Perang Pandan, Tradisi Kuno yang Unik di Bali Timur

Perang Pandan, Tradisi Kuno yang Unik di Bali Timur
info gambar utama

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Menurut data yang didapat, Bali masih menjadi destinasi favorit unutuk para wisatawan domestik maupun mancanegara, nih. Ditambah dengan banyaknya maskapai murah atau low cost carrier (LCC) yang siap mengantar kamu ke Bali tanpa harus menguras kantong, makin membuat Bali menjadi destinasi favorit! Contoh maskapainya seperti Citilink, mereka menjual harga tiket pesawat Citilink yang murah meriah dengan kualitas yag jempolan! Nah, tradisi Bali juga menjadi salah satu alasan untuk menarik wisatawan, lho. Ini salah satunya!

Sejarah Perang Pandan

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Budaya Bali memang selalu jadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan. Tradisi perang pandan misalnya, ada yang udah tau perang pandan itu apa? Perang dengan daun pandan? Hampir benar! Perang pandan merupakan tradisi kuno dan hanya dimiliki oleh desa Bali kuno di Desa Tenganan, Karangasem, Bali. Masyarakat Bali biasa menyebut tradisi ini dengan sebutan mekare-kare dan megeret pandan. Tradisi ini adala ritual Sasih Sembah, yaitu ritual terbesar yang dilakukan untuk menghormati Dewa Indra atau Dewa Perang.

Menurut Oom Wiki (pedia), Masyarakat Desa Tenganan memiliki kepercayaan yang berbeda dari umumnya masyarakat Bali. Masyarakat di Desa Tenganan menganut agama Hindu Indra. Pemeluk agama Hindu Indra tidak membedakan umatnya dalam kasta. Mereka juga menempatkan Dewa Indra sebagai Dewa tertinggi. Masyarakat Tenganan percaya bahwa desa yang mereka tempati merupakan hadian dari Dewa Indra.

Jadi, pada zaman dahulu kala, daerah Tenganan dipimpin oleh seorang raja yang super kejam, namanya Maya Denawa. Maya Denawa menganggap dirinya sebagai seorang Dewa dan melarang masyarakat Tenganan untuk melakukan ritual keagamaan. Hal tersebut membuat murka Dewa Indra, hingga pada suatu saat Dewa Indra datang untuk melawan Maya Denawa. Peperangan itupun dimenangkan oleh Dewa Indra dan diperingati masyarakat desa dengan upacara perang pandan. Begitu sodara-sodara.. Wah, pengetahuan baru, nih. Pesan tiket pesawat Citilink ke Bali, aaahh~~

Tata Cara Perang Pandan

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Pastikan kamu memasukkan perang pandan dan desa Tenganan di rencana perjalananmu, ya. Oh, iya! Beli tiket pesawat Citilink juga, pokoknya jangan sampai lupa! Desa Tenganan terdiri dari dua dusun, yaitu Dauh Tukad (barat sungai) dan Pegringsingan. Dusun Pegringsingan ini terkenal dengan warisan kain tenun Geringsing yang biasa digunakan dalam tradisi perang pandan ini. Peserta perang pandan adalah pemuda laki-laki desa Tenganan yang sudah mulai beranjak dewasa, tradisi ini juga bisa diartikan sebagi simbol seoprang anak sudah beranjak dewasa. Akhir baligh gitu, kali ya...

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Perang pandan dilakukan secara berpasangan, peserta secara bergiliran bertarung satu sama lainnya, menari-nari dan saling menjatuhkan lawan dengan cara menyabetkan cambuk yang terbuat dari pandan berduri. Meskipun berdarah, mereka tetap terlihat senang karena hal tersebut dianggap sebagai slaah satu ungkapan syukur mereka kepada Dewa Indra. Luka dari sambetan cambuk tersebut hanya dioplesi ramuan tradisional yang terbuat dari campuran herbal, kunyit dan cuka, dan yang secara ajaib membantu mengeringkan luka dalam hitungan menit. Gokil !!! setelah perang selesai, mereka melakukan sembahyang di Pura dan makan bersama sebagai wujud rasa kebersamaan.

Seru banget, ya? Makin banyak pengetahuan tentang Bali, makin cinta sama Bali. Ayo, siapkan tiket pesawat Citilink mu dan langsung meluncur ke Bali!

Sumber: blog misteraladin.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini