Dari Kisah Kelapa, Elon Musk, Hingga Menyiapkan Masa Depan Indonesia

Dari Kisah Kelapa, Elon Musk, Hingga Menyiapkan Masa Depan Indonesia
info gambar utama

Entah mengapa, tiba-tiba minggu ini saya teringat film dahsyat yang tayang kira-kira 3 tahun lalu. Judulnya, "Interstellar". Saya yakin, banyak dari pembaca yang pernah menontonnya, dan mengenal jalan ceritanya. Film karya Christopher Nolan ini menceritakan tentang bagaimana manusia mencari jalan untuk membuka pintu-pintu masa depan, untuk generasi mendatang. Tentu dengan begitu banyak pengorbanan besar.

Saya yakin pembaca memahami maksud saya tentang inti dari film tersebut.

Sebelum saya bercerita lebih lanjut, saya ingin bercerita tentang mBah saya yang sudah lama meninggal.

Saya yakin tak ada pembaca yang mengenalnya.

Beliau bukan orang yang terkenal, beliau sudah wafat sejak bertahun-tahun lalu waktu saya masih SMP. Beliau adalah kakek saya, bapak dari bapak saya. Bapak saya sangat sering bercerita tentang kakek. Bagaimana sejak kecil hingga wafat, mbah saya ini (para tetangga dulu sering memanggil beliau dengan mBah Amat) tidak pernah tinggal di luar kampungnya. Bahkan tak pernah pergi jauh dari kampungnya. Bahkan ketika invasi Belanda dan Jepang makin bertambah menjadi-jadi, beliau lebih memilih menjaga pertahanan di pintu masuk kampung kami di Wonosalam, sebuah dusun pertanian yang kecil di lereng Merapi...tak begitu jauh dari gua-gua pertahanan Jepang di sekitar Kaliurang, Yogyakarta. Meski terpencil, kampung ini tetap merasakan aroma perang, dan beberapa kali tentara Belanda (maupun Jepang), masuk.

Namun tulisan ini takkan bercerita tentang kisah kakek saya dalam mengangkat senjata melawan Belanda atau Jepang.

Bukan.

Kisah ini jauh lebih sederhana.

Ada sekelumit dialog singkat saya dengan beliau. Waktu itu saya masih kecil, belum sekolah. Suatu pagi beliau sedang menanam puluhan bibit pohon kelapa di halaman belakang rumah beliau yang sangat luas.

Saya ingat, kami berdialog seperti ini (dalam bahasa Jawa): "mBah, ini kira-kira minggu depan sudah tinggi dan berbuah ya, mBah?"

(Sambil tersenyum) "Ya tidak. Pohon ini perlu setidaknya 10 tahun lagi sebelum tumbuh besar dan berbuah"

"Lha nanti 10 tahun lagi, mbah masih kuat naik pohon dan ambil buahnya?" tanya saya lagi.

Sekali lagi, beliau tersenyum. "Ya nanti kamu yang memanjat pohon dan ambil buahnya. Jangan lupa, kamu nanti juga harus menanam". Saya tidak habis pikir waktu itu, beliau jelas sudah sepuh, dan mungkin tak akan sempat menikmati hasilnya menanam kelapa. Setidaknya..tak kuat lagi memanjat pohon kelapa untuk memetik buahnya.

Saya bertanya kembali.. "Mbah, kenapa menanam kelapa kalau mbah gak akan bisa menikmati hasilnya?" Jawabannya, tak saya fahami waktu itu. "Ya inilah makna hidup yang sebenarnya. Simbah ini hidup di dunia, untuk membuatkan jalan buat kami (generasi saya) dan mempersiapkan kamu menghadapi hidup di masa mu nanti"

------

Sekitar 3 tahun lalu, dunia gegap gempita menyambut pengumuman NASA yang menyatakan bahwa mereka menemukan air di permukaan planet Mars, yang kemudian memunculkan keyakinan bahwa Mars, settidaknya pernah menjadi planet yang dihuni oleh organisme hidup, di masa lalu.

Seperti dalam film Interstellar, di mana manusia berusaha mencari ruang hidup baru di luar planet bumi, NASA pun merencanakan hal yang sama. NASA telah mengungkapkan misi mereka dengan rinci untuk mendaratkan manusia ke Mars dalam beberapa dekade mendatang, paling cepat tahun 2050. NASA menjelaskan tentang teknologi dan infrastruktur yang akan dibutuhkan untuk membuat misi ke Mars menjadi nyata.

NASA memastikan, bahwa ada air di planet Mars | nasa.gov
info gambar

Menariknya, rencana NASA ini menunjukkan bahwa tujuan utamanya adalah untuk mengirim manusia untuk tinggal di Planet Mars, tidak hanya pergi lalu kembali. "Seperti Program Apollo, kami memulai perjalanan ini untuk semua umat manusia. Namun tidak seperti Apollo, kita akan ke Mars untuk menetap di sana secara permanen." Kata NASA.

Tahun 2050, memang masih lama. Orang-orang yang sekarang bekerja di NASA pun mungkin takkan lagi ada di NASA beberapa dekade lagi. Mereka, membuatkan jalan bagi siapapun generasi mendatang..untuk mengeksplorasi kemungkinan mencari tempat hidup baru di luar bumi, meskipun mereka mungkin takkan bisa menikmatinya. Pun, misi-misi luar angkasa AS (lewat NASA) juga dilapangkan jalannya...sejak berpuluh tahun lalu di era JF Kennedy. Ingat pidatonya yang luar biasa waktu mencanangkan AS harus pergi ke bulan menjelang akhir dekade 60-an.

Kennedy berpidato tentang visi AS menjelajahi angkasa raya | history.com
info gambar


"We choose to go to the moon. We choose to go to the moon in this decade and do the other things, not because they are easy, but because they are hard, because that goal will serve to organize and measure the best of our energies and skills, because that challenge is one that we are willing to accept, one we are unwilling to postpone, and one which we intend to win, and the others, too. It is for these reasons that I regard the decision last year to shift our efforts in space from low to high gear as among the most important decisions that will be made during my incumbency in the office of the Presidency."

----

Sejak 3 tahun terakhir, nama Elon Musk menjadi salah satu ikon masa depan manusia. Banyak yang menjuluki dia "The man from the future". Salah satu karya besarnya adalah SpaceX, dengan misi "di luar nalar", yakni menciptakan koloni manusia di planet Mars, dan menjadikan umat manusia sebagai 'interplanetary species'. Musk tentu sadar, teknologi manusia saat ini belum akan bisa membuat manusia berkelana menjelajahi planet-planet dengan mudah, pun menjadikan Mars sebagai rumah kedua bagi manusia. Bisa jadi, umat manusia akan mencapai tahap ini, beratus tahun ke depan. Saat kita, dan Elon Musk, sudah tak ada lagi di dunia, dan melihat manusia berlalu-lalang di luar angkasa.

----

Waktu pertama kali ke Malaysia pada awal-awal tahun 2000-an, pesawat saya berputar 2 x untuk menunggu giliran landing di KLIA. Dari situ, dari jendela pesawat saya melihat ke bawah, terdapat ruas jalan yang lebar, bagus, dan....kosong sama sekali. Dalam 2 x putaran pesawat, saya tak melihat satupun mobil yang melewati jalan tersebut. Saya sempatkan bertanya kepada salah satu kawan saya yang kebetulan bekerja di negara tersebut"mengapa jalan tersebut begitu lebar, namun begitu kosong? Untuk apa dibangun jika tak dipakai?"

Jawabnya singkat "15-20 tahun lagi pasti sudah ramai".

---

Benang merah dari semua mBah Karno Dimedjo, NASA, Elon Musk, dan jalan lebar di Malaysia ada dua. Mimpi dan visi akan masa depan yang jelas akan berbeda dengan sekarang. Mimpi bahwa masa depan harus lebih baik, atau setidaknya tidak lebih buruk dari sekarang. Dan visi untuk mewujudkannya.

Molding untuk membuat roket SpaceX mendatang (foto Maret 2018) dari IG @elonmusk
info gambar

Setiap hari di Surabaya, saya melihat anak-anak kecil berbondong-bondong menuju sekolah. Saat ini, mereka mungkin tak terpikir...apa jadinya Indonesia 20 tahun dari sekarang, saat mereka dewasa nanti. Atau 50 tahun dari sekarang, saat anak anak mereka dewasa.

Memang..belum saatnya mereka berpikir sejauh itu. Itu lah tugas kita..menyiapkan jalan untuk mereka. Melapangkan jalan setapak Indonesua yang mungkin kadang masih terjal..agar di masa depan, jalan-jalan generasi di bawah kita...lebih halus, lebih mudah dilewati bagi generasi mendatang

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini