Bisakah Seorang Ibu Negara (Baru) Memulai Pembelajaran dan Dedikasi pada Waktu yang Sama?

Bisakah Seorang Ibu Negara (Baru) Memulai Pembelajaran dan Dedikasi pada Waktu yang Sama?

Ani Yudhoyono © kompasiana.com

Perempuan disebut sebagai makhluk paling rumit yang pernah ada. Ia ingin terus dimengerti, tapi ia tak memiliki kewajiban untuk mengungkapkan apa sebenarnya kemauannya. Jalan pikirannya tak bisa ditebak, sering kali berubah dalam satuan waktu detik. Perasaan adalah anugerah yang terus melekat kepadanya sampai kapanpun, tak aneh jika logika acap dinomorduakan. Cinta yang lahir dari seorang perempuan merupakan senjata terkuat di dunia. Cinta dapat menjadi penyejuk, pun perusak di kondisi tertentu. Oleh karena itu, perempuan harus “dikemas” dengan indah agar kehadirannya tak hanya menjadi perusak semata.

Tuhan menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan, seperti lelaki dan perempuan. Ketika sepasang anak manusia telah merasakan tak bisa hidup tanpa saling memiliki, saat itulah mereka hendaknya disatukan dalam sebuah janji suci pernikahan. Dalam kitab suci umat Islam, disebutkan bahwa jodoh adalah cerminan diri. Jika disederhanakan, lelaki baik hanya untuk perempuan baik, begitu pula sebaliknya.

Dua paragraf diatas bukan merupakan puisi, sajak indah, atau ungkapan hati. Kalimat demi kalimat diatas merupakan ilustrasi singkat tentang watak atau sifat seseorang yang pernah menjadi “first lady” di negeri ini. Iya, dua paragraf diatas akan menuntun kalian pada sebuah cerita romansa kehidupan dari Kristiani Herawati. Kalian tak mengenal nama itu. Kalian mengenalnya dengan nama Ani Yudhoyono. Seorang perempuan yang pernah menjadi ibu negara, pembawa lensa kamera kemanapun ia berkunjung untuk mengabadikan setiap peristiwa yang tak sempat dilihat atau dinikmati oleh sang suami, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pada tahun 2004, pesta demokrasi pemilihan pemimpin negeri ini dilaksanakan untuk pertama kalinya. Kehadiran sosok mantan menteri, SBY, yang terpilih menjadi presiden pertama pilihan rakyat mencengangkan banyak pihak, tak terkecuali presiden sebelumnya, Megawati Soekarno Putri. Integritasnya bisa dibilang cukup baik, terlihat dari karir militer dan pemerintahannya. Meskipun demikian, SBY nyatanya tak berhenti dibanjiri cemoohan dari berbagai pihak yang tampaknya adalah lawan politiknya. Rakyat, tak sepenuhnya tenang-tenang saja. Banyak juga yang meragukan bagaimana Indonesia lima tahun kedepan ditangan seorang SBY.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Adalah Ani Yudhoyono, perempuan yang mendampingi SBY dalam berbagai situasi. Anak seorang jenderal ini menikah dengan SBY pada tahun 1976. Alih-alih hidup dengan serba mudah karena berpredikat anak jenderal, kehidupan setelah pernikahan adalah masa sulit awal yang harus dijalani oleh Ani Yudhoyono. Ia tinggal di rumah dinas yang tak begitu luas. Dengan uang yang pas-pasan dari gaji SBY sebagai tentara, tak jarang pasangan ini harus ikhlas memberikan uangnya bagi keluarga tentara lain yang juga hidup dengannya dalam satu komplek. Hal ini harus Ani lakukan mengingat ia adalah ibu persit yang membawahi banyak istri prajurit. Jiwa kepemimpinannya mengetuk nuraninya untuk seakan ikut bertanggung jawab terhadap kualitas hidup para keluarga tentara lain disana.

Sepak terjang SBY pada lima tahun pertama sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan RI memang baik. Banyak terobosan baru dibuat untuk kesejahteraan rakyat, seperti meningkatkan pendapatan per kapita dan memperbaiki infrastruktur terutama jalan. Tak hanya itu, SBY juga berhasil menaikkan martabat Indonesia di mata dunia dengan menjadi G-20 Negara Ekonomi Terkuat Dunia pada 2009 dan melunasi hutang di IMF. Ditambah dengan keberhasilan-keberhasilan lain, membuat SBY terpilih kembali menjadi presiden pada tahun 2009. Satu dekade memimpin Indonesia memberikan kesan tersendiri baginya, Ani, dan rakyat.

Peran Ani Yudhoyono sebagai ibu negara menjadi perhatian bagi publik. Ciri khasnya ialah kamera dengan lensa yang cukup panjang. Hobinya memang memotret, foto-foto bidikannya ia bagi di akun jejaring sosial miliknya. Jumlah pengikutnya di instagram mencapai jutaan. Netizen dapat melihat hal unik di postingan instagram Ani, caption berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris tak pernah berubah sejak dulu hingga kini. Pernah ia sampaikan bahwa hobi memotretnya ini membuat SBY bahagia. Saat SBY tengah sibuk dengan urusan kenegaraan, tak selamanya Ani ikut mendampingi. Ada kalanya SBY melarang Ani untuk ikut. Ketika situasi seperti ini terjadi, alih-alih bersantai atau beristirahat sejenak, Ani memulai safarinya di lokasi ia menunggu SBY dengan sebuah kamera di tangan. Kepekaan terhadap sesuatu yang unik membuatnya menghasilkan bidikan-bidikan dengan objek yang seolah-olah hidup dan memiliki cerita. Seusai SBY melaksanakan tugasnya, dalam perjalanan pulang mulailah Ani beraksi. Satu per satu gambar hasil jepretannya ditunjukkan pada SBY. Tak hanya diam, Ani antusias dalam membagi cerita dibalik foto-foto tersebut. Cerita Ani terkadang membuat SBY terkaget, ada saja cerita unik dan lucu. Tanpa disadari, obrolan antara presiden dan ibu negara yang hobi memotret itu melahirkan romansa tersendiri. Ani tak ingin menikmati suatu momen sendiri, ia ingin selalu menikmatinya bersama sang suami. Ia abadikan dengan kameranya agar sang suami dapat juga menikmati momen yang telah ia nikmati sebelumnya. Keduanya selalu ingin berbagi dan melengkapi, bak sepasang anak manusia yang tak bisa hidup bersama tanpa saling memiliki.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Saat baru menjabat sebagai presiden RI, SBY melarang Ani untuk berpolitik. Ani hanya boleh melakukan hal positif yang membawa kebaikan dan dapat menginspirasi rakyat. Ani mulai meningkatkan kedekatan dengan masyarakat dengan mencurahkan perhatian, kepekaan, dan kepedulian. Nomor pribadinya tersebar luas agar rakyat dapat menghubunginya secara langsun tanpa melalui ajudan atau protokoler. Ia jalani kehidupannya sebagai ibu negara dengan ikhlas, meskipun terkadang sebagai manusia biasa ia dilanda rasa pusing dan letih yang amat sangat. Sebagai istri, Ani selalu ada untuk SBY dengan segala dukungan dan apresiasi tinggi. Turut berproses, Ani juga terus menggembleng mentalnya agar dapat menjadi ibu negara yang baik. Berawal dari istri tentara menjadi istri presiden, penyesuaian dan pembelajaran adalah mutlak untuk dilakukan. Negara tak memberi waktu bagi Ani untuk siap menjadi ibu negara. Sesaat setelah suaminya dilantik sebagai presiden, saat itulah ia menjabat sebagai ibu negara. Maka memulai pembelajaran dan dedikasi pada rakyat harus dilakukan di waktu yang sama. Bersentuhan dengan rakyat menjadi rutinitas selanjutnya. Kedekatan secara fisik tak selamanya bisa terjadi 24 jam dalam seminggu, namun Ani berusaha membangun kedekatan melalui kontak batin. Turun langsung bertemu rakyat tak membuat wibawanya luntur, justru kewibawaan itu lahir dari teladan dan kepemimpinan yang baik.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Masa-masa awal pernikahan tinggal di rumah dinas tentara meninggalkan memori tersendiri bagi seorang Ani Yudhoyono. Ia menanam cabai dan sayuran di pekarangan rumah yang sangat kecil demi berhemat. Bubur kacang hijau jatah SBY di kantor, tak pernah langsung dimakan melainkan dibawa pulang. Ani memasak kembali bubur tersebut dengan menambahkan kuah santan. Lalu ia hidangkan untuk Agus dan Ibas kecil agar gizi mereka terpenuhi. Bagi SBY dan Ani, keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk tidak memprioritaskan gizi dan nutrisi yang diterima oleh anak-anak. Keadaan berbeda 180O kala SBY dan Ani menjadi orang nomor satu di negeri ini. Kemegahan tersaji di semua sisi Istana Negara. Mereka memilih tinggal di Istana Negara dikarenakan pertimbangan efisiensi. Bayangkan berapa banyak jalanan yang harus ditutup ketika mereka harus pulang pergi dari dan menuju kediaman pribadi di Cikeas.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Sebagai ibu negara baru, Ani memutuskan untuk menjadi ibu negara yang terbuka, bukan seseorang yang konservatif dan tertutup. Ani ingin rakyatnya berani untuk mengungkapkan realitas. Ide-ide lahir secara konseptual dan terencana, tujuannya agar eksekusi dapat dijalankan dengan baik dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh rakyat. Ani mengakui bahwa beberapa idenya merupakan ide spontan yang terinspirasi dari mana saja, efek terbukanya hati dan pikiran. Sebagai ibu negara, Ani juga harus belajar untuk berpidato dengan baik. Saat berpidato, rakyat tak hanya melihat, Ani ingin ada interaksi jiwa di dalamnya. Ani ingin jiwanya sampai pada jiwa rakyat yang mendengarnya. Ibu negara adalah sosok penyambung nurani rakyat.

Satu dekade mendedikasikan diri sebagai ibu negara, Ani Yudhoyono dinilai berhasil oleh rakyat. Ia begitu dicintai dan dirindukan bahkan saat ia telah kembali menjadi rakyat biasa. Selama berpuluh-puluh tahun hidup, semangat dan rasa cinta pada kehidupan adalah nilai syukur yang ia hayati. Hidup seperti kisah yang terjalin indah seiring dengan bergulirnya waktu. Seorang Kristiani Herawati adalah perempuan hebat dibalik kesuksesan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang selalu menghirup cinta yang luar biasa dari alam, keluarga, dan lingkungan.

Sumber: Buku Kepak Sayap Putri Prajurit

Pilih BanggaBangga73%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi18%
Pilih TerpukauTerpukau9%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Maumere Jazz Fiesta Flores 2017 Kembali Digelar Sebelummnya

Maumere Jazz Fiesta Flores 2017 Kembali Digelar

"Tanpanya,  Mungkin Saya Jadi Penjual Es di Tebet" Selanjutnya

"Tanpanya, Mungkin Saya Jadi Penjual Es di Tebet"

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.