Perkembangan industri manufaktur yang terus terjadi di Indonesia mengakibatkan meningkatnya tingkat hidup masyarakat. Namun peningkatan ini juga berdampak pada peningkatan limbah industri yang berbahaya bagi lingkungan. Seperti logam berat kromium yang banyak digunakan dalam industri otomotif. Padahal otomotif merupakan salah satu produk yang sangat dibutuhkan bagi masyarakat kelas menengah atas di Indonesia. 

Menyadari permasalahan tersebut sejumlah mahasiswa dari Universtias Brawijaya (UB) berusaha mencari solusi untuk membuat limbah kromium menjadi lebih ramah lingkungan. Sebab jika limbah kromium dibiarkan begitu saja, limbah ini akan bisa memberikan dampak negatif pada kesehatan makhluk hidup. 

Seperti dikutip dari Prasetya UB, para mahasiswa tersebut berasal dari Teknik Kimia UB yakni Indah Feliana, Joshia Christa Pradana, dan Philio Valerino dengan Dosen pembimbingnya A.S. Dwi Saptati M.T yang merancang metode penyerapan limbah kromium menggunakan silika limbah abu ampas tebu. Lewat ampas tebu ini logam berat kromium diklaim mampu lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan metode umumnya yakni dengan penyerapan yang sangat sulit untuk diregenerasi. 

Ide ini mereka ajukan dalam Pekan Kreativitas Mahasiswa dan telah memperoleh pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti). 

“Kami memilih abu ampas tebu sebagai sumber silika karena kandungan silika pada abu ampas tebu yang cukup tinggi, selain itu juga hingga saat ini abu ampas tebu kurang begitu dimanfaatkan. Padahal jumlah abu ampas tebu hasil sisa pengolahan tebu pada industri gula sangat melimpah. Di Indonesia sendiri dapat mencapai 10,2 juta ton pertahun,” kata Joshia Christa Pradana (Teknik Kimia 2015).

Sementara itu Philio Valerino (Teknik Kimia 2016), sebagai anggota tim, menjelaskan bahwa penelitian ini berusaha memperoleh ekstraksi silika dari abu ampas tebu berupa natrium silikat. Senyawa inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk membuat magnetit bersalut silika melalui metode elektrodeposisi. Elektrodeposisi sendiri merupakan pengendapan logam pada katoda selama elektrolisis. Hasil dari penelitian ini yaitu magnetit bersalut silika dapat menyerap logam kromium sebanyak 57%.

“Kami berharap penelitian ini bisa menjadi alternatif pada unit pengolahan limbah dalam industri kimia, khususnya dalam pengolahan limbah logam kromium sehingga limbah ini tidak membahayakan lingkungan dan makhluk hidup serta pertumbuhan industri kimia juga tidak terhambat,” ujar Indah Feliana (Teknik Kimia 2016), selaku ketua tim.

Menariknya solusi yang dibuat oleh mahasiswa UB ini merupakan variasi lain dari solusi untuk "menjinakkan" limbah kromium yang telah ada. Seperti misalnya yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang berusaha mengurangi tingkat toksisitas kromium menggunakan bakteri. 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu