Budaya “makan minumnya teh” di Pulau Jawa

Budaya “makan minumnya teh” di Pulau Jawa
info gambar utama

JAWA, pulau dengan penduduk terpadat di dunia. Konon kehidupan di sini sudah ada sebelum zaman Sulaiman AS. Kalau menakar sesuai kaidah antropologi, peradabannya dimulai sejak 10.000 tahun SM (Sebelum Masehi). Usia kronologis yang tentulah sudah sangat tua. Bangsa-bangsa Eropa boleh saja berbangga dengan kemajuan teknologi dan informasinya, tapi secara kronologis maupun biologis peradabannya masihlah terbilang belia apabila disandingkan dengan peradaban Bangsa Asia, yakni Indonesia, walbi khusus Pulau Jawa.

Sekira 7 tahun tinggal di pulau ini, terutama Jogja dan Solo untuk waktu yang paling lama, cukuplah buat saya untuk memahami sebagian besar kebiasaan penduduknya, tanpa terkecuali yang bukan orang jawa. Dan di antara keunikan yang tidak saya temukan di tempat lain kecuali di Pulau Jawa (dari Jawa Timur sampai Jawa Barat), adalah budaya minumnya. Beda tempat beda juga budaya makan dan minumnya. Khusus minum, hanya di Pulau Jawa kita dapatkan pertanyaan: “Minumnya apa?” dan lazimnya kalau tidak es jeruk ya es teh, atau dengan pertanyaan yang lebih spesifik, “Teh anget nopo es (Teh hangat apa es teh), Mas?” yang membuat kita seperti disisakan oleh hanya dua pilihan saja. Ini juga berlaku di Jawa Barat, bedanya, kalau di Jawa Tengah dan Timur tehnya pakai gula sementara di sana tehnya teh tawar. Ini saya amati ketika beberapa tahun lalu jalan-jalan ke Bandung dan Karawang. Sehingga untuk memesan teh versi penyediaan orang jawa, kau harus pesan khusus sedari awal ke penjualnya: “Mang, tehnya pakai gula ya…”, sementara kalau di Jawa Timur dan Jawa Tengah atau Jogja sebaliknya, “Teh tawar, Mas.” Sama-sama teh, hanya beda di manis atau tidaknya. :)

Bisa anda bayangkan, kebiasaan minum di sini sudah diarahkan sejak kita pertama kali masuk rumah makan atau ketika nongkrong di angkringan, bahkan saat bertamu di rumah orang. Adapun di Sulawesi dan beberapa tempat di luar Jawa lainnya yang pernah saya kunjungi, tidak pernah saya dapatkan pertanyaan seperti itu. Apalagi Sulawesi yang merupakan kampung halaman penulis, umumnya tidak menanyakan mau minum apa karena air minum di ceret serta gelasnya sudah berjejer rapi di atas meja, sedang yang di kota besar disediakan air kemasan mineral di mejanya. Karena sesuai kebiasaan orang sana: yang namanya minum ya air minum (putih/bening), tinggal mau yang dingin apa yang tidak dingin. Kecuali anda memesan khusus agar dibuatkan minuman jenis ini atau itu. tapi tidak akan ditawari pertanyaan: “Mau minum apa, Daeng?” atau “Minum teh hangat apa es jeruk, Pace’?”. Tidak, tidak ada pertanyaan yang seperti itu.

Maka tidak heran, beberapa waktu lalu sahabat saya yang orang jawa jalan-jalan untuk pertama kali ke Tanah Toraja bercerita, saat makan kok tidak disuguhi minum bahkan ditawari mau minum apa –pun tidak, setelah cukup lama canggung akhirnya dialah yang meminta sendiri kepada pemilik warung agar minumnya dibuatkan teh hangat. Dari cerita teman saya ini, pelayan rumah-makannya terlihat sedikit berkerut aneh mendengar permintaan itu, mungkin ini pelanggan yang pertama-tama yang minta, walau akhirnya dibuatkan juga teh hangatnya. Teman saya ini baru sadar kalau air mineral yang disediakan di atas meja itulah sebenarnya air minumnya.

Justru ini terbalik kondisinya saat saya minta minumnya air putih biasa atau banyu petak kalau kata orang jawa. Cobalah perhatikan pemilik warung (mungkin tidak semua, tapi beberapa kali sering saya alami); ketika saya makan dan ditawari “mau minum apa, Mas?” lantas saya jawab “petak” kok ada ekspresi yang sedikit berbeda dari pemilik warungnya, tidak se-semangat kalau saya pesan es teh, es jeruk atau setegah berteriak: jus melon. Saya hanya bisa tertawa dalam hati, tenang Wan, ini hanya masalah bisnis jual-beli makanan. Dua tahun yang lalu bahkan saya pernah mendapat ucapan seperti ini dari penjual angkringan yang pernah saya singgahi: “Oalah, Mas, wis 2015 kok ngombene jik banyu putih (walah, Mas, sudah tahun 2015 kok minumnya air putih).” Kali ini justru saya yang tidak tahan untuk tidak mengerutkan dahi. Kejadian ini juga yang membuat saya selanjutnya menjadi sungkan kalau pesan makan dan minumnya ‘hanya’ air putih. Hehehe..

***

Waktu begitu cepat berlalu sehingga banyak hal yang mulai berubah dalam kehidupan saya. Dulu, sebelum menginjakkan kaki untuk pertamakali di Pulau Jawa, makan nasi minumnya teh adalah suatu hal yang tidak lazim saya temukan di kampung halaman. Setelah sekian lama beradaptasi kondisinya kini terbalik, saat pulang ke kampung halaman ada yang kurang jika es teh dihilangkan atau makan minumnya hanya dengan petak doang.

Dari sini juga saya belajar banyak hikmah, terkait transformasi budaya dan interaksi sosial, bahwa kultur dan kebiasaan kita itu dibentuk oleh tempat di mana kita tinggal. Awalnya kita mencoba beradaptasi seperti kata peribahasa, “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”, tapi kemudian kita akan menjadi bagian dari apa yang sering dipaparkan. Kita merasa kehilangan jika kebiasaan-kebiasaan yang sudah terlanjur melekat itu dicoba kembali untuk dihilangkan.

Sekiranya demikian. Dan ini berlaku dalam segala hal dan bidang. “Makan minumnya teh” ini hanya contoh kecil yang luput dari perhatian orang.

*Iwan Mariono

**Sukoharjo, 06 Oktober 2017

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini