisan sekali lagi mampu menjadi senjata yang ampuh mengancam kekuasaan koloni.

Tahun 1927-an, Boven Digul mendadak kedatangan banyak orang, hampir sekitar 1.300 jumlahnya. Mereka adalah tahanan politik yang dituduh bersalah atas pemberontakan salah satu partai yang berhaluan kiri saat itu. Tahun-tahun berikutnya gelombang demi gelombang tapol semakin banyak datang, terutama dari berbagai partai seperti PNI Baru, PKI, Partindo, PARI dan Partai Serikat Islam—hampir semua wakil dari golongan non-kooperatif dalam pergerakan nasional.

Ketika para pemimpin nasonalis dan pejuang bangsa diantaranya seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Iwa Kusumasumantri, Agus Salim diasingkan dan dapat kembali dengan selamat, pandangan tentang pembuangan mulai berubah. Pengasingan politik kemudian berubah makna menjadi ‘medali kehormatan’ bagi kaum pergerakan, yang menunjukkan bahwa perjuangan mereka memang sungguh berarti sehingga mendapat respons keras dari penguasa kolonial.

Boven Digoel Strafkamp (dok/wikimedia.nl)
Boven Digoel Strafkamp (dok/wikimedia.nl)

Mungkin saja kecanduan pemerintah kolonial dalam mengasingkan orang cukup berhasil mengerem laju perlawanan, namun sayangnya itu hanya sementara. Yang kemudian terlambat diketahui Belanda adalah, tempat pengasingan dan praktek pengasingan politik itu sendiri menjadi simbol perlawanan.

Yang terlambat diketahui Belanda pula adalah, pengasingan justru memberi ruang kepada para pejuang bangsa untuk memperdalam pengertian dan menempa komitmen pada perjuangan. Pengasingan tidak berarti banyak bagi mereka, terutama jika mereka memiliki buku untuk dibaca sebagai sumber embrio perjuangan. Mereka membaca dan menghasilkan buku untuk membunuh waktu-waktu yang panjang dan sepi.

Kira-kira itulah ‘surga’ bagi mereka ketika jauh dari sanak keluarga. Satu-satunya ‘tempat damai’ di tanah yang asing serta sel pengap pengasingan.

Buku, Sebuah Surga di Tengah Pembuangan

Meski akhirnya banyak tokoh bangsa yang bersedia diasingkan, bukan berarti hidup dalam pengasingan adalah hal yang menyenangkan. Diketahui dari beberapa sumber, Hatta bahkan mengalami penurunan kesehatan saat di Digul dan Banda hingga wajahnya selalu terlihat pucat. Soekarno yang terbiasa dikerumuni massa terpaksa kesepian ketika diasingkan di Ende. Ia bahkan mengatakan bahwa dirinya bagai burung elang yang dipotong sayapnya. Saat itu ia benar-benar merasa tidak berdaya melawan kekuasaan kolonial.

Patung Bung Karno di Ende (dok/travelkompas.com)
Patung Bung Karno di Ende (dok/travelkompas.com)

Dalam kondisi seperti itu salah satu hiburan bagi mereka adalah bersahabat dengan buku serta menjalin hubungan dengan warga setempat (itupun jika memungkinkan). Kehidupan yang sepi di pengasingan memungkinkan mereka untuk lebih fokus membaca secara teliti, membuat studi khusus mengenai subjek tertentu mulai dari filsafat, sastra sampai agama, dan memperluas pemikiran melalui dialog dengan sesama orang buangan.

Banyak buku-buku berpengaruh sepanjang sejarah yang lahir dari sel pengasingan, sebut saja di antaranya Indonesia Mengguggat karya Seokarno, Alam Pikiran Yunani karya Hatta (yang menjadi mas kawinnya dengan Rahmi Rachim, sang istri), dan mungkin yang lebih kontemporer Novel Tetralogi Buru karya Pramoedya AT. Buku-buku tersebut tidak lahir begitu saja. Ia melewati perjalanan panjang sebelum akhirnya menjelma jadi ‘bayi’ yang lahir dari perkawinan antara pengetahuan dan letihnya perjuangan.

Kecintaan para pejuang bangsa terhadap buku tentu sudah tidak perlu dipertanyakan kembali. Bung Hatta terutama, merupakan salah satu tokoh yang sangat lekat dengan panggilan ‘kutu buku’.  Meutia, anak perempuan Hatta menceritakan bagaimana Hatta tidak bisa berpisah jauh dengan buku-bukunya.

Bung Hatta dan buku serta tulisannya (dok/micpublishing)
Bung Hatta dan buku serta tulisannya (dok/micpublishing)

“Buku-buku inilah yang juga dibawa Ayah saat diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda, pertama ke Boven Digul kemudian ke Banda Neira. Seluruhnya 16 peti. Di sana ia punya banyak waktu untuk membaca dan menulis,” katanya.

Dalam sehari disebutkan bahwa Hatta bisa menghabiskan 6 sampai 8 jam sehari untuk membaca buku-buku koleksinya. Yang unik adalah kecintaannya terhadap buku tersebut membuat rekan sejawatnya kerap berseloroh, buku adalah ‘istri pertama’ sedangkan Rahmi, ‘istri kedua’.

Kesukaan membaca buku juga menghinggapi Soekarno sejak kecil. Dalam biografinya ia berkata bahwa sejak kecil ia menggunakan seluruh waktunya untuk membaca, sementara yang lain bermain-main. Ada keuntungan baginya karena ia adalah anak seorang Theosof yang memiliki perpustakaan berisi buku-buku tokoh legendaris dunia. Inilah yang kemudian mengantarkannya secara mental berdialog dengan Thomas Jefferson, George Washington, Frederich Engels, Lenin, Karl Marx dan masih banyak lagi.

Bung Karno membaca buku
Bung Karno membaca buku

“Aku menyelam lama sekali ke dalam dunia kebatinan ini. Dan di sana aku bertemu dengan orang-orang besar. Buah pikiran menjadi buah pikiranku. Cita-cita mereka adalah penderitaan dasarku,” Ucapnya.

Selain Soekarno dan Hatta, masih banyak pejuang bangsa lain yang menjalin persahabatan erat dengan buku. Lewat buku, mereka dapat berdialog dengan tokoh-tokoh besar dunia dan pemikirannya. Tak peduli tempat dan waktu, di tengah pengapnya sel pengasingan sekalipun, mereka akan menemukan surga dalam bentuk lembar-lembar kertas. Tubuh boleh terpasung. Namun lewat surga tersebut pikiran mereka harus tetap dapat bebas sebebas-bebasnya.

Seperti kata Bung Hatta:

“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas..”

 *


Sumber utama:

Pengasingan dalam Politik Kolonial karya Hilmar Farid

Kisah Cinta Bung Hatta dan Bukunya | BBC.com

Soekarno, Kutu Buku dan Koleksi Buku karya Peter Kasenda

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi25%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ZIA DZULFIA

Sedang hidup dikelilingi karakter fiksi. Paling suka makan pop mie lewat jam 12 malam di kereta saat perjalanan keluar kota. Biasa menulis hal-hal remeh. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas