Dibalik Makna Budaya Syukuran Desa Se-Nusantara

Dibalik Makna Budaya Syukuran Desa Se-Nusantara
info gambar utama

Dibalik Makna Budaya Syukuran Desa Se-Nusantara
Sumber: Arina Ulfatul Jannah

Sedekah bumi menjadi budaya asli rakyat Nusantara. Awalnya, sedekah bumi atau dalam bahasa saya juga bisa dimakna "syukuran desa" karena memang semua rakyat turut memeriahkannya. Ini menjadi satu rangkaian ritual yang sudah ada semenjak periode kepercayaan asli rakyat Nusantara hadir yakni ketika tumbuhnya animisme dan dinamisme yang kemudian berkembang menjadi rangkaian ritual keagamaan Hindu-Buddha sejak kedatangannya. Masyarakat Hindu meyakini bahwa dengan adanya tanah beserta tumbuhan yang hidup, berkembang dan kemudian mampu menjadi penghidupan bagi kebutuhan manusia adalah pemberian dari dewa atau Tuhan. Biasanya ritual ini dilakukan dalam rangka panen hasil bumi. Dalam ajaran Hindu ada ritual bernama bukakak yakni untuk meminta kesuburan tanah pertanian pada sang dewi kesuburan. Saat ini ritual tersebut dilakukan dua tahun sekali karena memang biaya yang cukup tinggi untuk menyelesaikan rangkaian prosesinya. Bahkan, dalam praktek agama atau kepercayaan lain seperti Islam misalnya, kita diajarkan untuk selalu mensyukuri segala bentuk pemberian Tuhan, termasuk dari panen atau hasil bumi yang telah terpelihara untuk kemudian selebihnya disedekahkan atau didermakan kepada orang yang membutuhkan ataupun kepada orang-orang dekat yang ada dalam lingkungan yang sama dalam arti sanak saudara dan para tetangga.

Setiap kali panen datang atau menjelang akhir tahun, rakyat biasanya sudah mempersiapkan berbagai ubo rampe (sesajen ritual) dari mulai kembang tujuh rupa yang ini lekat dengan tradisi umat Hindu, kemudian lauk pauk ayam bekakak, nasi golong, tumpeng, dilanjutkan doa bersama dan sambutan sajian musik maupun kesenian tradisional di penghujung ritualnya. Bahkan, ini menjadi akulturasi semenjak kemunculan budaya keagamaan Islam Nusantara khususnya di Jawa karena memang dahulu suku asli Jawa sudah lama menganut animisme, dinamisme, Hindu sebelum akhirnya Islam masuk di tanah Jawa sebagai bagian agama yang mewarnai kepercayaan masyarakat Jawa hingga kini. Adanya keragaman kepercayaan ini saling harmoni sehingga mewujudkan tradisi keagamaan yang khas dan kian unik. Sebernarnya tidak hanya sedekah bumi saja yang dilaksanakan oleh rakyat Nusantara namun juga ada sedekah laut. Hampir sama dengan sedekah bumi, namun bedanya dilakukan di tengah-tengah laut dengan serangkaian doa bersama. Biasanya kapal atau perahu milik rakyat akan diberi kembang tujuh rupa di bagian ujung depan dan belakang kapal atau perahunya lalu ada penghanyutan (melarungkan) kepala kerbau dan kemudian dilanjutkan doa manaqiban bersama karena memang mayoritas rakyat Nusantara termasuk rakyat yang mendiami wilayah pesisiran sudah memeluk Islam. Hal ini karena Islam juga awalnya datang melalui jalur pesisiran sehingga rakyat sangat mudah untuk beradaptasi dengan budaya baru dan membentuk kepercayaan baru bernama Islam di tanah pesisir. Setelahnya, rakyat secara bersama menyantap nasi manaqib di atas laut. Kemudian, dilanjutkan dengan hiburan rakyat seperti balap dayung.

Satu hal yang menarik dalam acara sedekah baik sedekah bumi maupun sedekah laut pada tahun ini karena beriringan dengan HUT RI ke 72 sehingga semua desa-desa maupun wilayah se-Nusantara melakukan acara secara hampir bersamaan dan dengan tema yang hampir sama pula. Jika, Presiden memilih tema "Festival Parahyangan" dengan lokasi Bandung untuk menyemarakkan HUT RI, maka dalam rangka sedekah bumi maupun laut juga mengusung tema kirab budaya, bersatu dalam keberagaman, kampanye tentang melestarikan alam, parade gaun daur ulang sampah baik kertas maupun plastik yang ikut mewarnai di dalam rangkaian ritualnya. Di beberapa desa misalnya, Tunggulsari, Pati, Jawa Tengah mengadakan acara "bagi-bagi ikan" karena memang desa tersebut lekat dengan pertanian pertambakan dan juga letak geografisnya dekat dengan wilayah pesisir pantai dan dalam ritualnya juga jika biasanya rakyat membawa semacam gunungan berupa jajanan tradisional, sayuran, buah-buahan namun kali ini berbeda karena juga ada rangkaian "hiasan ikan" yang digelantungkan diantara janur kemuning yang cantik dan unik. Di desa lain seperti Pundenrejo, Pati, Jawa Tengah pada tahun ini juga menyajikan ritual yang berbeda karena temanya disesuaikan dengan latar HUT RI dan simbol lamaran karena memang saat ini tengah memasuki musim pernikahan yang masuk bulan Dzulhijjah atau sasi besar dalam penanggalan Jawa dan ini umum dilakukan dalam kehidupan sosial mayarakat Nusantara.

Ada pandangan menarik tatkala ritual syukuran desa ini berlangsung bahkan pada puncaknya yakni selalu ada yang namanya "Barong/Barongan". Jika dalam tradisi rakyat Tioghoa biasanya disebut Barongshai, atau dalam rakyat Jawa Timur menyebutnya Reog asli Ponorogo atau rakyat Bali lebih akrab dikenal Warok. Pada hakikatnya adalah sama yakni simbol untuk mengusir kejahatan dari sifat negatif dalam aktivitas yang dihadapi manusia dikehidupannya kemudian menjelma dari sisi makhluk penggambaran tersebut. Biasanya ada pawang yang mendampinginya karena jika memang ada hajatan khusus misalnya khitanan, pernikahan, bahkan syukuran desa memang simbol makhluk ini dirasuki oleh roh halus. Seperti juga adanya pagelaran wayang baik dalam rangka syukuran desa atau pernikahan anak semata wayang (tunggal) serta anak kedini-kedana yakni si perempuannya menjadi anak sulung pasti dalam adat Jawa ada ritual semacam ini. Kembali lagi pada acara sedekah bumi maupun sedekah laut, bahwa ini menarik karena ada satu makna yakni sebagai sesama makhluk di satu sisi adalah mengucap syukur kepada pemberian Tuhan dan disisi lain adalah rasa derma kepada sesama yang membutuhkan serta penting bahwa ini semua adalah budaya Khas Nusantara untuk saling memberi kasih kepada Tuhan dan sesama makhluknya sehingga rasa ukhuwah atau persaudaraan akan selalu terbina. Walaupun berbeda keyakinan namun tetap satu dalam keragaman budaya dan bangsa. Rakyat Nusantara adalah rakyat yang saling merekatkan tangan untuk maju melangkah bersama membawa Indonesia sebagai bangsa yang akan selalu berbudi, beradab serta berperadaban dengan segala karya dan budayanya.

Profil penulis:

Nama: Arina Ulfatul Jannah

Alamat asal: Tayu, Jawa Tengah

Pendidikan: SI

Alumni Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam

Fakultas Dakwah dan Pengembangan Masyarakat

Institut Pesantren Mathali'ul Falah, Pati, Jawa Tengah

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini