Lupa Sandi?

Restoran Indonesia di London ini Punya Mimpi Lebih Dari Sekedar Menyajikan Hidangan Lezat

Adi Perkasa
Adi Perkasa
0 Komentar
Restoran Indonesia di London ini Punya Mimpi Lebih Dari Sekedar Menyajikan Hidangan Lezat

Gebogan, kain poleng bermotif kotak-kotak hitam-putih yang dililit pada gagang payung, serta bunga frangipani khas Bali, menyambut setiap orang dari penjuru dunia yang hilir mudik disekitar kawasan Picadilly Circus dan Oxford Circus di London.

Saya pikir ini adalah langkah kecil untuk berupaya menarik perhatian orang-orang tersebut agar dapat singgah menikmati hidangan khas Indonesia, di dalam restoran Nusa Dua. Ternyata, apa yang ada di benak saya salah besar.

Jauh sebelum melangkah kedalam restoran ini, saya berpikir akan dapat bertemu banyak orang Indonesia, melakukan percakapan dalam Bahasa Indonesia, sambil menikmati sajian khas tanah air.

Setidaknya hal itu yang bergumul di benak saya ketika berada di dalam restoran Indonesia, akibat rindu akan masakan ibu setelah dua minggu berada di Inggris.

Lagi-lagi saya salah. Hal ini dikarenakan pengunjung restoran Nusa Dua pada hari Selasa waktu itu didominasi oleh orang-orang yang bukan merupakan warga negara Indonesia.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Belum lagi hampir tidak ada kursi yang kosong, para pelayan, hingga Ibu Usya Suharjono pemilik restoran ini pun sibuk melayani setiap tamu yang sedang menikmati hidangan Indonesia.

Tidak berlebihan jika lantas saya saya sebagai Warga Negara Indonesia merasa bangga menjadi saksi pada hari itu.

"Restoran Nusa Dua telah ada di London selama 25 tahun, hari ini justru nggak seramai kalau hari jumat atau akhir pekan. Dengan segala pahit dan manis perjuangan suami dan saya merintis usaha ini, dua tahun terakhir ini kami berhasil pindah ke lokasi ini yang jauh lebih besar dan nyaman, lengkap dengan ruangan karaoke dan musholla di lantai bawah."

Ibu Usya seperti tidak kenal lelah melayani pelanggan. Usai menjelaskan hal tersebut, ia meminta izin kepada saya untuk mencatat pesanan pelanggan, karena semua staff sedang sibuk menjalankan tugas mereka masing-masing.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Ternyata selama 25 tahun merintis restoran Nusa Dua di London, banyak penduduk asli setempat yang telah menjadi pelanggan setia restoran ini. Sate, Nasi Goreng, dan Rendang adalah tiga makanan yang paling difavoritkan mereka.

Hal ini bukan berarti minimnya kunjungan dari Warga Negara Indonesia. Hari itu saya juga bertemu dengan sekelompok tokoh politik yang melakukan reservasi pada sebuah meja besar, pekerja Indonesia yang menikmati semangkuk bakso, dan pria Indonesia beserta keluarganya yang menikah dengan penduduk setempat.

Antusiasme warga asing terhadap masakan Indonesia ini yang juga dibuktikan dari eksistensi restorannya selama 25 tahun, serta memiliki banyak pelanggan tetap, menjadi sebuah titik tolak sendiri untuk Ibu Usya.

"Dari situ saya berpikir, mengapa ya lebih banyak restoran Malaysia, Singapura, dan Jepang daripada restoran Indonesia? Di Inggris juga lebih banyak terdapat iklan dari negara-negara tersebut dibandingkan Indonesia."

Hal ini adalah hal yang sangat disayangkan bagi Ibu Usya, padahal banyak orang yang memiliki ketertarikan pada Indonesia. Hal ini yang kemudian membuat Ibu Usya Suharjono bermimpi untuk membuat semakin banyak orang di dunia ini mengenal tentang Indonesia.

Mempromosikan Indonesia, adalah kata sederhana yang ia lakukan untuk mewujudkan mimpinya. Awalnya langkah Ibu Usya dimulai dari mengajak pelanggan setianya untuk berkunjung ke Indonesia, dengan mengiming-imingi akomodasi gratis di rumahnya sendiri.

Lalu berawal dari inspirasi di dalam benaknya dan racikan kedua tanggannya, Ibu Usya berhasil menyelenggarakan acara "Hello Indonesia" di Trafalgar Square tahun 2014 dan 2015. Perlu diketahui, tidak mudah untuk sebuah acara dapat terselenggara di Trafalgar Square.

Dengan niat yang gigih dan tekad yang kuat, Ibu Usya pun berhasil mempromosikan Batik, alat musik angklung, Tarian Papua, dan masakan Indonesia dalam acara yang berhasil mendatangi 20.000 pengunjung pada tahun pertama, serta 30.000 pengunjung di tahun kedua.

Berkat hubungan baik antara Ibu Usya, Mayor of London, dan pengelola Trafalgar Square, pada Hari Raya Idul Fitri kemarin Nusa Dua Restoran diundang untuk mengisi stand Global Food Market di acara Eid Festival 2017 bagi negara-negara yang memiliki banyak penduduk muslim.

Ini semua menjelaskan komitmen Ibu Usya Suharjono untuk mewujudkan mimpinya agar semakin banyak orang di dunia ini mengenal tentang Indonesia. Komitmen inilah yang membuat kekhawatiran saya tidak terjawab ketika mencicipi masakan yang disajikan restoran Nusa Dua.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Banyak yang berpendapat bahwa restoran Indonesia di luar negeri tidak seenak di Indonesia. Namun, kekhawatiran saya pupus ketika merasakan rendang di restoran Nusa Dua sama lezatnya dengan rendang resep keluarga saya di Indonesia.

"Kami tidak mau merubah cita rasa. Sehingga, chef kami orang asli Indonesia, kami mencari bahan-bahan yang segar, yang kami gunakan kacang asli bukan peanut butter. Bahan-bahan yang susah didapat seperti kunyit, kemangi, dan kecap langsung didatangkan dari Indonesia."

Adanya komitmen tersebut yang membuatnya sebagai pemilik restoran ingin mewujudkan slogan restoranya dalam kepuasan yang dirasakan tiap pelanggan, yaitu the authentic taste of Indonesia.

Alangkah dengan mudahnya tanah air ini dikenal oleh segenap bangsa dunia, jika warga negaranya memiliki komitmen sebesar yang dimiliki oleh Ibu Usya Suharjono.

Pilih BanggaBangga78%
Pilih SedihSedih5%
Pilih SenangSenang5%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi3%
Pilih TerpukauTerpukau10%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ADI PERKASA

Pendidikan saya selalu ditempuh pada institusi negeri sejak SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Biaya kesehatan saya selama tiga tahun terakhir juga ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosi ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata