Indonesia Itu Asyik

Indonesia Itu Asyik
info gambar utama


Aku tahu Indonesia itu luas. Memiliki banyak pulau dari sabang sampai merauke. Dipenuhi beragam budaya disetiap sudutnya. Diwarnai bahasa yang jumlahnya tak bisa ku hitung. Tapi secara langsung, belum pernah aku merasakannya.

Ini awal cerita, saat aku memutuskan untuk keluar dari daerahku, Nusa Tenggara Timur. Aku bersekolah di salah satu sekolah tinggi di Surabaya. Sama halnya saat di SMA, aku kini kembali tinggal di asrama susteran dekat kampus. Memang ini bukanlah pilihan terbaik jika yang kau cari adalah kebebasan di masa perkuliahanmu. Namun, tinggal di asrama juga bukan pilihan terburuk jika kamu ingin mengenal lebih banyak orang dengan beragam pribadi dan budaya yang berbeda.

Awalnya aku merasa tertantang kembali beradaptasi di lingkungan yang baru. Namun, nyatanya ini tidak semudah pikiranku. Penyesuaian ini berbeda dari ekspetasi.
berkenalan dengan orang baru? Berbeda provinsi?’
‘mengapa tidak?’
‘mungkin ini akan menjadi cerita yang seru!’
Dan itu awalnya. Sampai hari-hari berlalu dan aku terus terpaku dengan bahasa,
‘bagaimana cara memulainya?’
‘apa mereka akan mengerti dengan perkataanku? Apa mereka paham bahasa keseharianku?’
‘apa perkataanku..akan ditertawakan ?’

Lingkaran pertemananku hanya berkisar mereka yang sedaerah denganku. Ya, ‘RAKAT’ sebutannya. Hal ini bukan tanpa alasan, hanya saja aku merasa mereka (selain RAKAT) tidak seperti kami (RAKAT, maksudku). Entah itu dari cara menyapa, mengobrol, ataupun lelucon yang menurutku lucu dan menurut mereka aneh. Mungkin hal-hal itulah yang membuatku tidak nyaman untuk lebih dekat dengan mereka.

Rasa tidak nyaman ini bukan hanya terjadi di asrama tetapi juga di kampus.

Sebenarnya aku tak tahu apa yang salah. Atau apa yang harus aku lakukan untuk lebih nyaman bergaul bersama mereka. Mungkinkah bahasa yang menjadi kendala dalam hal ini?

Bahasa?

Ya, kurasa seperti itu. Bagaimana tidak, disaat kami duduk bersama dan saling bertukar cerita, mereka yang dari Pulau Jawa akan bercerita dengan bahasa mereka sendiri. Yang dari Bali pun begitu. Dan kami yang RAKAT, walau kami menganggap bahasa yang kami bicarakan adalah bahasa yang pasti dimengerti, namun bagi mereka yang selain RAKAT akan memasang wajah berkerut. Sayangnya, mereka akan kembali bertanya “hah?” dan kami secara perlahan akan kembali menjelaskan kepada mereka apa yang kami bicarakan. Hal ini memang tidak berlaku bagi para RAKAT yang menggunakan “aku-kamu-nggak” (walau sebenarnya saat mendengarkan para RAKAT berbicara seperti itu, aku mengganggap mereka sok ke-jawa-an dan rada aneh).

Hal-hal membingungkan seperti itu terjadi pada awal minggu pertemuan baik itu di asrama maupun di kampus. Dan keadaan itu juga sempat membuatku kewalahan jika sedang mengerjakan tugas bersama mereka yang non-RAKAT.

Akan tetapi setelah satu bulan lebih berlalu, kebingunganku pelan-pelan mulai menghilang. Bahasa membingungkan itu terasa semakin akrab ditelingaku. Pergerakanku mulai terasa bebas tanpa berpikir ‘apa yang mereka katakan?’ atau ‘apa yang harus aku katakan’.
Walaupun belum sepenuhnya, walaupun aku ataupun mereka mencoba berbicara menggunakan bahasa Indonesia (yang tanpa disadari diselingi bahasa daerah masing-masing) agar saling memahami. Namun kini tidak sesulit satu bulan yang lalu. Disaat Jawa, Bali, Kalimantan, NTT, Maluku bahkan Papua harus mencoba saling mengerti dengan beragam bahasa daerah.

Bahkan keragaman bahasa itu kini terdengar unik, menurutku. Contohnya saat kami membuat grup WhatsApp kelas dan kami malah iseng berbicara menggunakan bahasa daerah masing-masing. Saling membalas tanpa melihat perbedaan. Entah mengapa aku merasa bahasa yang kami miliki itu unik. Beragam tapi memiliki satu makna.

Hal lainnya yang tidak kalah seru, kami bahkan saling mencari tahu bahasa satu sama lain. Saling bertukar bahasa daerah dan mulai mempraktikannya walau terdengar canggung. Saling melempar tawa mendengar dialek masing-masing. Dan saling membenarkan pengucapan bahasa ke bahasa Indonesia yang sebenarnya. Lama-kelamaan kami mulai terbiasa menerima keragaman budaya yang ada.

Tak hanya bahasa, kami juga saling bertukar budaya masing-masing. Saling bertukar cerita tentang adat masing-masing. Dan itu semakin membuatku merasa Indonesia itu luas. Luas yang tidak menjadi tembok pembatas. Semuanya saling mengisi. Ya, keragaman itu saling mewarnai seperti batik yang kami kenakan di hari Senin, 2 Oktober 2017 lalu.

Di hari kemarin, mungkin aku bingung untuk menghadapi keragaman Indonesia. Bingung bagaimana caranya berbaur bersama keragaman bahasa. Namun yang tidak aku sadari, aku sudah termasuk dalam keragaman itu. Termasuk dalam warna yang saling mewarnai.

‘mungkin ini akan menjadi cerita yang seru!’

Aku rasa tak ada yang salah dengan pemikiranku pada awalnya. Ini memang cerita yang seru saat kau benar-benar merasakan keragaman yang dimiliki Indonesia. Karna sesungguhnya, tanpa kita sadari Indonesia itu asyik. Jadi, mengapa tidak kita bongkar saja keunikan yang ada agar semua orang tahu keasyikan yang Indonesia miliki?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini