Geopolitik yang Memanas, Kayanya Aset Diplomasi Kita, Hingga Seperti Apa Indonesia 2045

Geopolitik yang Memanas, Kayanya Aset Diplomasi Kita, Hingga Seperti Apa Indonesia 2045

Menlu Retno Marsudi ©GNFI

Ratusan tahun berada di bawah jajahan bangsa lain, ditindas oleh kerakusan kolonialisme, merintis perjuangan, dengan susah payah menggalang dukungan internasional, hingga secara heroik merebut kemerdekaan secara penuh, ditambah beberapa kali mengalami konflik pasca kemerdekaan yang menyebabkan antara anak bangsa saling serang dan bunuh, negara Indonesia punya alasan sangat kuat mengapa penjajahan di atas dunia wajib dihapuskan. Demikian pula perdamaian yang harus diwujudkan di setiap jengkal bumi.

Sejak masa awal republik berdiri hingga kini, semangat inilah yang memandu Indonesia dalam mengarungi dinamika diplomasi internasional, menjalin hubungan dengan bangsa-bangsa lain dengan perasaan setara, serta terus berupaya mewujudkan dunia sebagai tempat hidup yang aman dan layak bagi seluruh bangsa.

Inilah yang menjadi landasan dari strategi besar politik luar negeri RI, dan tak pernah berubah hingga kini: bebas dan aktif. Posisi ini terus ditunjukkan pemerintah Indonesia dari zaman ke zaman dalam praktik diplomasi internasional di tengah geopolotik dunia yang kadang panas, kadang dingin.

Saat ini, misalnya, Indonesia berusaha memperkokoh kontribusinya melalui diplomasi kemanusiaan dan perdamaian, dengan membantu perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina, membantu pengungsi Myanmar yang ada di Bangladesh, hingga secara aktif turun tangan untuk mewujudkan kembali perdamaian di bumi Afghanistan.

“Bicara isu politik luar negeri itu sangat banyak. Namun pada prinsipnya Indonesia selalu berusaha untuk memberikan kontribusi. Dan dasar pokoknya adalah sebagaimana mandat konstitusi kita, yaitu Indonesia yang harus berkontribusi pada perdamaian dunia,” tutur Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri RI ketika berbincang dengan GNFI beberapa waktu lalu.

Bukan hanya dalam konflik fisik. Namun termasuk, misalnya, ketika berada di tengah gejolak isu perang dagang yang mengancam dunia saat ini. Posisi Indonesia ditunjukkan dengan jelas, “Indonesia meyakini, perang dagang tidak akan menguntungkan siapapun. Perdagangan bukan zero sum, dalam arti kalau yang satu beruntung maka satunya pasti merugi. Perdagangan pasti memberikan keuntungan bagi dua pihak. Presiden pun telah menggariskan, ekonomi kita harus kompetitif, punya daya saing, sehingga kita dapat memeroleh keuntungan dalam sistem ekonomi yang terbuka,” tegas Retno.

Aset Diplomasi Indonesia

Sebagai sebuah negara, lanjut Retno, kita memiliki sumber kekuatan diplomasi yang sangat banyak. Sebut saja, Indonesia adalah negara dengan berpenduduk muslim terbesar di dunia, secara jumlah penduduk juga terbanyak ke-4 di dunia, sekaligus menjadi negara demokrasi terbesar ke-3.

Selain itu pertumbuhan ekonomi RI juga cukup stabil, lebih tinggi di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia. Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi global tahun 2017 adalah 3,7%, sementara RI mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,07%.

“Jadi banyak sekali aset diplomasi yang dapat kita gunakan untuk memajukan Indonesia di dunia internasional, yang bukan hanya untuk memajukan kepentingan nasional, tapi pada saat yang sama mampu memberikan kontribusi pada dunia. Di situ kita akan dihormati, ketika sebagai ‘anak bangsa internasional’ mampu memberi kontribusi,” papar menteri luar negeri perempuan pertama Republik Indonesia sekaligus penerima penghargaan ‘Agen Perubahan’ dari United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women) dan the Global Partnership Forum (GPF) pada Sidang Umum PBB di New York, AS pada 20 September 2017 ini.

Belum lagi people to people contact, yang juga terus dikembangkan. Karena bagaimana pun yang akan menjadi pelaku politik luar negeri, pelaku perdagangan, pelaku pariwisata adalah orang.

“Kalau kita membangun people to people contact secara konsisten dengan menggunakan budaya, kesenian, dan cara-cara lainnya yang bisa memperkokoh hubungan antar warga dunia, pada akhirnya kekuatan kerja sama manusia inilah yang akan memudahkan dan memperkuat hubungan kerja sama kita dengan negara lain,” urai Retno.

Sehingga, lebih jauh Retno menekankan, kalau semua potensi tersebut terus diperkuat, dan sebagai bangsa terus bersatu, maka kita akan dapat melihat Indonesia yang besar, yang jaya. Bukan hanya Indonesia yang bermanfaat bagi seluruh rakyatnya, tapi Indonesia yang dapat memberikan kontribusi yang sangat besar pada stabilitas, perdamaian, dan juga kesejahteraan dunia.

“Untuk itu semua kita harus bekerja keras mempertahankan persatuan agar Indonesia jaya benar-benar bisa kita lihat pada saat nanti memeringati 100 tahun Indonesia merdeka,” tutur ibu dua orang putra ini bersemangat.

Ingin tahu wawancara selengkapnya dan mengintip bagaimana Menlu bekerja di kantornya? Simak wawancara selengkapnya dengan istri dari Agus Marsudi yang telah 32 tahun mengabdi sebagai diplomat ini, dalam video di program terbaru GNFI "Tokoh Bicara" berikut:

Pilih BanggaBangga71%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli3%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi23%
Pilih TerpukauTerpukau3%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Sambutan Hangat untuk Menpora RI di Baku Sebelummnya

Sambutan Hangat untuk Menpora RI di Baku

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.