Dengan Baraan, Yuk Kenali Tetanggamu!

Dengan Baraan, Yuk Kenali Tetanggamu!
info gambar utama

Tidak banyak orang yang mengetahui mengenai tradisi baraan. Baraan dapat diartikan sebagai serombongan orang yang berjalan bersama-sama semacam sebuah arak-arakan. Awalnya saya tidak begitu memahami mengenai konsep tradisi baraan yang menjadi ciri khas budaya masyarakat di Bengkalis, Riau. Ternyata tradisi baraan benar –benar menjadi sebuah tradisi penting yang harus dilestarikan di Indonesia.

Tradisi baraan merupakan menjadi ciri khas perayaan Idul Fitri di Bengkalis. Tradisi ini sudah ada sejak zaman dahulu kala dan diturunkan ke generasi berikutnya. Hingga saat ini tradisi baraan masih sangat kuat dijalankan oleh masyarakat Bengkalis, dari orang dewasa sampai anak-anak. Hampir di setiap Desa di Bengkalis, menjalankan tradisi ini. Yaitu pada saat Lebaran masyarakat di Bengkalis akan mengunjungi rumah tetangganya satu persatu di Desa mereka, yang melakukan kunjungan adalah orang dewasa dan anak-anak. Sedangkan orangtua atau kakek dan nenek serta orang yang dituakan menjadi tuan rumah yang menyambut rombongan barakan. Sedikit perbedaannya hanya terletak dari pembagian rombongan antara laki – laki, perempuan, dan anak - anak.

Perayaan baraan biasanya diadakan per Dusun atau RW. Pada perayaan baraan, semua rumah di Dusun tersebut pasti akan mendapat giliran dikunjungi. Jika di satu Dusun terdapat 100 rumah, maka rombongan akan mengunjungi ke-100 rumah tersebut. Karena itulah tradisi baraan tidak bisa selesai hanya dalam satu hari. Biasanya kunjungan dibagi menjadi beberapa hari, antara tiga sampai empat hari tergantung dari banyaknya jumlah rumah yang ada di desa tersebut.

Pada saat tinggal di Bengkalis, tepatnya di Desa Pangkalan Nyirih Kecamatan Rupat, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan merasakan tradisi baraan ini. Sejak satu minggu sebelum Lebaran, masing – masing Kepala Dusun sudah mengadakan rapat untuk pembagian waktu kunjungan antar wilayah agar seluruh wilayah dusun di Desa Pangkalan Nyirih mendapatkan giliran kunjungan. Biasanya tradisi baraan ini dimulai pada hari ke dua Lebaran, karena hari Lebaran pertama dikhususkan untuk mengunjungi keluarga terdekat.

Pada saat baraan, rombongan di Dusun Sei Yap Darat, Desa Pangkalan Nyirih sudah bersiap sejak pukul 07.00. Hari ini akan ada sekitar 50 rumah yang akan dikunjungi. Peserta barakan rombongan perempuan mengenakan pakaian khas Melayu yaitu baju kurung berwarna cerah dengan motif bunga – bunga, sedangkan rombongan laki – laki mengenakan pakaian baju koko dengan celana panjang dan dilengkapi peci.

Rombongan dipimpin oleh seorang imam atau khalifah yang juga bertugas untuk membaca doa di rumah – rumah yang dikunjungi. Di tiap rumah, rombongan disambut oleh orang tertua atau yang dituakan di rumah tersebut sementara yang melayani tamu adalah anak atau mantunya. Pada saat kunjungan diawali dengan menyalami tuan rumah, duduk melingkar di lantai dan membaca doa shalawat. Sebagian besar rumah di Rupat tidak memiliki kursi atau sofa untuk duduk, mereka terbiasa duduk melantai untuk segala aktivitas seperti bersantai, nonton tv, dan makan. Setelah selesai bershalawat, rombongan dipersilakan menikmati hidangan yang disajikan.

Hidangan yang disajikan yaitu kue kering, sirup, dan minuman soda kaleng aneka rasa impor dari Malaysia. Nyaris semua rumah menyediakan minuman kaleng ini. Bengkalis sangat dekat dengan Malaysia sehingga sejumlah produk konsumsi berasal dari negeri seberang.

Lama kunjungan di tiap rumah kurang lebih 15 menit, demikian halnya dengan rumah – rumah lain. Pada tengah hari rombongan beristirahat dan shalat, lalu barakan dilanjutkan hingga sore harinya. Jika di Desa tersebut terdapat 300 rumah, maka artinya akan ada sekitar 50-70 rumah yang harus dikunjungi dalam satu hari. Tak ayal, tradisi ini bisa berlangsung selama lebih dari tiga hari.

Baraan benar – benar menggambarkan kekerabatan yang erat. Selama lebih dari tiga hari, kegiatan masyarakat difokuskan pada persiapan baraan. Jika mendapat giliran sebagai tuan rumah, maka harus menyiapkan penganan untuk menjamu tamu. Sedangkan jika mendapat giliran mengunjungi rumah – rumah tentu saja harus menyiapkan fisik dan tenaga untuk bertamu ke puluhan rumah pada keesokan harinya.

Di Bengkalis, baraan sudah menjadi tradisi yang sudah berjalan turun temurun dari tiap generasi. Sejak kecil anak – anak sudah dibiasakan untuk ikut terlibat di tradisi ini. Dengan demikian, baraan dapat dikatakan sebagai tradisi yang menjadi ciri khas Indonesia dan penting untuk dilestarikan. Adanya tradisi baraan ini dapat menguatkan tali silaturahmi masyarakat yang hidup bertetangga, pada saat baraan semua saling mengunjungi dan saling memaafkan. Tradisi baraan ini memberi pemahaman bahwa tetangga adalah saudara terdekat kita, yang harus dijaga kekompakannya dengan mempererat silaturahmi.

Bengkalis merupakan daerah yang pluralis, walaupun Melayu menjadi suku mayoritas disana tetapi suku Jawa dan Cina juga hidup berdampingan disini. Pada saat Natal dan Imlek pun masyarakat yang merayakannya turut menjalankan tradisi ini dengan saling mengunjungi dan berbagi berkat makanan. Warga Muslim mengunjungi rumah – rumah warga yang merayakan Natal untuk sekadar bersilaturahmi, begitu juga yang terjadi pada saat Imlek.

Tradisi baraan dapat menjadi contoh nyata kehidupan ber-Bhineka Tunggal Ika, dimana budaya Melayu – Islam sangat kuat namun dapat diterima dan diadaptasi oleh suku lainnya yang bermukim disana. Kearifan lokal baraan harus dijaga sebagai cerminan bangsa yang meskipun berbeda – beda suku dan agama namun bisa saling menghargai dan menjaga persaudaraan sebangsa dan setanah air Indonesia.


Sumber:

1. http://www.riaupos.co/4621-opini-memaknai-tradisi-baraan-.html#.Wdi8Yo-CzIU

2. https://www.kompasiana.com/masdarudin/baraan-tradisi-hari-raya-di-bengkalis_577cf64f86afbdd80819d0e1

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini