Rayhan Sudrajat : Kembali Ke Akar Untuk Memperkokoh Budaya

Rayhan Sudrajat : Kembali Ke Akar Untuk Memperkokoh Budaya
info gambar utama

Saya ingin mengajak orang-orang Indonesia untuk kembali ke akarnya masing-masing untuk memperkokoh budayanya. Impian saya, kita sebagai orang Indonesia bisa tahu jati diri dan identitas kita siapa. Di mana pun kita berada, kita tahu kita siapa, dan kita tidak bingung tentang identitas kita sebagai orang Indonesia.”

Itulah beberapa kalimat yang sangat saya ingat dari seorang Muhammad Rayhan Sudrajat, seorang etnomusikolog yang lahir di Bandung, 27 tahun silam.

Rayhan adalah seorang musisi yang sudah melewati perjalanan panjang dalam bermusik. Ia memulai belajar bermain musik pada saat duduk di bangku kelas 3 SD, waktu itu ia mulai belajar gitar, dan kemudian mendalaminya secara otodidak. Setiap hari ia belajar lagu-lagu salah satu band yang berasal dari Inggris, yaitu The Beatles. Beranjak SMP, ia pun semakin mendalami musik aliran alternative. Hingga pada tahun pertama duduk di bangku SMA, musik mulai mengantarkannya untuk melihat dunia lebih luas. Musik juga membawanya untuk bisa terbang sampai ke Benua Eropa.

Saat duduk di kelas satu SMA, Rayhan sudah tertarik untuk belajar alat musik kecapi, akhirnya kedua orangtuanya—Umi dan Abah pun memfasilitasinya dengan cara mengundang guru privat untuk mengajarinya.

“Jadi ceritanya, suatu kali, Eyang saya lagi ulang tahun, terus beliau meminta saya untuk main kecapi di acara ulang tahunnya. Kebetulan, ada temennya Om saya yang bekerja di kedutaan besar juga ikut hadir di acara itu. Kemudian beliau tertarik dengan permainan saya, dan menawarkan saya untuk main kecapi ke Belgia dan Belanda,” kata Rayhan saat sedang menjelaskan kepada saya.

Setelah bermain musik sampai ke Eropa, Rayhan pun pulang ke Indonesia dan kembali mendalami musik beraliran alternative. Pria yang lulus dari jurusan Sastra Inggris Universitas Padjajaran Bandung ini semakin memperluas pengetahuannya tentang musik selama ia duduk di bangku perkuliahan, salah satunya adalah musik etnik. Hingga akhirnya ia lulus dan bekerja menjadi sebuah konsultan penerbangan.

Mulai Tertarik Musik Etnik

Akhir tahun 2014 setelah ia merasa jenuh dengan pekerjaan lamanya adalah awal mula cerita perjalanan Rayhan dimulai. Suatu kali ia sedang menghubungi temannya yang berada di Kalimantan Tengah, hingga akhirnya temannya mengajaknya untuk menghabiskan malam pergantian tahun di sana. Akhirnya Rayhan pun berangkat ke tanah Borneo.

Selama berada di sana Rayhan belajar banyak dari masyarakat adat Kalimantan tentang musik dan budaya. Dari sini lah Rayhan mulai tertarik dengan dunia etnomusikologi.

Sebuah Lagu yang Sangat “Magical” Bagi Seorang Rayhan

Suatu waktu di perjalananya pada saat berada di pedalaman Kalimantan Tengah, Rayhan sedang duduk di beranda rumah salah seorang musisi suling yang sangat legenda di Kalimantan Tengah, yaitu Syaer Sua.

“Beliau lagi main suling, di depan saya, improvisasi aja sebenernya, beliau sendiri juga iseng main suling itu. Tapi saya menangkap sebuah energi yang beda. Saya merasa ada hal yang ‘lain’ dari nada-nada yang beliau mainkan. Akhirnya saya segera rekam di handphone saya. Begitu saya kembali ke Bandung, saya kembali dengarkan. Kemudian saya ambil gitar dan saya mainkan lagi lagu itu,” jelas Rayhan sangat antusias.

Rayhan sangat percaya bahwa lagu itu adalah sebuah lagu yang sangat magical. Ia merasa tubuhnya hanya “dipinjam” untuk bisa menciptakan lagu ini.

“Judul lagunya adalah ‘Palangkaraya Hadurut’ lagu ini bercerita tentang proses penciptaan bumi dan manusia, menurut mitologi orang Dayak. Palangka sendiri artinya adalah guci, raya artinya besar dan hadurut artinya perlahan-lahan. Jadi menurut orang-orang kepercayaan Kaharingan (kepercayaan asli Kalimantan Tengah) cerita penciptaan manusia, awalnya dari surga turun sebuah guci berwarna emas, kemudian turun perlahan-lahan di satu titik yaitu Kalimantan Tengah, dan dari situlah manusia memulai kehidupan,” sambung Rayhan.

Alasan Memilih Musik Masyarakat Baduy dan Dayak

Awal Rayhan memilih musik Dayak adalah karena lagu “Palangkaraya Hadurut” tadi yang sangat sakral baginya. Sementara musik dari masyarakat Baduy sendiri, adalah karena masyarakat Baduy memiliki keunikan sendiri bagi Rayhan.

“Menurut saya, Baduy sendiri adalah sebuah masyarakat yang sangat unik dan memiliki nilai kearifan budaya yang sangat tinggi. Oh iya, satu lagi, kalau kita belajar musik, otomatis kita juga pasti belajar budaya. Karena musik sendiri adalah hasil dari budaya itu sendiri. Kayak contohnya, di kebuudayaan suku Baduy, kita hanya boleh main angklung pada saat musim panen,” jelasnya.

“Kenapa gitu, Mas?” tanya saya penasaran.

“Nah, main angklung di sana harus berdasarkan musim, sekaligus tanggal dan bulan yang benar. Yaitu, pada saat padi di sawah sudah mulai menguning dan siap dipanen. Angklung dimainkan oleh masyarakat Baduy untuk menyambut sukacita Dewi Sri (Dewi Kesuburan). Ketika kita memainkan angklung, akan ada gelombang bunyi yang dihasilkan dan membuat padi itu senang, dan padi itu bisa menghasilkan hasil bumi yang terbaik yang bisa kita nikmati.” Jawabnya.

Bagi Rayhan Musik adalah Penyelamat Hidupnya

Musik bagi seorang Rayhan Sudrajat adalah penyelamat hidup. Rayhan bercerita bahwa hanya musiklah yang menemaninya dikala ia sedang ‘jatuh’ dan hanya musiklah yang membuatnya bangkit kembali.

“Saya nggak bisa bayangin, deh, kalau saya nggak ketemu musik, nggak tahu saya lagi dimana dan ngapain sekarang, mungkin hidup saya bakalan datar aja. Hidup saya juga bener-bener nggak bisa lepas dari musik. Dari musik saya juga belajar banyak tentang kehidupan dan budaya, dan bahkan saya bisa keliling dunia karena musik,” ungkap Rayhan

Karena begitu besar peran musik bagi seorang Rayhan, maka ia pada bulan Maret nanti akan melanjutkan pendidikan pascasarjananya di jurusan Ethnomusicology di Monash University, Australia. Ia merasa belum cukup dengan pengetahuan etnomusikologinya sekarang.

Perjalanannya bertemu masyarakat adat di berbagai tempat di Indonesia belum dirasa cukup, sehingga ia ingin melihat dari prespektif yang lebih luas. Hingga saat ini Rayhan sudah bermain musik ke Amerika Serikat, Belgia, Perancis, Belanda, Hongkong, Australia, Malaysia, China, dan Singapura.

Harapan Rayhan untuk Musik Indonesia

Harapan Rayhan dan pesannya kepada orang-orang yang bermain musik adalah mereka dapat lebih “kembali ke akar” untuk mendalami makna dari setiap musik yang mereka mainkan. Rayhan ingin orang bisa melihat lebih jauh dan lebih dalam.

“Filosofinya seperti ini, kita sebagai manusia juga sama seperti sebuah pohon, yang pasti memiliki akar, batang, ranting, daun, dan buah. Nah, untuk memiliki batang yang kuat, dan menghasilkan buah yang baik bagi masyarakat sekitar, kita juga harus punya akar yang kuat. Akar di sini adalah identitas kita sebagai orang Indonesia. Saya ingin mengajak orang-orang Indonesia untuk kembali ke akarnya masing-masing untuk memperkokoh budayanya. Impian saya, kita sebagai orang Indonesia bisa tahu jati diri dan identitas kita siapa. Di mana pun kita berada, kita tahu kita siapa, dan kita tidak bingung tentang identitas kita sebagai orang Indonesia,” jelas Rayhan.

Rayhan juga berharap agar orang-orang bisa lebih ‘aware’ terhadap budaya sendiri. Rayhan ingin penelitiannya didunia etnomusikologi ini bisa dilanjutkan oleh generasi selanjutnya. Karena menurutnya budaya Indonesia sangat luas dan akan selalu menarik untuk diselami, dan tidak akan ada habisnya.

Indonesia Di Tahun 2045 Menurut Rayhan

Rayhan optimis, di tahun 2045 nanti Indonesia akan memiliki banyak pemimpin yang sudah matang. Menurutnya para pemimpin yang akan matang di tahun 2045 nanti harus mulai di “gembleng” dari sekarang untuk mengerti identitasnya sebagai seorang Indonesia. Seperti yang ia katakan di atas, ia juga yakin jika seseorang sudah memiliki identitas yang kuat dan mengakar dalam dirinya, harapannya orang itu bisa memimpin Indonesia ke arah yang jauh lebih baik.

Pesan Rayhan Untuk Generasi Muda Indonesia

Pesan Rayhan hanya satu,

“Cobalah banyak hal yang belum pernah kalian coba, dan jangan menerima steriotip begitu saja. Generasi muda Indonesia harus bisa kritis, dan mendalami sesuatu, belajar langsung dari sumbernya.”

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini