Berisiknya Warga Net Indonesia

Berisiknya Warga Net Indonesia

© pixabay

Indonesia kini telah masuk dalam jajaran teratas negara paling berisik di dunia. Pencapaian ini didasarkan pada jumlah pengguna media sosial yang sangat tinggi. Menurut survai yang dilakukan We Are Social dan Hootsuite, mencatat bahwa sekitar 140 juta masyarakat Indonesia aktif di media sosial. Media Sosial yang digunakan mulai dari Facebook, Twitter, Insragram dan lainnya.

Pencapaian ini semakin didukung dengan terpilihnya Jakarta menjadi tuan rumah Social Media Week. Social Media Week (SMW) Jakarta digelar pada tahun 2015 dan 2017. SMW sendiri merupakan konferensi internasional yang membahas peran media sosial dan teknologi mempengaruhi aspek – aspek di dunia nyata. Indonesia berada di urutan ke 12 penggunan Twitter di dunia. Berada di urutan ketiga pengguna Facebook terbanyak. Berada di posisi ke empat pengguna Instagram terbanyak. Bahkan Jakarta berada di posisi kedua sebagai kota dengan pengguna Facebook terbanyak.

Dengan data – data ini bisa sangat dibayangkan ramaianya media sosial di Indonesia. Negara dengan presiden pertama Soekarno ini berada di urutan ketiga sebagai negara yang paling lama dalam menggunakan media sosial. Masyarakat Indonesia mayoritas mengakses media sosial selam 3 jam 39 menit. Data tersebut didasarkan pada survei yang dilakukan terhadap pengguna internet dengan rentang usia 16 – 64 tahun.

Namun data tersebut tidak sepenuhnya benar karena banyak dari golongan masyarakat yang menggunakan media sosial tidak selama itu. Namun ada juga golongan yang mengabdikan dirinya menjadi umat dari media sosial.

Kita sadari bahwa masyarakat maya telah berkembang dengan pesat. Warga net dengan bebas dapat menyuarakan pendapatnya. Di Indonesia sendiri isu politik dan isu SARA adalah hal yang ramai diperbincangkan. Mulai dari Hijab Nikita Mirzani, hingga pro – kontra majunya sang raja dangdut menjadi bakal calon presiden tak luput dari ulasan netizen.

Dengan kebebasan seperti sekarang, ujaran – ujaran dari warga net sulit untuk dibendung. Karena tidak ada filter yang secara real time dapat menyaring komentar netizen. Rendahnya literasi media menjadi salah satu penyebab warga net yang bersuara sembarangan.

Kondisi seperti ini sering dimanfaatkan oleh pihal yang tidak bertanggung jawab. Mereka berupaya memecah belah suara netizen menjadi beberapa kubu. Tentunya hal ini memiliki tujuan tersendiri. Kebanyakan mereka – mereka ini memiliki kepentingan – kepentingan yang bermuatan politik.

Pengguna seperti itu sering disebut sebagai buzzer. Mereka bertugas membuat akun dengan konten yang berusaha menjatuhkan pihak lawan. Pembingkaian yang dibuat akun buzzer seperti sangat ekstrim. Tak jarang umpatan, makian, dan kata – kata negatif dilontarkan untuk mendapatkan perhatian dari pengguna media sosial. Berita hoax pun seperti teman bagi mereka. Tak jarang, perang antar buzzer tak terelakkan. Buzzer- buzzer ini saling melempar serangan untuk menjatuhkan lawan. Tentunya bukan serangan secara fisik, tetapi dengan memberikan argumen dan konten yang relevan dengan pendapatnya.

Pendukungnya tak kalah semangat. Bak pejuang yang menginginkan kemerdekaan, mereka dengan suka rela beradu argumen dengan pendukung pihak lawan. Adu argumen bisa terjadi dengan sangat cepat dan dengan massa yang cukup banyak. Tak jarang argumen yang dikeluarkan tidak menyinggung sama sekali topik yang dibahas. Argumen yang dikeluarkan seperti menggambarkan latar belakang si pengguna media sosial.

Sangat disayangkan sekali. Negara dengan beragam suku, ras dan golongan ini terpecah hanya karena cuitan dan komentar di dunia maya. Mereka yang terus berseteru seakan lupa bahwa negara ini dibangun dari keberagaman.

Alangkah lebih bijaknya jika media sosial yang ada dimanfaatkan dengan sebaik – baiknya. Bukankah dengan pengguna yang sangat banyak ini akan lebih mudah mengenalkan Indonesia ke kancah dunia. Jika saja satu orang mau mempromosikan satu destinasi wisata, berapa keuntungan yang bisa didapatkan Indonesia. Keuntungan itu juga akan berpengaruh dalam kehidupannya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Tentunya hal semacam itu tidak dapat muncul dengan sendirinya. Perlu banyak pihak untuk terlibat. Pemerintah perlu meningkatkan literasi media bagi masyarakat Indonesia. Bukan hanya aturan dan regulasi yang terus dibuat. Namun edukasi akan lebih penting untuk sekarang ini. Salah satu komika kenamaan Indonesia, Pandji Pragiwaksono berujar bahwa pendewasaan akan lebih penting dari sekedar aturan yang dibuat.

Mari kita mulai dari diri kita untuk berani berbuat lebih untuk Indonesia. Dengan memanfaatkan media yang ada, kita sebarkan cerita tentang keindahan dan keberagaman Indonesia.


Sumber: we are social

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Belajar Toleransi dari Suku Tengger Sebelummnya

Belajar Toleransi dari Suku Tengger

Bagaimana Nasib Ponsel Ilegal di Indonesia? Ini bocoran Aturan dari Kemenkominfo! Selanjutnya

Bagaimana Nasib Ponsel Ilegal di Indonesia? Ini bocoran Aturan dari Kemenkominfo!

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.