Oleh: Ahmad Cholis Hamzah*

 Menjelang hari Kemerdekaan RI ke 73 marilah kita melakukan refleksi diri perjalanan bangsa Indonesia.  Usia 73 tahun bagi suatu bangsa adalah usia yang matang untuk menjadi bangsa yang besar. Sebagai bangsa yang besar tentu kematangan kejiwaan masing-masing penduduknya merupakan hal yang penting. Sebagai bangsa besar yang berdemokrasi-maka rakyat Indonesia harus lah matang untuk mau menghargai pendapat sesama meskipun berbeda.

Saat Pilgub DKI Jakarta ketika pertentangan antara Ahok vs Anies, telah membuat bangsa ini nyaris terpecah – it has divided the nation. Masing-masing pendukungnya agak sulit menerima perbedaan bahkan sampai seorang mertua tidak menyapa menantu nya karena perbedaan aspirasi politik di Pilgub itu. Hal itu bisa merembet ke tempat lain, padahal perlu diingat bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta, Indonesia itu juga Aceh, Ambon, NTT, NTB, Padang, Jogya dst dst. Pilgub DKI itu akhirnya membuat kelompok-kelompok antara “Kita” dan “Mereka” antara”We and They”.

Coba kita belajar dari sejarah masa lalu bangsa kita; bagaimana besar dan arif nya jiwa para tokoh-tokoh kita untuk menghargai sesama walau berbeda pendapat.

Majalah NU lama tahun 1937 milik almarhum Aba saya, di halaman pertamanya memuat berita tentang wafatnya Dr. Sutomo dimana disitu dijelaskan sikap NU terhadap tokoh yang berbeda pendapat dengan NU, Saya kutip – dengan menggunakan bahasa Indonesia ejaan lama (dimana Oe= U; Tj= C; Dj= J, Nj= Ny, J= Y):

 Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

PEMIMPIN NASIONAL T. Dr. SOETOMO WAFAT.

“Pada hari senen sore djam 4.30 tanggal 30 mei 1938 baroe2 ini telah wafat toean Dr. Soetomo, pemimpin besar nasional Indonesia kita, dan di koeboer pada 1 juni tempatnja di G.N.I Soerabaja.

Walaupoen dalam satoe doea hal, tindakan dan faham toen Dr. terseboet koerang memoeaskan pada kita, dan kadang2 mengetjiwakannja, akan tetapi kita ra’yat Indonesia, tidak boleh meloepakan atas djasa2 beliau jang besar, djasa beliau jang ditoedjoekan untuk bangsa dan noesa bangsa Indonesia, maka merasa atau tidak, kita berhoetang boedi padanja; teroetama pada berdirinya Nahdl. Oelama dahoeloe……….. 

Soenggoeh patoet djikalau kawan2 kita kaum Nahdlatoel Oelama bersama2 mengadakan sembhjang ghoib dan tahlil oentoek roach pemimpin besar itoe”

 (Majalah itu memuat susunan Dewan Redaksi – dalam bahasa aslinya tertulis:

Mede Redacteur J.M K.H.Hhasim Asj’ari Teboeireng Djombang

J.M. K.H.. Abdulwahab Chasboellah Soerabaja

J.M. K.H.. Bisri Denajar Djombang

Redakteuren: K.H.  Eljas, Banyoe Oerip Pekalongan dan K.H. A. Wahid Teboeireng Djombang

 (Note: T= Tuan, J.M= Yang Mulia)

Tokoh Muhammadyah, Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) seorang ulama besar, sastrawan dan pejuang, orang Minang yang menulis “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” (sudah difilmkan) memiliki pandangan politik berbeda, dengan Bung karno, pada tahun 64-66 ditahan atas perintah Bung Karno karena dituduh melanggar UU Anti Subversif Pempres no 11. Jaman Suharto beliau bebas. 

Buya Hamka dan Soekarno | sketsanews.com
Buya Hamka dan Soekarno | sketsanews.com

Pada tanggal 16 Juni 1970 ajudan Suharto Mayjen Suryo datang ke rumah Buya memberitahukan kalau Bung Karno wafat dan memberi tahu pesan terakhirnya: “Bila aku  mati kelak, minta kesediaan HAMKA untuk menjadi imam shalat jenazahku”. Dan Buya –tanpa dendam bersedia menjadi imam Sholat jenazah Bung Karno – tokoh yang berseberangan politik denga nya di Wisma Yaso Jakarta.

Tokoh lain yang bisa belajar darinya adalah Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan yang terkenal selalu memakai baju batik dari Indonesia, pada tahun 1964 dihukum seumur hidup oleh rejim kulit putih di penjara pulau Robben, sebuah pulau kecil di samudra atlantik seperti penjara Alcatraz di teluk San Fransisco Amerika Serikat. Ketika beliau dibebaskan pada tahun 1990 dalam pidatonya berkata: “we should walk the last mile together”, dan terkenal dengan ucapannya “Forgive but not Forgotten” (Memaafkan tapi tidak melupakan sejarah). Dengan ucapan2 itu Nelson Mandela tidak meminta rakyatnya melampiaskan dendam pada bangsa kulit putih; tapi meminta  rekonsiliasi.

Nelson Mandela | Foto dari: South African History Archive
Nelson Mandela | Foto dari: South African History Archive

Dalam agama Islam kita mengenal empat Madzab atau “School of Thoughts” yaitu Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Hanafi dan Imam Syafii. Keempat Muslim scholars atau ulama tersebut memiliki perbedaan tajam satu sama lain dalam menginterpretasikan ajaran Islam yang bersumber dari Al qur’an dan Hadist Nabi. Toh mereka tidak meng kafirkan satu sama lain bahkan Ahmad bin al Laits berkata “ Aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata: Aku benar2 mendoakan Syafii dalam shalatku selama 40 th, aku berdoa  Ya Allah ampunilah diriku dan orang tuaku dan Muhammad bin Idris Syafi’I”. Bayangkan Imam Hambali mendoakan tokoh yang berbeda pandangan dengannya selama 40 tahun dalam shalatnya, bukan 4 tahun..!!!

Contoh suri tauladan para tokoh masa lalu diatas, selayaknya menjadi pelajaran bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaan. Perbedaan politik –apalagi kepentingan politik jangka pendek janganlah menjadikan NKRI ini pecah, menciptakan kelompok “Kami” dan “Mereka”. Dahulu Bung Karno berbeda dengan paham dengan Bung Hatta- tapi keduanya tidak ingin republik ini hancur gara-gara berbeda pandangan politik.

Kalau kita mengaku sebagai bangsa besar, maka kita harus menerima perbedaan. Bukankan Republik Indonesia ini kokoh karena terdiri dari perbedaan suku bangsa, suku bahasa, dan agama?; bukankah keragamaan hayati (bio diversity) itu membuat lingkungan hidup kita indah?

MERDEKA!!!

*Alumni Unair dan University of London

Staff Khusus Rektor Unair bidang

Internasional dan

Authorized Author of GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu