Papua Barat dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan laut yang sangat beragam. Salah satu wilayah di sana yang terkenal dengan diversitas lautnya adalah daerah Fakfak yang juga merupakan wilayah konservasi. Namun meski daerah konservasi, masyarakat masih perlu untuk diberi pengetahuan tentang bagaimana mengelola wilayah agar tetap lestari dan ramah lingkungan. Pelatihan ini dilakukan oleh Conservation Internasional (CI) Indonesia dan USAID-SEA. 

Berdasarkan rilis yang diterima GNFI (8/2) dijelaskan bahwa pelatihan tersebut dilakukan sejak 6 hinggga 8 Februari hari ini dan melibatkan 35 peserta dari kampung pesisir Distrik Kokas, Arguni dan Mbahamdandara. Pelatihan tersebut melibatkan Dinas Kelautan & Perikanan Papua Barat dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Fakfak. Staf Ahli Bupati Kabupaten Fakfak, Charles Kambu mengatakan bahwa pelatihan ini merupakan kegiatan yang sangat penting karena mempertemukan nelayan yang memiliki pengalaman dengan ilmu perikanan berkelanjutan. 

"Tuhan memberikan kekayaan sumberdaya di perairan Fakfak yang tidak dimiliki daerah lain, semua itu perlu disyukuri dengan cara dijaga bersama," ujar Charles. 

Kabupaten Fakfak merupakan wilayah perairan konservasi yang penting karena Teluk berau dan Teluk Nusalasi van Den Bosch masuk ke dalam kawasan Perairan Konservasi Daerah. Kawasan tersebut merupakan kawasan yang menjadi fokus utama kegiatan konservasi dengan tujuan meningkatkan sumber daya yang terkandung di dalamnya. 

Para peserta pelatihan perikanan berkelanjutan di Kabupaten Fakfak (Foto: dok. Conservation International)
Para peserta pelatihan perikanan berkelanjutan di Kabupaten Fakfak (Foto: dok. Conservation International)

Sementara itu, Nur Ismu Hidayat, Fakfak Program Manager CI Indonesia menjelaskan bawha penerapan pengelolaan perikanan berkelanjutan di kawasan konservasi memang tidak mudah. Oleh karena itu pelatihan ini ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan pihak-pihak terkait dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya perikanan yang ramah lingkungan. 

Komentar menarik disampaikan oleh Ahmad Muri, Kepala Kampung Furir. Ia mengatakan bahwa dulu di masa kecilnya, ia bisa dengan mudah mencari ikan. "Masa lalu kampung Fior, Furir, Darembang dan Goras dulu saya kecil, Bapak dorang pancing itu di muka kampung saja dapat ikan hasil tangkap yang banyak dan berbagai jenis. Datang tahun 2004 saya sudah mencari ikan dengan jangkauan yang jauh dan hasil tangkapnya tidak seperti dulu. Ini mungkin disebabkan oleh penangkapan yang berlebihan menggunakan alat tangkap modern seperti pukat harimau, bom, potasium sehingga merusak ekosistem perairan di sekitar kampung kami," keluhnya. 

Kepala Kampung Baru, Maulud Ahek pun berharap bahwa setiap pihak seharusnya bisa berkolaborasi untuk lingkungan yang sehat demi generasi mendatang. "Kami berharap kolaborasi antara Polair (polisi air), Angkatan Laut dan Dinas Perikanan sejalan denga kearifan masyarakat. Misalnya kerakera bisa dijalakan, serta pendampingan dari pemerintah untuk memberdayakan nelayan lokal dalam kegiatan budidaya perikanan sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini," harapnya.

Pelatihan pengelolaan kawasan konservasi perairan ini sendiri telah dilakukan sejak November hingga Desember 2017, yang telah melibatkan kurang lebih 490 orang di Kabupaten Fakfak. 236 di antaranya merupakan masyarakat adat dan pemerintah kampung dari tiga distrik (Karas, Kokas, dan Arguni). 101 peserta merupakan staff pemerintah daerah dan LSM, serta 50 orang perwakilan komunitas kaum muda dan 103 siswa Sekolah Dasar (SD). Jumlah ini menambah jumlah peserta pelatihan-pelatihan konservasi perairan laut lainnya yang telah mencapai 1.400 orang di Papua Barat sejak tahun 2009.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu