Menanti Srikandi Indonesia Mengibarkan Merah Putih di Puncak Dunia

Menanti Srikandi Indonesia Mengibarkan Merah Putih di Puncak Dunia

Fransiska Dimitri Inkiriwang (24) dan Mathilda Dwi Lestari (24) saat memberikan sambutan di Sekretariat Negara RI, Jakpus (29/3/2018) © GNFI

Pada rentang waktu 2009-2011, Indonesia telah memiliki beberapa orang yang berhasil menyandang gelar seven summitters, diantaranya; Sofyan Arief Fesa, Xaverius Frans, Broery Andrew Sihombing, dan Janatan Ginting yang mewakili Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (Issemu).

Kemudian pada 2010-2012, disusul Tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Wanadri yang terdiri dari; Iwan Irawan, Martin Rimbawan, Fadjri Al Luthfi, dan Nurhuda. Meski begitu, dari kedelapan nama tersebut, tak satupun dari mereka adalah perempuan.

***

Malam ini, Kamis (29/3/2018) Fransiska Dimitri Inkiriwang (24) dan Mathilda Dwi Lestari (24), dua srikandi Indonesia yang tergabung dalam Tim Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (Wissemu). Akan berangkat menuju Gunung Everest, Nepal, untuk menyelesaikan misi pendakian tujuh puncak dunia yang dimulai sejak 2014 lalu.

Pendakian Gunung Everest merupakan pendakian terakhir mereka, sebelum mencatatkan namanya menjadi wanita Indonesia pertama yang berhasil mencapai tujuh puncak dunia. Sekaligus, menggenapi daftar 33 Seven Summiters wanita di dunia menjadi 35.

“Bangga, senang, campur haru kita bisa sampai seperti sekarang ini,” kata Deedee sapaan akrab Fransiska Dimitri, saat acara pelepasan Wissemu di Aula Gedung III Sekretariat Negara RI, Kamis (29/3/2018).

Pendakian kali ini dijadwalkan selama 57 hari dengan melewati jalur utara Everest. Tentunya dalam kurun waktu tersebut, berada di ketinggian lebih dari 7000 mdpl bukanlah waktu dan tempat untuk main-main. Minimnya oksigen, suhu dingin yang bisa mencapai -60 derajat celsius, serta cuaca yang tidak menentu, dalam keadaan seperti itu, sedikit saja kesalahan bisa berakibat fatal.

”Kami sudah berlatih untuk semuanya; 30% persiapan, 30% mental, 30% fisik, dan 10% doa,”kata Deedee.

Selain persiapan mental dan fisik, Sebastian Prasetyo, General Manager (GM) Wissemu menambahkan, bahwa mereka juga diberikan hynotherapy selama masa persiapan dan konsultasi cara penyelesaian masalah, pengambilan keputusan serta manajemen konflik.

“Untuk mengatasi konflik kita punya konsultan dan cara, seperti hypnotherapy. Salah satu konsultan kita adalah ayah dari salah satu penyanyi terkenal, Isyana Saraswati. Kita banyak konsultasi untuk penyelesaian masalah dan cara pengambilan keputusan,” tutur Sebastian.

Ucapan Terima Kasih

Acara pelepasan Wissemu yang bertajuk “#dengaryangmuda: Perempuan Indonesia di Puncak Dunia” itu dihadiri oleh Diaz Hendropriyono, Staff Khusus Presiden dan Mangadar Situmorang, Rektor Universitas Katolik Parahiyangan (Unpar).

Diaz menyampaikan rasa bangganya untuk Deedee dan Hilda. “Kami hanya memfasilitasi, selebihnya mereka berdua yang berjuang. Jadi kami sangat bangga dan mereka sangat pantas mendapatkan pencapaian ini,” katanya saat mengisi sambutan.

Diaz Hendropriono, Staff Kepresidenan saat memberi sambutan di pelepasan Wissemu menuju Gunung Everest
Diaz Hendropriono, Staff Kepresidenan saat memberi sambutan di pelepasan Wissemu menuju Gunung Everest

Diaz menambahkan, presiden juga sangat mendukung kegiatan ini. Sebab, keberhasilan yang Deedee dan Hilda raih bukan hanya mengharumkan nama pribadinya saja, tapi juga seluruh bangsa Indonesia.

“Sedianya, pelepasan ini langsung dihadiri oleh presiden, namun beliau berhalangan hadir karena ada kunjungan kerja ke daerah, tapi beliau sangat mendukung dan mendoakan Wissemu semoga berhasil dan meraih cita-citanya,” kata Diaz.

Sementara itu, Rektor Unpar, Mangadar Situmorang berterima kasih kepada presiden yang melalui staffnya telah memfasilitasi Wissemu. “Terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia, Pak Diaz, dan pendampingan dari seluruh senior Mahitala untuk kegiatan ini. Semoga pendakian ketujuh ini berhasil baik sehingga dapat mengharumkan nama bangsa dan negara,”ujarnya.

Deedee dan Hilda juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung mereka. Mereka berharap, apa yang mereka lakukan bisa menjadi inspirasi bagi yang lain dan memohon doa untuk keberhasilan mereka dalam pendakian kali ini.

“Kami yakin setiap teman-teman yang hadir sekarang sudah menyelipkan nama kami di doa-doa kalian. Kami sangat berterima kasih atas semua dukungannya dan semoga apa yang kami lakukan ini bisa menginspirasi bagi yang lain,” kata Hilda.


Sumber: GNFI

Pilih BanggaBangga63%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli13%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi13%
Pilih TerpukauTerpukau13%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Ilmuwan Bioteknologi Indonesia Asal Medan Raih Penghargaan King Faisal Sebelummnya

Ilmuwan Bioteknologi Indonesia Asal Medan Raih Penghargaan King Faisal

Mau Liburan Tahun Depan ? Yuk, Lihat Tanggal Merah di Tahun 2020 Selanjutnya

Mau Liburan Tahun Depan ? Yuk, Lihat Tanggal Merah di Tahun 2020

Pandu Hidayat
@armandu

Pandu Hidayat

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.