Optimisme Para Pelaku Bisnis Indonesia Tertinggi di Asia Pasifik

Optimisme Para Pelaku Bisnis Indonesia Tertinggi di Asia Pasifik
info gambar utama
Perekonomian Indonesia yang dinilai mengalami perlambatan ternyata tidak terlalu mempengaruhi tingkat optimisme pelaku bisnis di Tanah Air. Optimisnya para pengusaha di Indonesia terungkap dari hasil riset yang dilakukan oleh Grant Thornton yang menjelaskan bahwa tingkat optimisme tersebut salah satu yang tertinggi di dunia.

Sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia, Grant Thornton telah melansir laporan "Asia Pacific: Trading and Thriving" yang membandingkan tingkat optimisme pebisnis di Indonesia ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara di Asia Pasifik. Dalam laporan yang mewawancarai 680 para pimpinan bisnis di Asia Pasifik tersebut dijelaskan pula bahwa Indonesia mengalami peningkatan tingkat optimisme (net optimism).

Indonesia dinilai mengalami peningkatan optimisme dalam bisnis hingga mencapai tingkat 100%. Angka ini adalah yang tertinggi bila dibandingkan dengan negara lain seperti Filipina yang berada di peringkat kedua dengan optimisme 84%. Di peringkat ketiga ditempati India dengan tingkat optimisme mencapai 78%.

Dalam laporan ini, beberapa negara maju di Asia Pasifik dan Asia Tenggara dinilai memiliki tingkat optimisme dengan angka yang rendah. Sebut saja Tiongkok yang dinilai memiliki net optimism mencapai 8%, Singapura 6% dan Jepang di angka negatif, -14%. Meski negatif, optimisme Jepang dinilai mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu.

"Tiga faktor pendukung utama yang diyakini pelaku bisnis di Indonesia yaitu peningkatan secara konsisten jumlah kelas menengah, peningkatan kerjasama Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), dan pengembangan infrastruktur lokal," kata Head of Tax Grant Thornton Indonesia, Tommy David seperti dikutip dari ANTARA.

Meski optimisme bisnis di Indonesia tinggi, Grant Thornton menyarankan untuk dilakukan pengembangan beberapa sektor yang mendukung tumbuhnya bisnis. Sektor yang dimaksud adalah bidang riset dan pengembangan, serta bidang teknologi. Sehingga para pelaku usaha diimbau untuk melakukan evaluasi dini agar mampu mengembangkan diri untuk menjaga tumbuhnya bisnis secara berkelanjutan.

Dari survei ini pula, 46 persen optmisme para pelaku bisnis datang dari rasa percaya bahwa One Belt One Road yang dicanangkan oleh Tiongkok untuk program infrastruktur Asia, Timur Tengah, Eropa dan Afrika akan memberikan kesempatan ekonomi baru. Pengembangan visi ini sendiri melibatkan biaya hingga US$ 5 Triliun.

Aspek geopolitik juga dianggap berperan besar dalam menumbuhkan rasa optimis para pelaku bisnis. 50 persen pelaku bisnis yakin bahwa kondisi geopolitik di kawasan Asia Pasifik akan kondusif dan mendukung perdagangan bebas. Hal ini kemudian didukung dengan hasil riset yang menunjukkan bahwa beberapa kemitraan perdagangan antara negara regional seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN yang berjalan sejak 2015 lalu turut mendorong tumbuhnya kesempatan bisnis baru.

Dengan modal optimisme yang tinggi, kira-kira mampukan Indonesia untuk tumbuh pesat di tahun 2018 ini? Bagaimana menurutmu?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini