Biota laut di Indonesia sangat beragam jenisnya. Bahkan Indonesia merupakan negara yang menjadi salah satu bagian dari segitiga koral dunia bersama Malaysia, Filipina dan Papua Nugini. Namun keanekaragaman biota laut tersebut sampai saat ini belum banyak diketahui karena jumlah peneliti kelautan di Indonesia masih belum banyak jumlahnya. Padahal 64,97 persen bagian dari wilayah negeri ini adalah lautan. Itulah mengapa GNFI kemudian mencari seorang sosok peneliti kelautan muda yang mau menjadi peneliti garis depan untuk memahami dan mengeksplorasi kekayaan perairan Nusantara.

Salah satu dari peneliti kelautan muda tersebut adalah Abraham Sianipar, seorang peneliti biota kharismatik yang aktif di lembaga non pemerintah Conservation International (CI). Pada bulan Maret lalu, GNFI berkesempatan untuk berbincang dan berbagi cerita tentang kekayaan laut Indonesia dan pengalaman meneliti biota kharismatik khas Nusantara.

Abam, begitu dirinya kerap disapa mengungkapkan bahwa pada mulanya dirinya sama sekali tidak tertarik dengan dunia kelautan di Indonesia. Karena memang dirinya lebih banyak berinteraksi dengan tema-tema konservasi hutan ketimbang laut. Namun ketertarikannya tersebut berubah saat kuliahnya hampir usai pada tahun 2012.

"Saya sih sebenernya awal terjun ke biota laut dari sejak tahap akhir kuliah, saat mengambil magang. Waktu itu saya sering snorkling, mencoba diving dan ternyata menikmati, lalu saya mengenal isu-isu tentang hiu yang kemudian menjadi topik penelitian tugas akhir kuliah," ujar pria asal Palembang itu.

Berawal dari hiu, Abam berinteraksi dengan Pari Manta dan Hiu Paus (Rhincodon typus) yang keduanya dalam dunia pariwisata dikenal sebagai biota kharismatik. Dirinya kemudian memutuskan untuk berkarir sebagai peneliti hewan Elasmobranch, atau hewan laut bertulang lunak yang hanya ditemukan pada hiu dan pari.

"Hiu sama pari memang tidak bisa lepaskan satu sama lain. Karena sebenarnya mereka satu kelompok. Dalam taksonomi ikan keduanya termasuk hewan bertulang rawan. Hiu dan pari itu ikan dan mereka tidak punya tulang yang tulang sejati. Tulang sejati itu yang ada kalsiumnya. Jadi semuanya di tubuh mereka itu tulang rawan," jelasnya.

Abraham Sianipar (dua dari kiri) saat berinteraksi dengan Pari Manta Birostris (Foto: dok. Abraham Sianipar)
Abraham Sianipar (dua dari kiri) saat berinteraksi dengan Pari Manta Birostris (Foto: dok. Abraham Sianipar)

Berangkat dari rasa gelisah.

Menjadi peneliti Elasmobranch sebenarnya berangkat dari kegelisahannya terhadap isu konservasi laut yang kerap bertentangan dengan pembangunan. Dirinya mengaku tidak nyaman bila melakukan penelitian untuk eksploitasi laut yang pernah dijalaninya selama masa magang selama satu tahun setelah lulus kuliah.

"Sebagus apapun survey yang kita lakukan, tetap saja pembangunan akan menjadi yang utama. Nah dari situ saya baru ngerasa tidak nyaman dengan prinsip saya. Ah saya enggak cocok dibidang ini barulah saya mencari yang dibidang konservasi. Nah saat itu tahun 2013 dan CI memang baru saja mendukung konservasi hiu sama pari," ungkap pria lulusan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) jurusan Biologi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Sejak bergabung dengan CI itulah Abam kemudian banyak melakukan pekerjaan lapangan melakukan penelitian pari manta yang saat itu sedang dikaji untuk menjadi biota yang dilindungi. Bahkan pekerjaan ini menurutnya menyenangkan karena dirinya bisa datang ke tempat-tempat penting letak pari manta.

"Bisa dibilang hoki juga ya mendapat kerjaan yang membawa saya ke tempat-tempat hot spot pari manta di Indonesia. Di Raja Ampat yang memang CI kerja disana, Bali, Komodo dan Sangalaki," katanya.

Dalam penelitian tersebut, Abam meneliti bagaimana perilaku pari manta di daerah perairan Indonesia. Caranya adalah dengan memasangkan label elektronik pada tubuh pari manta. Berkat aktifitas ini, perilaku pari manta dapat dideteksi.

Abam saat menunggu manta untuk diberi tag (Foto: Mark Edman / Conservation International)
Abam saat menunggu manta untuk diberi tag (Foto: Mark Edman / Conservation International)

"Dari kegiatan tagging (pemasangan label), baru kelihatan perilakunya. Di Raja Ampat sendiri kita lihat ada empat hot spot (lokasi pari manta banyak berkumpul). Dan ternyata manta bergerak dari hot spot ke hot spot dalam satu tahun. Jadi kita lihat mungkin terpengaruh oleh musim angin dan juga keberadaan plankton di air yang merupakan makanan mereka. Jadi kadang-kadang di bulan tertentu mereka juga di bagian sini di bulan bulan tertentu di bagian yang lain," jelas Abam.

Menurut Abam, penelitian yang dilakukannya itu bermanfaat untuk upaya konservasi di wilayah pariwisata lingkungan seperti Raja Ampat. Agar biota yang dilindungi tetap terjaga dan pariwisata pun masih berjalan beriringan.

"Nah informasi-informasi yang kita dapat dari kegiatan survey-survey ilmiah kita harapkan bisa kita berikan masukan kepada pemerintah daerah," ungkapnya.

Hal tersebut perlu dilakukan sebab, Abam menjelaskan bahwa Raja Ampat sempat mengalami masalah overcrowd yang artinya situs lokasi wisata pari manta mengalami kelebihan kapasitas. "Saya pernah ngefoto ada sekitar 25 orang yang menyelam di satu tempat yang sama. Padahal luas lokasi selam ini tidak begitu besar cuma sekitar 5-8 meter. Kita merasa itu ada potensi untuk menggangu (manta) juga."

Jika manta terganggu, tentu saja hal ini dapat merugikan tidak hanya bagi manta tetapi juga untuk pariwisata. Terlebih, pari manta dikenal sebagai salah satu biota kharismatik yang memiliki perilaku cukup unik. Padahal manta adalah spesies ikan yang tidak memiliki kecerdasan.

"Kami menemukan manta itu bisa berinteraksi. Mereka itu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Kadang-kadang kita menyelam kalau moodnya lagi bagus dia bisa ngedatangin kita. Dan ngedatangin kadang-kadang keren banget, kebayang ini hewan yang lebarnya dari ujung sayap ke ujung sayap 3-4 meter datangin kita. Itu yang menurut saya istimewa banget dari manta. Itu kenapa orang begitu suka dengan manta," ungkap pria yang juga sempat terlibat dalam penemuan lokasi nursery Pari Manta di Raja Ampat ini.

Hiu karang sirip hitam (C. melanopterus) yang banyak ditemukan di Raja Ampat (Foto: Abraham Sianipar / Flickr.com)
Hiu karang sirip hitam (C. melanopterus) yang banyak ditemukan di Raja Ampat (Foto: Abraham Sianipar / Flickr.com)

Tidak hanya meneliti, tapi juga mengedukasi.

Banyak melakukan penelitian tentang konservasi, tidak berarti hasil penelitian yang dilakukan Abam bersama CI tidak memiliki manfaat untuk masyarakat sekitar. Selain menjadi rekomendasi untuk pemerintah daerah, hasil penelitiannya juga menjadi rujukan untuk mengubah perilaku nelayan.

Abam menjelaskan bahwa mungkin kita cukup gampang untuk mengatakan "ngapain kamu tangkap hiu kan ini bisa dibuat untuk wisata, kenapa enggak wisata aja?" Tapi permasalahan pemahaman nelayan tidak segampang itu. Sebab menurutnya ada beberapa alasan para nelayan tidak terlibat dalam ekoturisme.

"Pertama, mereka, nelayan kita tidak berpendidikan. Berpendidikan cukup, tapi enggak tinggi. Kedua mereka rata-rata takut, karena biasanya nelayan tradisional di Indonesia mendapatkan skill dan knowledge melaut kan turun termurun. Dan mereka mikir, 'saya itu hanya bisa ini (berburu ikan hiu)'," ungkap pria berdarah Batak tersebut.

Bermula dari masalah tersebut, dirinya bersama CI lebih banyak melakukan pengajaran pada para nelayan bahwa ada batasan-batasan yang harus dipatuhi.

"Jadi kita kaya ajarin ke nelayan-nelayan, kalau ikan itu kita ambil ada batasnya. Ada batas, baik dari sisi biologis dari ikan yang kita ambil itu, dia kan ada batas untuk bisa mereproduksi ulang lagi populasinya. Maupun batas kebutuhan masyarakat. Itu harus bisa kita cari jalan tengah. Nah peran pariwisata adalah saat kita mengajarkan itu, pariwisata bisa jadi opsi untuk beberapa nelayan untuk mencoba mata pencaharian baru. dan itu akan mengangkat sedikit tekanan terhadap perikanan," jelasnya.

Kontribusi terhadap penelitian kelautan di Indonesia.

Pengalaman-pengalaman menariknya saat berinteraksi dengan penelitian di bidang kelautan dan biota kharismatik tersebut kemudian memunculkan sebuah pertanyaan. Mengapa di Indonesia penelitian saintifik tentang kelautan terbilang cukup sedikit jumlahnya? Abam menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena di Indonesia penelitian seperti yang dilakukannya itu belum menjadi hal yang penting.

"Di Indonesia kalau kita bahas peneliti laut apalagi yang dari badan pemerintah, dari LIPI, atau dari balitbang, mereka biasanya memiliki goal, untuk memastikan keberlangsungan hidup nelayan. Jadi mereka banyak fokus penelitian di bidang-bidang perikanan ikan-ikan ekonomis tinggi. Nah untuk manta sendiri dan ikan-ikan spesies terancam lain gak banyak," jelasnya.

Namun meski penelitian kelautan di Indonesia masih sedikit, Abam menilai bahwa paradigma di tentang laut di Indonesia mulai berubah. Bahkan menjadi tren yang terus meningkat di kalangan mahasiswa.

"Saya perhatikan, memang animonya sudah tinggi. Sudah banyak mahasiswa-mahasiswa yang memulai dari tingkat-tingkat perkuliahan which is bagus menurut saya. Dan pemerintah juga mulai serius menanggapinya. Menariknya, juga ada pergeseran paradigma untuk spesies hiu dan pari terancam punah ini. Karena kalau dulu kita kalau ngobrol sama orang pemerintah soal hiu dan pari yang kita rasa itu defensif karena di Indonesia terjadi pengambilan sirip hiu besar-besaran," kata Abam.

Saat disinggung mengenai apakah animo ini bakal melahirkan sebuah institusi ataupun kampus yang berfokus pada bidang kelautan, Abam menanggapi dengan cukup optimis. "Mudah-mudahan, arahnya sih sepertinya kita mengarah ke arah yang lebih baik. Sekarang beberapa universitas sudah cukup maju (dalam penelitian kelautan). Seperti di IPB, UNDIP, UDAYANA, di makasar, UNHAS. Dan itu strategis. Kalau unhas, dia lead daerah sulawesi dan sekitarnya. Universitas Pattimura, di Ambon dan sekitarnya. Unipa (Universitas Papua) di Papua, papua dan sekitarnya. Mereka entitas yang penting karena masyarakat lokal dan universitas adalah pihak yang akan terus berada di lokasi-lokasi tersebut, enggak seperti kami yang di NGO."

Abam kemudian menambahkan bahwa itu sebabnya dirinya bersama CI akan dengan suka rela berbagi penegtahuan dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan.

"Sebisa mungkin kita dengan senang hati mentransfer semua pengetahuan kita, knowledge kita tentang itu, kalau mereka memang mau, kalau mereka serius. makanya kita cukup senang ketika sekarang udah mulai, walaupun masih di kota-kota Jakarta, Bandung, dan sekitar jawa," imbuhnya.

Kecintaannya pada Indonesia dan Impian.

Sebagai salah seorang peneliti kelautan muda, Abam akhirnya merasakan betapa Indonesia adalah negara yang menakjubkan. Tidak hanya dari kekayaan alam yang banyak ditemukan di darat, tetapi juga yang ada di lautan.

"Waktu saya jalan-jalan dengan kerjaan saya, negara kita keren juga lho ternyata. Dan berbeda-beda (dalam kekayaan biota) banget. Kita ke papua udah beda, geser sedikit ke ambon udah beda. Kita geser ke Maluku Utara udah beda, geser ke Sulawesi udah beda lagi. Dan yang menarik memang spesies-spesies eksotis yang saya teliti saat ada di lapangan," ungkap Abam dengan bangga.

Semua hal yang telah dilakukannya memang berangkat dari rasa cinta dan passion. Abam kemudian berpesan bahwa untuk menjadi peneliti memang tidak bisa berangkat dari pola pikir untuk mencari uang.

"Ketika saya melihat di CI dan beberapa LSM lain tu, hampir semua kita kerja bukan untuk duit. Kita kerja memang untuk passion dan kita kerja dengan visi kerjaan dan organisasi kita. Sebagai marine biologist di indonesia, masih banyak sekali pintu yang menunggu untuk dibuka," pesan Abam.

Saat disinggung tentang impiannya di masa mendatang, Abam mengungkapkan dirinya hanya ingin menjadi ahli hiu dan pari di Indonesia. Paten dan identifikasi spesies? "Itu bakal keren banget sih, tapi saya enggak terlalu pengin," jawabnya sambil tertawa.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu