Kesenian Reog: Sarat Makna Politik

Kesenian Reog: Sarat Makna Politik

Tari Jathilan Reog Ponorogo © Foto: Media Maya

Ketika mendengar kata Reog, mungkin kita sering mengasosiasikannya dengan kabupaten bagian selatan provinsi Jawa Timur, Ponorogo. Tapi sesungguhnya Reog terdapat dua jenis yakni Reog Ponorogo dan Reog Sunda.

Meskipun keduanya memiliki nama yang sama, tapi keduanya memiliki filosofi dan jalan cerita yang berbeda. Saat Reog Sunda merupakan musik tarian tradisional diiringi komedi, Reog Ponorogo justru menunjukkan sisi lain dari manusia yang kuat namun terdapat makna sindiran politik di dalamnya.

Cerita lebih lanjut mengenai Reog Ponorogo yang sarat akan makna politik pernah di posting oleh Amir Khan melalui akun Indonesaga-nya melalui judul "Reog, Seni Menyindir Kekuasaan yang Masih Lestari."

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat. Sumber: Wikipedia | Foto: Amir Khan/Indonesaga
Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat. Sumber: Wikipedia | Foto: Amir Khan/Indonesaga
Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal usul Reog dan Warok. Namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Tiongkok, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup. Sumber: Wikipedia | Foto: Amir Khan/Indonesaga
Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal usul Reog dan Warok. Namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Tiongkok, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup. Sumber: Wikipedia | Foto: Amir Khan/Indonesaga
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan di atasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada di balik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya. Sumber: Wikipedia | Foto: Amir Khan/Indonesaga
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan di atasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada di balik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya. Sumber: Wikipedia | Foto: Amir Khan/Indonesaga
Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang atau jathilan, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Sumber: Wikipedia | Foto: Amir Khan/Indonesaga
Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang atau jathilan, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Sumber: Wikipedia | Foto: Amir Khan/Indonesaga


Sumber: Indonesaga | Wikipedia

Pilih BanggaBangga24%
Pilih SedihSedih19%
Pilih SenangSenang24%
Pilih Tak PeduliTak Peduli19%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi10%
Pilih TerpukauTerpukau5%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Pencegahan Perdagangan Liar di sumatra tinggi Sebelummnya

Pencegahan Perdagangan Liar di sumatra tinggi

Tingkatkan Daya Saing dan Kualitas UKM, UNDAR dan Dinas Perdagangan Gelar Temu Usaha Selanjutnya

Tingkatkan Daya Saing dan Kualitas UKM, UNDAR dan Dinas Perdagangan Gelar Temu Usaha

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.