Meng-GEMBALA Bersama Masyarakat Alor.......... di Pesisir!

Meng-GEMBALA Bersama Masyarakat Alor.......... di Pesisir!
info gambar utama

Kekayaan alam Indonesia yang beragam rupanya, harus pula diikuti oleh penjagaan dan pelestarian yang tepat dan berkelanjutan oleh masyarakat setempat, pemerintah dan juga pelaku bisnis dan usaha.

Berbagai tradisi dan kearifan lokal yang dijaga masyarakat sebenarnya juga merupakan wujud kepedulian masyarakat setempat akan lingkungan, yang turun temurun diwariskan dari leluhur mereka.

Tak jarang juga lembaga-lembaga konservasi dan pecinta alam lainnya turut mengajak masyarakat setempat untuk mengedukasi dan melestarikan lingkungan hidup sekitar mereka. Tentunya merawat alam dengan baik, maka alam akan mengembalikan kebaikan tersebut kepada kita juga.

Dusun Batu Putih, Alor, Nusa Tenggara Timur, dikenal sebagai penambang batu dari terumbu karang yang sudah mati, yang dapat digunakan baik sebagai bahan bangunan rumah pribadi mau pun untuk dijual.

Potensi ekonomi ternyata disadari oleh masyarakat dapat berasal dari sektor pariwisata terumbu karang wilayah perairan Batu Putih yang cukup bagus. Terutama ternyata budidaya ikan dan rumput laut juga jauh lebih besar pendapatannya daripada menambang batu dan pasir.

Pada 13 Agustus 2018 lalu, masyarakat dusun Batu Putih, Alor, bergotong royong mengadakan Gerakan Mengembalikan Batu ke Laut atau disingkat menjadi GEMBALA. I Made Dharmawijaya, perwakilan WWF-Indonesia, bersama anggota DPRD Alor, Denny Lalitan dan Dinas Kelautan Perikanan Alor, Universitas Tribuana Kalabahi serta Dinas Pariwisata Alor berkumpul bersama mengembalikan batu-batu ke laut.

Batu dikembalikan dengan cara dikumpulkan oleh masyarakat, lalu dimobilisasi ke laut menggunakan perahu motor untuk kemudian dilemparkan ke perairan dan dirapihkan oleh para penyelam setempat di dasar laut dengan disusun bertingkat berdimensi 3 x 1.5 x 0.5 meter membentuk susunan batu atau rock pile.

Dilansir WWF-Indonesia, Rock pile merupakan salah satu metode rehabilitasi terumbu karang secara alami. Penyusunan batu bertujuan untuk memberikan substrat bagi menempelnya anakan (juvenile) biota karang dan biota bentik lainnya. Seperti kita ketahui bahwa terumbu karang adalah rumah bagi para ikan dan biota laut lainnya.

Rock pile ini dapat menjadi cikal bakal terbentuknya ekosistem baru perairan Alor dalam waktu kurang lebih dua tahun. Cara alami ini sekaligus menjadi ajang interaksi antar masyarakat dan ajang edukasi mengenai pelestarian alam laut kepada masyarakat, sehingga dapat meminimalisir penambangan batu atau terumbu karang mati.

Hal ini menjadi bukti perlunya pemerintah untuk melihat alternatif potensi ekonomi yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan karakter wilayah masing-masing. Indonesia memang negara yang serba ada!

Yuk, coba cari tahu alternatif lain dalam menjaga lingkungan, misalnya dengan membiasakan dan menggalakkan kampanye naik kendaraan umum.


Sumber: WWF.or.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini