Seorang Menteri dari Indonesia mendapatkan kehormatan untuk meberikan kuliah umum pada para mahasiswa di kampus Harvard Kennedy School, Amerika Serikat. Di kampus yang terletak di Cambridge tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti memberikan kuliah umum terkait dengan perikanan Indonesia dan dunia. 

Sebagaimana diberitakan ANTARA (15/3), Menteri Susi dalam kuliah umum tersebut mengajak para mahasiswa Harvard agar turut melindungi kekayaan laut sehingga sumber daya laut dapat dinikmati hingga generasi-generasi mendatang. Itu sebabnya, menurut Susi dalam mengelola sumber daya laut harus dilakukan dengan cara yang berkelanjutan. 

"Hari ini kita sharing dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan beberapa mahasiswa di Harvard sini, supaya mereka mengetahui tentang kebijakan-kebijakan dari pemerintah Indonesia menuju kepada keberlanjutan pembangunan perikanan Indonesia," ucapnya.

Di hadapan para mahasiswa tersebut, selama dua jam Menteri Susi memaparkan kuliah bertema The State of Fisheries in Indonesia and Beyond. Dalam kuliah itu, ia menjelaskan berbagai upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam mengatasi berbagai permasalahan yaitu pencurian ikan (illegal fishing) dan perbudakan (slavery) hingga kebijakan penenggelaman kapal. 

Menteri Susi juga menjelaskan tentang tiga pilar utama pembangunan kelautan dan perikanan, yaitu kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan. Tiga pilar tersebut merupakan pondasi bagi kebijakan-kebijakan yang diambil oleh KKP selama ini. 

"Hasil penelitian menunjukkan, dalam rentang 2003 hingga 2013 kami kehilangan hampir 50 persen nelayan kami. Mengapa? Karena hampir tidak ada lagi ikan. Saya mengalami sendiri sebelum saya menjadi menteri, saya berasal dari desa kecil di Pantai Selatan Jawa, di wilayah Laut Hindia. Pada tahun 1999 hingga 2000-an awal, nelayan masih bisa menangkap 10 ton, 20 ton ikan kakap merah, udang. Tapi tiba-tiba pada awal 2001 tangkapan mulai sedikit sedikit hingga hampir tak ada sama sekali," sebutnya.

Menurut Menteri Susi, menurunnya jumlah tangkapan nelayan lokal Indonesia tersebut terjadi karena adanya izin bagi kapal asing untuk menangkap ikan di perairan Indonesia sejak tahun 2001. Kebijakan ini dinilai membuat laut Indonesia rawan dengan pencurian ikan. Itu sebabnya, pada masa awal jabatannya, kebijakan penenggelaman kapal mulai diberlakukan. Kebijakan ini dinilai relatif efektif mengurangi praktek pencurian ikan. 

"Kami berharap dengan menghentikan illegal fishing, masyarakat akan lebih tertarik untuk kembali melaut. Di waktu yang bersamaan kami juga melihat peningkatan nilai tukar nelayan dari 104 menjadi 110," tuturnya.

Kebijakan penenggelaman kapal juga rupanya tidak hanya menyelesaikan masalah pencurian ikan, tetapi juga berhasil mengungkap kasus penyelundupan dan perbudakan manusia. 

Susi pun berharap kebijakan-kebijakan tersebut akan mampu menjaga sumber daya laut dengan lebih berkelanjutan. Sehingga kebijakan-kebijakan yang baik harus terus diterapkan dalam jangka panjang. 

Kuliah umum yang disampaikan Menteri Susi Pudjiastuti ini merupakan yang kedua kalinya setelah pada tahun 2016 yang lalu kuliah umum juga dilakukan di kampus yang sama. Menteri Susi Pudjiastuti sendiri pada tahun 2017 dinilai sebagai salah satu perempuan berpengaruh di dunia dalam daftar BBC 100 Women. Beliau adalah salah satu bukti bahwa bangsa Indonesia mampu untuk berperan dalam skala dunia.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu