Dunia medis tanah air bermula pada pembangunan Sekolah Dokter Jawa oleh pemerintah kolonial Belanda. Sekolah yang dikhususkan bagi kaum muda Jawa ini, kemudian berkembang menjadi STOVIA, sekolah kedokteran yang menerima murid dari seluruh wilayah di nusantara.

[Baca juga: Bangkitkan Nasionalisme di Museum Kebangkitan Nasional]

Ini terjadi pada pertengahan Abad 18. Usia pendidikan kedokteran di tanah air merupakan salah satu yang tertua di Asia Tenggara. Namun baru 168 tahun kemudian Indonesia memiliki pabrik pembuatan cairan infus. Padahal infus merupakan salah satu obat dasar dalam dunia pengobatan medis.

Pabrik yang diresmikan Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek pada Kamis (27/07) ini merupakan kerjasama pemerintah RI dengan B Brauelsungen AG, sebuah perusahaan farmasi dan kesehatan asal Jerman. Sejak 2013 lalu, perusahaan ini memulai pembangunan pabrik pertamanya di tanah air, atas nama anak perusahaan PT B Braun Medical Indonesia. 

PT Braun yang lokasi produksinya terletak di Karawang, Jawa Barat ini, memproduksi cairan infus untuk mendukung ketahanan obat nasional.  Selain mencukupi kebutuhan Indonesia, produksi pabrik yang mencapai kapasitas hingga 75 unit per tahun ini diharap dapat pula diekspor ke pasar Asia Pasifik.

Infus merupakan salah satu kebutuhan dasar. Pada 2012, kebutuhan infus di Indonesia mencapai 104,5 juta unit dan 150 juta unit pada 2016. Menurut Menkes, peningkatan tersebut terjadi akibat meningkatnya peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mencapai 179 jiwa.

Menurut Presiden PT Braun Asia Pasifik Anna Maria Braun pada Viva, pabrik ini akan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat Indonesia dan dunia. Pabrik ini menjadi lokasi produksi utama, sekaligus pusat pelatihan terpadu PT Braun di kawasan Asia Pasifik.  

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu