Di era modern saat ini, mungkin kita tak bisa membayangkan ada makanan, atau khususnya buah-buahan yang harga 1/2 kg -nya bisa untuk membeli sapi, atau segenggam emas. Saat ini, buah termahal di dunia adalah Semangka Densuke dari Jepang yang satu buahnya bisa seharga Rp. 1,5 juta rupiah. Sangat mahal, tapi belum cukup untuk membeli sapi, atau emas satu genggam. Selain itu, tak banyak orang yang, meski mampu, takkan mau membeli semangka ini, karena banyak buah substitusi yang bisa dibeli.

Bubuk biji Pala | foodai.com
Bubuk biji Pala | foodai.com

Di masa lalu, ada buah yang meskipun teramat sangat mahal, namun tetap saja diburu dan dibeli orang. Itulah yang terjadi pada buah Pala dari kepulauan Banda, Indonesia. Itu terjadi kira-kira 4-5 abad yang lalu. Dalam sebuah tayangan BBC populer yang dibawakan oleh Kate Humble, di masa itu, sekarung buah pala dapat membeli sebuah rumah di London, Inggris. Dalam daftar harga pasar di Jerman, ditulis bahwa 1 pon (kira-kira 1/2 kg buah pala) seharga dengan " Tujuh Sapi Jantan Dewasa yang Gemuk". Inilah komoditas yang lebih berharga dibanding emas.

Pertanyaan yang selalu menggelitik adalah, mengapa buah pala begitu mahal?

Ada berbagai jawaban yang bisa jadi semuanya benar.

Penjelasan ekonomisnya sederhana.

Di masa itu, permintaan akan buah pala (dan rempah-rempah secara umum) memang tinggi. Namun hal ini tidak dibarengi dengan ketersediaan suplai yang memadai. Selain itu juga dikarenakan biaya distribusinya yang tidak murah, mulai dari penghasil pala yang jauh di belahan benua lain, yang di bawa oleh para pedagang Arab dan China, dan dijual melalui pedagang-pedagang Italia di Venesia, maupun melalui jalan sutera, memerlukan usaha dan biaya yang besar.

Lukisan tahun 1707, para pedagang Arab di kepulauan Maluku | princenton.edu
Lukisan tahun 1707, para pedagang Arab di kepulauan Maluku | princenton.edu

Begitu mahal dan menguntungkannya memperdagangkan buah Pala, hingga para penjelajah dunia dibiayai oleh kerajaan-kerajaan di Eropa untuk mencari sendiri "the fabled lands", atau "negeri-negeri mirip dongeng" tempat rempah-rempah didatangkan. Selain untuk memenuhi kebutuhan sendiri, pencarian rempah-rempah ini juga untuk mendatangkan keuntungan finansial yang tinggi. Expedisi pencarian asal muasal pala dan rempah-rempah lain ini kemudian memicu 'The Age of Exploration" atau 'era penjelajahan dunia' melalui laut yang memunculkan Columbus, Vasco de Gama, Magellan, dan lain sebagainya. (Baca : Jalan Panjang dan Sejarah Buah Pala dari Banda).

Tapi penjelasan ekonomis tersebut masih belum memuaskan keingitahuan kita, mengapa buah Pala bisa sangat mahal.

Di masa awal, para pedagang dari Arab menjual pala terutama ke Eropa sebagai bahan wewangian, aphrodisiac, dan obat-obatan. Selain itu, pala dianggap mampu menghindarkan dari kematian.

Di pertengahan abad ke-14, Eropa diserang wabah penyakit misterius yang sangat mematikan, yang dalam waktu singkat membunuh sekitar 60% penduduknya (para pakar sejarah menyebut angka 75 juta hingga 200 juta orang). Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai "Black Death" atau Maut Hitam. Istilah Maut Hitam sendiri diyakini berasal dari gejala khas dari penyakit ini, yang disebut acral necrosis, di mana kulit penderita menjadi menghitam karena pendarahan subdermal. Sebagian besar ilmuwan meyakini bahwa Maut Hitam adalah suatu serangan wabah bubonik yang disebabkan bakteri Yersinia pestis dan disebarkan oleh kutu Xenopsylla cheopis yang biasa ada di tikus rumahan.

Kematian massal di Eropa abad 14 | teensonemagazine.co.za
Kematian massal di Eropa abad 14 | teensonemagazine.co.za

Di masa Maut Hitam ini, banyak orang meyakini bahwa buah pala dapat menyelamatkan mereka dari wabah mematikan ini. Bisa jadi benar, karena kutu yang membawa baktera Yersinia pestis ini tidak menyukai aroma buah (atau bubuk) pala ini, dan membuat mereka terhindar dari gigitannya.

Kutu pembaca bencana | wikimedia
Kutu pembaca bencana | wikimedia

Banyak orang yang mengalungkan kantung berisi bubuk pala di lehernya karena hal ini. Kepercayaan inilah yang membuat pala diburu banyak orang, dan menjadikannya sangat mahal, bahkan ketika dijual dengan markup 6000% pun, masih habis dibeli.

Selain itu, ada faktor politik yang ikut berperan besar dalam membuat begitu mahalnya harga pala dan rempah-rempah lain.

Perhatikan Posisi Alexandria, Venesia, dan Istanbul
Perhatikan Posisi Alexandria, Venesia, dan Istanbul

Pada tahun 641 M, Alexandria, kota pelabuhan dan pusat perdagangan di Laut Mediterania diambil alih oleh tentara Islam dari Tentara Romawi. Jalur logistik yang menghubungkan Asia dengan Eropa yang telah terjalin lama pun berhenti. Akhirnya suplai rempah-rempah, termasuk buah pala ke Eropa menjadi makin sedikit. Tak hanya langka, rempah-rempah menjadi barang mewah di Eropa, yang hanya bisa dibeli oleh kalangan berpunya.

Jalur perdagangan rempah

Namun bagaimana rempah-rempah masih bisa mencapai Eropa? Melalui Venesia, di sisi lain Laut Meditenia. Pedagang-pedagang Venesia berhasil mendapatkan kepercayaan dan kesepakatan dari para pedagang Arab sebagai satu-satunya distributor rempah-rempah ke Eropa. Bahkan di era Perang Salib, perdagangan antar keduanya tetap terjalin baik.

Namun segalanya terhenti saat Constantinople jatuh ke dalam kekuasaan Turki Usmani (atau Ottoman). Kekaisaran Ottoman segera menutup jalur perdagangan terakhir yang menghubungkan dua benua, yang melalui Constantinople. Harga rempah yang sudah begitu tinggi di Eropa, menjadi makin tinggi dan tak makin tak terjangkau, bahkan oleh kalangan elit yang berpunya.

Inilah yang memicu Era Penjelajahan Dunia, hingga Portugis, Inggris, Spanyol dan Belanda, menjajah Asia (termasuk nusantara) berabad lamanya.

Sumber:

Le Couteur, Penny, Jay Burreson. "Napoleon's Buttons: How 17 Molecules Changed History." Penguin Group (USA) Incorporated, 2004

Weir, Stephen. "History's Worst Decisions: And the People who Made Them." Murdoch Books, 2005. (April 9, 2009) http://books.google.com/books?id=QYAc7nHuT5UC

Thring, O. (2010, September 14). Consider nutmeg. Retrieved March 22, 2018, from https://www.theguardian.com/lifeandstyle/wordofmouth/2010/sep/14/consider-nutmeg

Curtis, W. (2014, February 19). My Nutmeg Bender. Retrieved March 22, 2018, from https://www.theatlantic.com/magazine/archive/2012/01/my-nutmeg-bender/30

(n.d.). Retrieved March 22, 2018, from https://www.economics.utoronto.ca/munro5/SPICES1.htm

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu