[Foto] Satu Lagi Orangutan Kembali Ke Alam

[Foto] Satu Lagi Orangutan Kembali Ke Alam

Melky saat dilepasliarkan © Foto: IAR Indonesia

Melky yang kini hidup bebas di Gunung Tarak, Kalimantan Barat | Foto: IAR Indonesia/Heribertus Suciadi
Melky yang kini hidup bebas di Gunung Tarak, Kalimantan Barat | Foto: IAR Indonesia/Heribertus Suciadi

Melky, orangutan (Pongo pygmaeus) jantan, menghabiskan delapan tahun hidupnya di Pusat Rehabilitasi dan Konservasi Orangutan International Animal Rescue Indonesia (IAR). Ia diselamatkan dari warga yang memeliharanya pada Mei 2009 sekaligus sebagai orangutan pertama yang direhabilitasi IAR.

Pada 17 Desember 2017, Melky akhirnya kembali ke alamnya. IAR bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat melepasliarkan Melky dan lima individu kukang di Hutan Lindung Gunung Tarak, Kabupaten Ketapang. Kelima kukang itu bernama Bulan, Lana, Madu, Jejes, dan Yohanes. Bulan berasal dari kabupaten Bengkayang sedangkan empat lainnya dari Pontianak. Mereka semua hasil sitaan dari masyarakat.

Sama halnya dengan Melky, lima kukang ini pun menjalani masa rehabilitasi. Upaya untuk mengembalikan sifat liar satwa yang telah sekian lama dipelihara manusia. Mereka belajar kemampuan dasar bertahan hidup di alam seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang.

Melky sendiri berusia dua tahun saat diselamatkan pada Mei 2009 lalu, sehingga harus lebih lama beradaptasi untuk dapat hidup mandiri. Harusnya, bayi orangutan tinggal bersama induknya sampai usia 6-8 tahun. Pada masa itu, ia belajar hidup.

“Lama proses rehabilitasi tergantung masing-masing individu. Ada yang cepat belajar, ada pula yang membutuhkan waktu yang lama seperti Melky,” ujar Karmele Sanchez, Program Direktur IAR Indonesia, baru-baru ini.

Sebelum dilepasliarkan, kandidat orangutan wajib menjalani pengambilan data perilaku terlebih dulu. Mereka ditempatkan di area khusus, lokasi animal keeper akan mencatat segala tingkahnya. “Hal ini dilakukan untuk memastikan orangutan yang akan dilepasliarkan nanti memenuhi segala syarat dan mampu bertaham hidup di habitat aslinya,” lanjutnya.

Lalu, mengapa Gunung Tarak yang dipilih sebagai lokasi pelepasan? Hutan Lindung Gunung Tarak yang terletak di Desa Pangkalan Teluk, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, adalah salah satu Kawasan Ekosistem Esensial yang masih terjaga kelestariannya. Hutan Lindung ini merupakan koridor flagship species seperti orangutan dan beberapa primata, enggang gading dan beberapa aves, serta mamalia dilindungi lainnya.

“Hutan Lindung Gunung Tarak dipilih sebagai tempat habituasi setelah melalui survei kondisi habitat, ketersedian pakan dan animal welfare,” jelas Karmele.

Lima individu kukang juga dilepasliarkan di Gunung Tarak | Foto: IAR Indonesia/Heribertus Suciadi
Lima individu kukang juga dilepasliarkan di Gunung Tarak | Foto: IAR Indonesia/Heribertus Suciadi

Foto proses pelepas liaran Melky dan 5 individu kukang

Tim pengantar berjalan kaki selama lebih dari 4 jam membawa Melky menuju titik pelepasliaran di dalam Kawasan Hutan Lindung Gunung Tarark, Kalimantan Barat | Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia
Tim pengantar berjalan kaki selama lebih dari 4 jam membawa Melky menuju titik pelepasliaran di dalam Kawasan Hutan Lindung Gunung Tarark, Kalimantan Barat | Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia
Melky, menjadi orangutan pertama yang direhabilitasi IAR Indonesia. Setelah melewati proses panjang pengembalian sifat liar alaminya, kini ia telah bebas ke alam | Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia
Melky, menjadi orangutan pertama yang direhabilitasi IAR Indonesia. Setelah melewati proses panjang pengembalian sifat liar alaminya, kini ia telah bebas ke alam | Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia
Salah satu individu kukang yang dilepasliarkan di Gunung Tarak, Minggu (17/12) nampak mulai keluar dari kandang transportasi menuju kebebasannya | Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia
Salah satu individu kukang yang dilepasliarkan di Gunung Tarak, Minggu (17/12) nampak mulai keluar dari kandang transportasi menuju kebebasannya | Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Wonder Woman Tani di Hulu Kapuas Sebelummnya

Wonder Woman Tani di Hulu Kapuas

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.