Perjuangan Orang Muda Indonesia Zaman Sekarang

Perjuangan Orang Muda Indonesia Zaman Sekarang
info gambar utama

Delapan hari lagi kita akan memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-89 sejak di ikrarkan pada 28 Oktober 1928. Sebagai orang muda Indonesia yang hidup 'mewah' sekarang, mungkin sebagian dari kita sudah tidak begitu tertarik dengan perjuangan anak muda zaman perjuangan dulu. Internet, robot, games atau media sosial sekarang lebih menarik ketimbang sejarah, meskipun saya tahu ada masih ada yang tertarik dengan sejarah bangsa ini.

Saat ini, total penduduk Indonesia mencapai lebih dari 230 juta orang, yang sebagian besar adalah orang-orang muda dengan usia produktif. Total ini penduduk saat ini bila dibandingkan dengan jumlah penduduk pada zaman perjuangan dahulu, jelas yang sekarang lebih banyak. Dan sebagai orang muda yang hidup di era yang sudah merdeka, apakah kita sudah benar-benar berhenti berjuang? Tentu tidak.

Menuju Indonesia yang sejahtera masih membutuhkan perjuangan dan perjalanan yang panjang. Sejahtera dalam artian, seluruh masyarakatnya mendapatkan kesejahteraan ekonomi, akses pelayanan kesehatan dan pendidikan yang layak, dan tentu saja pembangunan yang merata. Karena begitu besarnya Indonesia, beragam pula polemik yang dihadapi bangsa ini, termasuk orang-orang mudanya. Dan dari sekian banyak isu yang ada, yang paling menarik untuk dibahas akhir-akhir ini adalah tentang minat baca anak bangsa. Tahun lalu Central Connecticut State University mendudukkan tingkat literasi masyarakat Indonesia di posisi 60 dari 61 negara yang disurvei, hanya setingkat di atas Botswana. Meski ranking ini bukan perkara minat baca—tetapi antara lain masalah akses komputer, sirkulasi surat kabar, dan tingkat pemahaman literasi—survei ini juga kerap dipakai pejabat dan tokoh untuk menyatakan keprihatinan atas rendahnya minat baca. Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) sampai 2015 juga menunjukkan kecenderungan meningkatnya penonton televisi hingga mencapai 91,5% sementara pembaca surat kabar hanya 13,1% pada 2015, atau terendah sepanjang tercatat oleh BPS sejak 1984. Minat baca memang menjadi sorotan yang tidak bisa disepelekan, karena mempengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia, khususnya orang-orang muda dengan usia produktifnya. Karena, siapa lagi yang membangun Indonesia, jika bukan anak bangsanya sendiri?

Membaca selama ini selalu diidentikkan dengan sebuah kegiatan yang membosankan, sebuah hobi yang hanya dimiliki oleh orang pintar, dan orang yang tidak punya kerjaan (membaca komik misalnya). Padahal seharusnya, membaca adalah sebuah kewajiban. Maka sampai disini, mari kita perkecil pembahasannya, minat baca yang harus menjadi perjuangan orang-orang muda zaman sekarang adalah, minat baca terhadap literasi yang berbobot dibidang pendidikan dan kemajuan teknologi.

Perjuangan orang muda Indonesia adalah membangun kesadarannya, membangun kembali rasa haus akan pengetahuan ketimbang berlama-lama berselancar di media social. Sebagian anak muda memang memanfaatkan dengan baik interaksinya lewat akun media social, seperti menjadi influencer atau berbisnis dan pelaku industry kreatif. Namun, sebagiannya lagi tidak berhasil memanfaatkan media social dengan baik, alhasil orang-orang muda ini menjadi generasi millennial yang apatis terhadap pergerakan zaman yang semakin canggih. Sekali lagi kita harus ingat, buku tetap menjadi sumber ilmu dan jendela dunia.

Artikel dari conversation.com pernah menulis tentang bagaimana kondisi penyebaran buku dan perpustakaan di Indonesia yang sejatinya mempengaruhi juga minat baca bangsa ini. Sebenarnya, upaya untuk menumbuhkan minat baca bisa dibangun dari ketersediaan bacaan. Penulis menyalin data dari artikel serupa (sumber dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) yang menyebut bahwa pertama, data jumlah perpustakaan sekolah. Kita ambil data di tingkat sekolah dasar (negeri maupun swasta), dari 147.503 sekolah baru ada sekitar 90.642 perpustakaan, persentasenya mencapai 61,45%. Namun angka ini masih menyusut lagi, karena dari jumlah itu, kondisi perpustakaan yang bebas dari rusak ringan-total hanya 28.137, atau tersisa 19% dibandingkan angka jumlah sekolah atau 31% dibandingkan angka perpustakaan SD. Kondisi serupa juga dialami di tingkat SMP dan SMA. Kedua, jumlah perpustakaan desa juga tidak lebih baik. Dari 77.095 desa/kelurahan yang ada, baru terdapat 23.281 perpustakaan atau sekitar 30%.

Ketiga, jumlah toko buku belum sebanding dengan luasnya wilayah Indonesia. Jaringan toko buku terbesar, Gramedia, hanya membuka sekitar 100 toko yang tersebar di kota-kota besar dari 514 kabupaten/kota. Minimnya jumlah toko buku, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan umum memperlihatkan sulitnya akses masyarakat terhadap buku. Jika untuk mengakses buku saja sulit, bagaimana akan terbentuk minat baca? Lantas, bagaimana anak bangsa yang dipelosok dapat mengakses buku?

Siswa SDN 02 Ngijon di Sleman, Yogyakarta, melihat-lihat buku yang dibawa komunitas literasi Helobook. Lukman Solihin | conversation.com
Siswa SDN 02 Ngijon di Sleman, Yogyakarta, melihat-lihat buku yang dibawa komunitas literasi Helobook. Lukman Solihin | conversation.com

Dari artikel itu pula, penulis menemukan komunitas literasi yang bernama Pustaka Bergerak. Gerakan taman bacaan dan Pustaka Bergerak ini masif dan sporadis, menjangkau sampai ke pelosok dan pedalaman.

Nirwan Ahmad Arsuka gerakan budaya literasi secara mandiri (Miftahul Hayat/Jawa Pos)
info gambar

Pendirinya bernama Nirwan Ahmad Arsuka, yang telah berhasil membuka sejumlah jaringan di berbagai daerah dari Sumatera hingga Papua, mulai dari Perahu Pustaka, Kuda Pustaka, Gerobak Pustaka, Kereta Pustaka, Pedati Pustaka, Ojek Pustaka, Motor Pustaka, Becak Pustaka, Ransel Pustaka, Sepeda Pustaka, Noken Pustaka hingga warga yang bergerak dengan berjalan kaki membawa buku-buku diantaranya seperti Bois Pustaka di Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah dan yang dilakukan seorang gadis muda di Papua Barat yang berjalan kaki menaiki bukit-bukit, menyeberangi sungai dengan membawa buku-buku bacaan. Inilah salah satu contoh bentuk perjuangan itu, yakni dengan menumbuhkan dan menggali potensi bangsa sendiri.

Kamu juga bisa menembus diri sendiri, dengan tetap mulai membaca bacaan yang berbobot dan mengandung ilmu yang luas dan dalam. Kamu, orang muda Indonesia yang bisa memulai awal baik dengan membaca. Karena kamu, orang muda Indonesia yang hidup di zaman merdeka. Salam Kegerakan Orang Muda Indonesia!


Sumber: conversation indonesia : Semangat membaca di pelosok menantang anggapan minat baca rendah | Kompasiana oleh Marlistya Citraningrum : Kata Siapa Minat Baca Indonesia Rendah

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini