Luas terumbu karang yang terdapat di perairan Indonesia diperkirakan yaitu sekitar lebih dari 60.000 km2, yang tersebar luas dari perairan Kawasan Barat Indonesia sampai Kawasan Timur Indonesia. Sungguh kaya bukan?

Salah satu pesona terumbu karang tersebut bisa kita nikmati di Banyuwangi. Keindahan pantai di Banyuwangi, Jawa Timur sudah dikenal luas sejak lama. Popularitasnya terus meningkat semenjak sosial media hadir di zaman yang serba canggih ini. Tepatnya di Pantai Bangsring, Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pantai Bangsring memiliki keindahan bawah laut dengan beragam biota laut yang menakjubkan.

Nyatanya, keindahan bawah laut di Bangsring sudah ada sejak warga setempat menekuni profesi sebagai nelayan ikan hias. Dan sejak tahun 2008, nelayan disana juga  mulai menekuni pengembangan ekowisata di Pantai Bangsring. Mereka berfokus pada konservasi bawah laut, dengan tujuan untuk mengembalikan keindahan di dalamnya yang sempat perlahan menghilang dikarenakan penangkapan ikan yang tidak wajar sebelumnya.

Program konservasi tersebut sepenuhnya dilakukan oleh LSM lokal, Bangsring Underwater (Bunder) yang diketuai Ikhwan Arif. Pantai Bangsring memiliki luas sekitar 15 hektar. dengan kedalaman yang bervariasi mulai dari 2 meter hingga 15 meter.

Karena adanya konservasi yang giat para nelayan jalankan selama 10 tahun, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menyerahkan penghargaan Kalpataru 2017 kepada Kelompok Nelayan Samudera Bakti dari Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo.

Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Presiden Joko Widodo kepada Ketua Kelompok Nelayan Samudera Bakti, Ikhwan Arief, pada acara puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup di Gedung Mandala Wanabakti, Jakarta, Rabu (2/8/2017). Mereka dinilai berhasil menjaga kelestarian ekosistem laut.

"Ini menjadi semangat buat kami para nelayan agar bisa memberikan perubahan untuk sekitar. Selama 10 tahun kami melakukan pelestarian ini khusus untuk perairan di wilayah kami," jelas Ikhwan kepada detikcom.

Salah satu cara memberikan perubahan adalah merubah pola tangkap nelayan lebih ramah lingkungan, dan membuat kawasan konservasi seluas 15 hektar di wilayah Pantai Bangsring. Di wilayah konservasi, atau zona perlindungan bersama tersebut tidak boleh ada aktivitas penangkapan ikan dan pengambilan karang.


"Yang tersulit adalah merubah mindset nelayan yang dulunya nge-bom ikan dan menangkap dengan potasium ke pelestarian terumbu karang. Kami malah awal dulu ada kegiatan ini diancam mau dibondet (bom ikan). Tapi kemudian masyarakat mulai sadar pentingnya konservasi terumbu karang," tambah Ikhwan Arif.

Untuk awal, secara otodidak mereka melakukan transplantasi terumbu karang dengan menggunakan rak dari pipa paralon. Bibit karang yang diambil dari karang yang sehat diikat dengan senar di pipa paralon lalu ditenggelamkan di dalam laut. 

Saat ini ada ribuan rak paralon transplantasi karang yang telah ditenggelamkan di wilayah zona perlindungan bersama. Rak tranplantasi tersebut dibuat dengan sistem donasi dari penyumbang. Para nelayan juga melakukan perawatan secara berkala terumbu karang yang ditanam.

"Selain ribuan rak transplantasi di wilayah zona perlindungan juga ada 500 apartemen ikan serta ratusan karang buatan yang kami letakan di dalam laut. Yang terakhir ada sistem biorock agar pertumbuhan karang tumbuh lebih cepat," kata Ikhwan.

Terhitung sampai saat ini terdapat 200 nelayan yang tergabung di Kelompok Nelayan Samudra Bakti. Mereka secara rutin melakukan edukasi menjelaskan pentingnya terumbu karang bagi keberlangsunggan ekosistem di laut baik di sekolah-sekolah dan lokasi zona konservasi. Kemudian zona konservasi itu tumbuh menjadi salah satu destinasi wisata, untuk konservasi terumbu karang. Tak hanya itu, lokasi itu kemudian juga menampung hiu-hiu terluka yang tertangkap nelayan. Wah beruntungnya Indonesia mempunyai neleyan-nelayan berhati besar seperti mereka!

Sampai saat ini, zona konservasi yang dikelola oleh nelayan Samudra Bakti tersebut saat ini dikenal dengan tempat wisata Bangsring Under Water . Setiap musim liburan, masyarakat berbondong bondong ke zona konservasi tersebut guna menikmati salah satu dari beribu-ribu pesona Indonesia.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Ikhwan membawa penghargaan Kalpataru bersama Bupati Anas dan Kepala Dinas LH Banyuwangi (© detik.com)

Berikut 10 peraih penghargaan Kalpataru pada Hari Lingkungan Hidup 2017 yang dilansir dari JPP dan laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan:

Kalpataru untuk kategori perintis

  • Anuar dari Deli Serdang, Sumatera Barat; Penanaman dan rehabilitasi Mangrove.
  • Agus Bei dari Balikpapan, Kalimantan Timur; Rehabilitasi kawasan Mangrove yang rusak akibat deforestasi menjadi kawasan konservasi.

Kalpataru untuk kategori pengabdian

  • Mahariah dari Kepulauan Seribu, DKI Jakarta; Pengelolaan daur ulang sampah.
  • Heri Supriyatna dari dari Pangalengan, Kabupaten Bandung; Penghijauan program Agroforestry kopi berbasis masyarakat.

Kalpataru untuk kategori penyelamat lingkungan

  • Kelompok Pelestarian Penyu Kurma Asih Desa Perancak dari Kabupaten Jembrana, Bali.
  • Kelompok Nelayan Samudera Bakti dari Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
  • Kelompok Masyarakat Pengawas Danau Lindung Empangau dari Kalimantan Barat.
  • Kelompok Pencinta Alam KPA Isyo Hills Repang dari Papua.

Kalpataru untuk kategori pembina lingkungan

  • Saptono Tanjung dari Desa Ngestiharjo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
  • Lefrand Adam Singal dari Kalimantan Utara.


Sumber: Beritagar | Detik.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu