Lupa Sandi?

Menjaga Populasi Hiu, Menjaga Masa Depan Indonesia

Zia Dzulfia
Zia Dzulfia
0 Komentar
Menjaga Populasi Hiu, Menjaga Masa Depan Indonesia

Tahun 1970-an, Hollywood berhasil mem-framing hiu sebagai makhluk laut penuh dendam, horror dan menyeramkan lewat beberapa judul film. Diantaranya yang paling populer ialah 'Jaws 1,2 dan 3', 'Deep Blue Sea', dan 'The Reef'. Dalam film tersebut, hiu dianggap sebagai musuh yang dapat menyerang manusia kapan saja. Sebuah framing yang tidak sepenuhnya benar.

Perlu diketahui, dibalik tampilan luarnya yang menyeramkan, ikan raksasa ini rupanya memegang peranan penting dalam siklus ekosistem laut. Ia merupakan pengendali populasi hewan laut dalam rantai makanan. Menurunnya satwa kharismatik ini secara tidak langsung akan berdampak negatif ke dalam kehidupan laut: mulai dari menipisnya terumbu karang, hingga kelangkaan pangan ikan bagi manusia.

Hiu yang Ramah dan Mitos yang Salah Tentangnya

Sebagai negara dengan garis pantai tropis terpanjang di dunia,  laut Indonesia dikenal dengan 'the coral triangle' atau segitiga perairan karang, yang diyakini menyimpan potensi keanekaragaman hayati tertinggi dan unik di dunia. Salah satunya seperti yang ada di Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Nabire, Papua. Di satu desa bernama Kwatisore, terdapat hal unik yang jarang ditemui di belahan dunia lain, yaitu terjalinnya persahabatan antara hiu paus dengan masyarakat Kwatisore.

persahabatan masyarakat Kwatisore dengan hiu paus
persahabatan masyarakat Kwatisore dengan hiu paus

Spesies Hiu Paus (Whaleshark) yang berukuran 4 hingga 7 meter dengan berat mencapai 2-3 ton ini diyakini masyarakat setempat sebagai leluhur Kwatisore. Masyarakat Kwatisore sendiri percaya bahwa Hiu Paus memiliki relasi yang kuat dengan daerah mereka, sehingga mereka menyebut ikan raksasa tersebut sebagai hewan adat. Hal itu pula yang menyebabkan adanya larangan turun temurun penduduknya untuk mengonsumsi ikan kharismatik tersebut.

Relasi yang kuat antara penduduk dengan spesies hiu yang juga sering dijuluki ikan hantu ini terlihat dari seringnya mereka tiba-tiba muncul di samping perahu nelayan dan menggesekkan badannya ke perahu tersebut. Penduduk Kwatisore juga biasa berenang dan menyelam di antara mereka. Sebuah pemandangan yang mampu mematahkan mitos bahwa hiu senang berburu manusia.

ikan hiu berjalan, satwa endemik Indonesia (dok/Papukini.co)
ikan hiu berjalan, satwa endemik Indonesia (dok/Papukini.co)

Dalam penelitan milik Australian Medical Journal disebutkan bahwa pada umumnya hiu tidak memakan daging manusia. Culum Brown, seorang biologis dari Macquaire University mengatakan, hiu memang memiliki respon yang kuat terhadap bau darah, namun itu biasanya darah milik anjing laut dan ikan. Bukan manusia. Sayangnya fakta ini tidak banyak diketahui.

Ketakutan masyarakat Indonesia akan hiu juga terlihat dari keengganan mereka untuk menyelam jika sedang dalam keadaan menstruasi, dengan alasan takut diterkam hiu yang memiliki indera penciuman super tajam. Padahal menurut Marischka Prudence, seorang travel blogger Indonesia, hal tersebut mustahil. Pertama, karena darah menstruasi tidak akan keluar selama menyelam karena tekanan air. Kedua, kembali lagi, hiu tidak akan memburu manusia apalagi hanya karena bau darah.

“Secara bau, dia tidak ngefek. Jadi jangan takut kalau luka atau apa. Apalagi hiu-hiu di perairan Indonesia ‘ramah’. Karena iklim kita tropis,” ucapnya.

Manusia Adalah Karnivora Sesungguhnya

Don’t judge book by its cover. Pepatah klasik tersebut memang masih relevan adanya hingga saat ini, termasuk dalam masalah semakin langkanya hiu. Ikan hiu sudah ditakuti oleh para pemburu hewan laut bahkan sejak pertama kali mereka mengarungi lautan. Gigi-giginya yang tajam selama ini memojokkan ia sebagai karnivora menyeramkan. Padahal ego manusia lebih menyeramkan dari sekadar taring hiu. National Geographic menyebutkan bahwa setiap tahunnya, manusia membunuh kira-kira 100 juta hiu. Hanya untuk konsumsi makanan manusia. Dan pemasok terbesarnya adalah Indonesia.

Nelayang memotong sirip hiu untuk diekspor (dok/ Daily Mail)
Nelayang memotong sirip hiu untuk diekspor (dok/ Daily Mail)

Perburuan ikan hiu untuk konsumsi ini kebanyakan melalui proses keji yang disebut shark finning. Hiu yang ditangkap akan dipotong siripnya dalam keadaan hidup, kemudian hiu tanpa sirip tersebut akan dibuang ke laut, dan secara otomatis perlahan-lahan mati tenggelam.

WWF Indonesia melaporkan dalam tahun 2014, konsumsi sirip hiu di Jakarta sendiri terhitung setidaknya 15.000 kg pertahun. Jakarta Fisheries University juga menyebutkan bahwa hiu di perairan laut Indonesia adalah bisnis besar yang tersembunyi. Harga satu kilogram sirip hiu pada tahun 2007 saja mencapi 660 US$ di pasaran Asia, dengan nilai ekspor produk mencapai 13 juta US$ setiap tahun. Harga itulah yang menggiurkan nelayan Indonesia untuk memburu hiu dan menjualnya terutama ke Taiwan, Hongkong, dan China.

Harga komoditinya yang tinggi ini yang memicu nelayan Indonesia hampir memanfaatkan seluruh bagian dari hiu: daging untuk dikonsumsi, sirip untuk komoditas ekspor, kulit untuk disamak, hati untuk diambil minyaknya, tulang untuk bahan lem atau bahkan sebagai bahan baku obat penghambat pertumbuhan sel ganas dalam tubuh manusia.

Hiu yang dijemur (dok/Natgeo)
Hiu yang dijemur (dok/Natgeo)

Hal tersebut sangat disayangkan, karena pada dasarnya ikan hiu memiliki sifat biologis yang tumbuh lamban, berumur panjang, matang seksual pada umur relatif tua dan hanya menghasilkan sedikit anak. Sehingga ikan hiu sangat sensitif terhadap penangkapan berlebihan. Meski hiu merupakan sumberdaya yang dapat diperbaharui, namun jika salah dalam memanfaatkannya, sumberdaya ini akan terancam punah karena pemulihannya membutuhkan waktu yang panjang dan biaya yang mahal.

Jika hiu sang penjaga keseimbangan ekosistem laut punah, maka akan terjadi kerusakan paralel bawah laut: terumbu karang rusak, ikan yang biasa dikonsumsi manusia menipis, ketahanan pangan goyah. Siap-siaplah mengucap selamat tinggal pada keindahan bawah laut Indonesia.

Mari Bersatu Jaga Populasi Hiu

Dalam siklus rantai makanan, hiu berperan sebagai penjaga keseimbangan. Ia bertugas memakan ikan-ikan karnivora yang memakan ikan-kecil yang biasa dikonsumsi manusia. Jika jumlah hiu semakin menurun, makan ikan-ikan karnivora yang biasa dimangsa oleh hiu akan semakin banyak sehingga ikan-ikan kecil juga menurun drastis. Akibatnya, alga yang biasa dimakan oleh ikan kecil akan bertambah banyak dan mengganggu kesehatan karang. Ketika karang rusak, ikan-ikan kecil akan terancam punah, pun ikan besar. Dengan kata lain, berkurangnya populasi hiu dalam jumlah banyak akan berdampak negatif bagi ketahanan pangan.

Keindahan terumbu karang Indonesia
Keindahan terumbu karang Indonesia

Menurut Dr. Imam Musthofa Zainudin dari WWF, hiu dan terumbu karang merupakan satu kesatuan karena terikat dalam rantai makanan. Jika salah satunya rusak, maka keseimbangan tidak akan terjadi dan menyebabkan kerusakan yang lebih besar. Selain membuat ikan kecil kehilangan makanannya, rusaknya terumbu karang akan menyebabkan abrasi pantai yang besar dan mengancam tempat tinggal manusia.

“Terumbu karang selama ini menjaga agar gelombang laut tidak menyebabkan abrasi di pantai, yang bisa membuat pemukiman pinggir pantai banji atau merusak ekowisata di laut. Jadi, keseimbangan ekosistem ini penting. Kalau ada satu rantai makanan yang sakit, maka seluruh rumah akan terganggu,” ucapnya .

Stop shark finning! (dok/The Guardian)
Stop shark finning! (dok/The Guardian)

Untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut ini, seluruh pihak harus diikutsertakan. Tingginya penangkapan hiu untuk konsumsi tak lain karena permintaan yang juga tinggi. Publik harus bersama-sama giat mengampanyekan penghentian promosi kuliner, konsumsi, penjualan produk-produk hiu di restoran, hotel, ritel, toko online hingga media massa.

Karena jika jumlah populasi hiu terus menurun, siapkah kita menghadapi kerusakan lingkungan dan kelangkaan pangan di masa depan? Siapkah kita kehilangan keanekaragaman hayati yang sejak dahulu dibanggakan nenek moyang?


Sumber utama:

The Guardian | 'Shark dont like to eat people': attack statistics contradict untested theories

National Geographic | The Push to Stop the Killing of Sharks for Their Fins

Jurnal Jakarta Fisheries University | Menjaga Hiu dan Pari Indonesia Sampai Tahun 2040

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih33%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi67%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ZIA DZULFIA

Sedang hidup dikelilingi karakter fiksi. Paling suka makan pop mie lewat jam 12 malam di kereta saat perjalanan keluar kota. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata